Pria Penyelamat Biden di Afghanistan Tahun 2008 Kabur dari Taliban

Rabu, 13 Oktober 2021 - 01:14 WIB
loading...
Pria Penyelamat Biden...
Aman Khalili (tiga dari Kanan), pria Afghanistan yang selamatkan Presiden AS Joe Biden di Afghanistan tahun 2008, telah melarikan diri dari Taliban. Foto/Safi Rauf/Human First Coalition
A A A
KABUL - Seorang pria penerjemah yang membantu menyelamatkan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden dalam badai salju tahun 2008 di Afghanistan telah melarikan diri dari Taliban yang berkuasa di negara itu.

Pria bernama Aman Khalili itu kabur bersama keluarganya setelah bersembunyi dari Taliban selama berminggu-minggu.

Baca juga: Turki: Jet Tempur Siluman F-35 AS Pilihan Pertama, F-16 Alternatif

Departemen Luar Negeri AS pada hari Senin (11/10/2021) mengonfirmasi bahwa Khalili dan keluarganya telah diterbangkan ke Qatar dengan bantuan pemerintah Amerika dan organisasi nirlaba.

Setelah menyeberang ke Pakistan melalui jalur darat, Khalili dan keluarganya terbang dengan pesawat pemerintah AS ke Doha, Qatar, tempat ribuan pengungsi dari Afghanistan sedang diproses oleh pejabat AS untuk beremigrasi ke Amerika.

The Wall Street Journal melaporkan sebelumnya bahwa Khalili, istri dan lima anaknya tidak dapat melarikan diri dalam penerbangan darurat Agustus lalu setelah pengambilalihan kekuasaan oleh Taliban.

Sejak itu, mereka bersembunyi selama berminggu-minggu untuk menghindari penangkapan oleh pasukan Taliban. Mereka secara perlahan menyelinap masuk ke Pakistan.

Pada tahun 2008 Khalili bekerja sebagai penerjemah untuk pasukan AS ketika Biden, yang saat itu menjabat sebagai senator, dua anggota Parlemen Amerika lainnya, Chuck Hagel dan John Kerry, mengunjungi Afghanistan.

Ketika badai salju memaksa helikopter mereka mendarat di daerah terpencil, Khalili bergabung dengan Pasukan Reaksi Cepat militer kecil yang melaju dari Pangkalan Udara Bagram ke pegunungan untuk menyelamatkan mereka.

Baca juga: Mantan Bos Mossad: Israel Harus Mengebom Reaktor Nuklir Iran

Sekitar 13 tahun kemudian, Khalili tidak bisa mendapatkan aplikasinya untuk beremigrasi ke Amerika Serikat yang diproses tepat waktu untuk dievakuasi ketika Taliban merebut kekuasaan.

"Halo Tuan Presiden: Selamatkan saya dan keluarga saya," katanya seperti dikutip WallStreet Journal pada akhir Agustus lalu, ketika evakuasi udara sekitar 120.000 orang yang melarikan diri dari negara itu berakhir.

Sebagai tanggapan, Juru Bicara Gedung Putih Jen Psaki mengatakan pemerintah akan membantunya.

“Kami akan mengeluarkan Anda. Kami akan menghormati layanan Anda," katanya.

Setelah evakuasi udara berakhir, Khalili dan keluarganya bersembunyi di sebuah rumah persembunyian di Kabul, dengan bantuan warga Afghanistan-Amerika dan veteran AS.

Tidak dapat naik pesawat pengungsi dari Mazar-i-Sharif, sebagian karena mereka tidak memiliki paspor Afghanistan, Khalili dan keluarganya melakukan perjalanan darat secara diam-diam selama dua hari ke perbatasan Pakistan, yang mereka lewati pada 5 Oktober.

The Wall Street Journal melaporkan bahwa Departemen Luar Negeri AS sedang mempercepat rencana untuk menyediakan keluarganya dengan visa imigrasi khusus untuk pergi ke Amerika Serikat.
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
AS Kerahkan Sistem Rudal...
AS Kerahkan Sistem Rudal Canggih Typhon ke Jepang, Dapat Menargetkan China
Gunakan Mode Autopilot,...
Gunakan Mode Autopilot, Mobil Tesla Ini Malah Tabrak Rumah dan Tewaskan Penghuninya
Mengejutkan, 92% Warga...
Mengejutkan, 92% Warga Israel Yakin Iran Telah Menang Perang
Perundingan Iran-AS...
Perundingan Iran-AS Hasilkan 4 Kesepakatan Utama, Negosiator Teheran Sempat Walkout
Jenderal Iran Peringatkan...
Jenderal Iran Peringatkan Pasukan Israel: Tinggalkan Lebanon atau Diusir Secara Memalukan!
Pertama Kalinya, China...
Pertama Kalinya, China Pamer Peluncuran Rudal Hipersonik Dongfeng-17 sebagai Pesan untuk AS
Janji Manis Investasi...
Janji Manis Investasi Rp5.323 Triliun di Balik Kesepakatan Damai AS-Iran
CDC: Wabah Ebola di...
CDC: Wabah Ebola di RD Kongo Bisa Menjadi yang Terburuk dalam Sejarah
Wapres JD Vance: Israel...
Wapres JD Vance: Israel Berusaha Pengaruhi Kebijakan Politik AS
Rekomendasi
Kuasa Hukum Roy Suryo...
Kuasa Hukum Roy Suryo dan Dokter Tifa Pertanyakan Penahanan: Razman Saja Tak Ditahan
Rosan Lapor Prabowo...
Rosan Lapor Prabowo soal Perampingan 258 BUMN, 300 Pelat Merah Lain Menyusul
Roy Suryo Kenakan Batik...
Roy Suryo Kenakan Batik Motif Garuda dan Kepalkan Tangan saat Tiba di Rutan Polda Metro
Berita Terkini
9 Kota di Mana Matahari...
9 Kota di Mana Matahari Hampir Tidak Pernah Terbenam atau Terbit saat Musim Panas
AS Kerahkan Sistem Rudal...
AS Kerahkan Sistem Rudal Canggih Typhon ke Jepang, Dapat Menargetkan China
Ledakan Dahsyat Guncang...
Ledakan Dahsyat Guncang Situs LNG Qatar, 54 Orang Terluka, 18 Hilang
Gunakan Mode Autopilot,...
Gunakan Mode Autopilot, Mobil Tesla Ini Malah Tabrak Rumah dan Tewaskan Penghuninya
Mengejutkan, 92% Warga...
Mengejutkan, 92% Warga Israel Yakin Iran Telah Menang Perang
Perundingan Iran-AS...
Perundingan Iran-AS Hasilkan 4 Kesepakatan Utama, Negosiator Teheran Sempat Walkout
Infografis
7 Perang Besar di Selat...
7 Perang Besar di Selat Malaka, dari Jalur Rempah hingga Medan Tempur Kekuatan Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved