Marahnya China saat AS Jual Senjata Besar-besaran ke Taiwan
Jum'at, 06 Agustus 2021 - 10:25 WIB
loading...
Para tentara Taiwan mengoperasikan sistem artileri Howitzer buatan Amerika Serikat. Foto/REUTERS/Pichi Chuang
A
A
A
BEIJING - Pemerintah China melontarkan kemarahannya setelah Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengumumkan persetujuannya untuk menjual senjata besar-besaran kepada Taiwan. Beijing bersumpah mengambil tindakan yang menurutnya sah sebagai respons.
“Taiwan adalah bagian tak terpisahkan dari wilayah China. Amerika Serikat ikut campur dalam urusan dalam negeri China dan merusak kedaulatan dan kepentingan keamanan China dengan menjual senjata ke wilayah Taiwan,” kata Kementerian Luar Negeri China dalam sebuah pernyataan hari Kamis.
Baca juga: AS Setuju Jual Artileri dan Kit Bom Pinter Rp10,7 Triliun ke Taiwan
“Itu bertentangan dengan hukum internasional dan prinsip-prinsip dasar dalam hubungan internasional, dan melanggar prinsip dan ketentuan satu-China dari tiga komunike bersama China-AS, terutama Komunike 17 Agustus,” lanjut kata kementerian itu, yang dikutip dari Global Times, Jumat (6/8/2021).
"Itu mengirimkan sinyal yang salah untuk pasukan separatis 'kemerdekaan Taiwan', dan sangat membahayakan hubungan China-AS serta perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan," imbuh kementerian tersebut.
Kementerian itu menambahkan; "China akan dengan tegas mengambil tindakan pencegahan yang sah dan diperlukan sehubungan dengan perkembangan situasi.”
China menganggap Taiwan sebagai provinsinya yang memberontak, dan dalam tiga komunike bersama yang dikeluarkan oleh AS dan China antara tahun 1972 hingga 1982 sebagai bagian dari normalisasi hubungan mereka, AS menyetujui posisi Beijing.
“Taiwan adalah bagian tak terpisahkan dari wilayah China. Amerika Serikat ikut campur dalam urusan dalam negeri China dan merusak kedaulatan dan kepentingan keamanan China dengan menjual senjata ke wilayah Taiwan,” kata Kementerian Luar Negeri China dalam sebuah pernyataan hari Kamis.
Baca juga: AS Setuju Jual Artileri dan Kit Bom Pinter Rp10,7 Triliun ke Taiwan
“Itu bertentangan dengan hukum internasional dan prinsip-prinsip dasar dalam hubungan internasional, dan melanggar prinsip dan ketentuan satu-China dari tiga komunike bersama China-AS, terutama Komunike 17 Agustus,” lanjut kata kementerian itu, yang dikutip dari Global Times, Jumat (6/8/2021).
"Itu mengirimkan sinyal yang salah untuk pasukan separatis 'kemerdekaan Taiwan', dan sangat membahayakan hubungan China-AS serta perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan," imbuh kementerian tersebut.
Kementerian itu menambahkan; "China akan dengan tegas mengambil tindakan pencegahan yang sah dan diperlukan sehubungan dengan perkembangan situasi.”
China menganggap Taiwan sebagai provinsinya yang memberontak, dan dalam tiga komunike bersama yang dikeluarkan oleh AS dan China antara tahun 1972 hingga 1982 sebagai bagian dari normalisasi hubungan mereka, AS menyetujui posisi Beijing.
Lihat Juga :