Penyiar TV Wanita Pertama yang Wawancarai Taliban Kabur dari Afghanistan
Sabtu, 04 September 2021 - 09:38 WIB
loading...
A
A
A
“Saya melihat mereka datang [ke stasiun televisi Tolo News]. Saya kaget, saya kehilangan kendali...Saya berkata pada diri sendiri bahwa mungkin mereka datang untuk bertanya mengapa saya datang ke studio,” kenangnya.
Terlepas dari keterkejutannya, Arghand—yang telah menjadi presenter di saluran berita Afghanistan selama lebih dari sebulan—telah menyesuaikan jilbabnya, memeriksa pakaiannya untuk memastikan tidak ada bagian tubuhnya yang terlihat dan mulai melontarkan pertanyaannya. Dia mendapat pujian untuk interaksi yang tenang dan saat itu kemudian digambarkan sebagai hal "tak terbayangkan" dibandingkan dengan ketika Taliban terakhir memerintah Afghanistan dari 1996 hingga 2001, ketika perempuan tidak diberi kemampuan untuk belajar, bekerja atau bahkan pergi sendiri.
Tetapi Arghand mengatakan bahwa di luar kamera, fasad moderat Taliban segera runtuh, dan di hari-hari berikutnya hidupnya berubah menjadi mimpi buruk. Taliban memerintahkan Tolo News untuk membuat semua wanita mengenakan jilbab, syal yang menutupi kepala mereka tetapi membiarkan wajahnya terbuka. Taliban juga menangguhkan penyiar wanita di stasiun lain.
Dia mengatakan kelompok militan Islam itu meminta media lokal untuk berhenti berbicara tentang pengambilalihan dan kekuasaan mereka. “Bila Anda tidak dapat [bahkan] mengajukan pertanyaan yang mudah, bagaimana Anda bisa menjadi seorang jurnalis?” tanya Arghand.
Baca juga: Pernah Penjarakan Anggota Taliban, Hakim Wanita Afghanistan Diburu
Dia mengatakan banyak rekan jurnalis perempuannya telah meninggalkan negara itu meskipun ada jaminan Taliban bahwa kebebasan media meningkat setiap hari dan bahwa perempuan akan memiliki akses ke pendidikan dan pekerjaan. Saat dia melihat situasi di stasiun beritanya memburuk untuk wanita, Arghand merasa terlalu berisiko baginya untuk tetap tinggal di Afghanistan.
Dia, bersama Ibu, saudara perempuan dan saudara laki-lakinya, berhasil mengatur evakuasi ke Qatar dengan bantuan Malala Yousafzai, gadis pemenang hadiah Nobel yang selamat setelah ditembak kepalanya oleh seorang pria bersenjata Taliban Pakistan pada tahun 2012 karena kampanyenya untuk pendidikan perempuan dan anak perempuan.
Terlepas dari keterkejutannya, Arghand—yang telah menjadi presenter di saluran berita Afghanistan selama lebih dari sebulan—telah menyesuaikan jilbabnya, memeriksa pakaiannya untuk memastikan tidak ada bagian tubuhnya yang terlihat dan mulai melontarkan pertanyaannya. Dia mendapat pujian untuk interaksi yang tenang dan saat itu kemudian digambarkan sebagai hal "tak terbayangkan" dibandingkan dengan ketika Taliban terakhir memerintah Afghanistan dari 1996 hingga 2001, ketika perempuan tidak diberi kemampuan untuk belajar, bekerja atau bahkan pergi sendiri.
Tetapi Arghand mengatakan bahwa di luar kamera, fasad moderat Taliban segera runtuh, dan di hari-hari berikutnya hidupnya berubah menjadi mimpi buruk. Taliban memerintahkan Tolo News untuk membuat semua wanita mengenakan jilbab, syal yang menutupi kepala mereka tetapi membiarkan wajahnya terbuka. Taliban juga menangguhkan penyiar wanita di stasiun lain.
Dia mengatakan kelompok militan Islam itu meminta media lokal untuk berhenti berbicara tentang pengambilalihan dan kekuasaan mereka. “Bila Anda tidak dapat [bahkan] mengajukan pertanyaan yang mudah, bagaimana Anda bisa menjadi seorang jurnalis?” tanya Arghand.
Baca juga: Pernah Penjarakan Anggota Taliban, Hakim Wanita Afghanistan Diburu
Dia mengatakan banyak rekan jurnalis perempuannya telah meninggalkan negara itu meskipun ada jaminan Taliban bahwa kebebasan media meningkat setiap hari dan bahwa perempuan akan memiliki akses ke pendidikan dan pekerjaan. Saat dia melihat situasi di stasiun beritanya memburuk untuk wanita, Arghand merasa terlalu berisiko baginya untuk tetap tinggal di Afghanistan.
Dia, bersama Ibu, saudara perempuan dan saudara laki-lakinya, berhasil mengatur evakuasi ke Qatar dengan bantuan Malala Yousafzai, gadis pemenang hadiah Nobel yang selamat setelah ditembak kepalanya oleh seorang pria bersenjata Taliban Pakistan pada tahun 2012 karena kampanyenya untuk pendidikan perempuan dan anak perempuan.
Lihat Juga :