Pidato Hari Quds Khamenei: Bela Palestina, Sebut Israel ‘Tumor Ganas’
Jum'at, 22 Mei 2020 - 17:01 WIB
loading...
A
A
A
Munculnya pasukan Mukmin, muda dan penuh pengorbanan seperti Hizbullah di Lebanon dan pembentukan kelompok-kelompok penuh motivasi seperti Hamas dan Jihad Islam di dalam perbatasan-perbatasan Palestina tidak hanya membuat khawatir para pemimpin Zionis, tetapi juga membuat cemas Amerika Serikat dan Barat. Mereka kemudian memprioritaskan upaya untuk meraih dukungan dari dalam kawasan, terutama komunitas Arab dalam agendanya setelah memberikan dukungan perangkat keras dan lunak kepada rezim agresor Zionis. Buah kerja keras mereka hari ini terlihat jelas dalam perilaku dan ucapan beberapa pemimpin negara-negara Arab dan sejumlah aktivis politik dan budaya Arab yang berkhianat.
Kini berbagai kegiatan dilakukan kedua kubu di medan perang, namun terdapat perbedaan. Front Muqawama bergerak ke arah peningkatan ketangguhan dan optimismenya, juga menyerap unsur-unsur kekuatan yang semakin tumbuh. Tapi sebaliknya, Front lalim, kafir dan arogan kian hari semakin lemah dan putus asa. Indikasi yang jelas dari klaim ini adalah kondisi militer Zionis, yang pernah dianggap sebagai pasukan tak terkalahkan dan mampu menghentikan pasukan besar dua negara penyerang hanya dalam beberapa hari, kini terpaksa harus mundur dan mengakui kekalahannya ketika menghadapi pasukan pejuang rakyat di Lebanon dan Jalur Gaza.
Meskipun demikian, perjuangan penting dan dinamis ini membutuhkan perawatan konsisten, karena subjek perjuangan ini sangat penting, menentukan, dan vital. Oleh karena itu, setiap kelalaian dan kesalahan dalam kalkulasi dasar akan menimbulkan kerugian besar.
Berdasarkan pertimbangan ini, saya akan menyampaikan poin-poin penting kepada semua orang yang mendukung perjuangan Palestina.
Pertama, perjuangan untuk pembebasan Palestina adalah jihad di jalan Allah dan kewajiban dalam Islam. Kemenangan dalam perjuangan ini dijamin, karena jikapun gugur, akan meraih tempat terbaik dan mulia.
Selain itu, masalah Palestina adalah masalah kemanusiaan. Pengusiran terhadap jutaan orang dari rumah mereka, lahan pertanian dan tempat tinggal serta mata pencahariannya yang dilakukan dengan pembunuhan dan kejahatan, pasti akan menyakiti setiap hati nurani manusia; dan siapapun yang memiliki keberanian pasti akan menghadapinya. Oleh karena itu, membatasi masalah ini hanya pada isu Palestina semata, ataupun masalah Arab tentu saja merupakan kesalahan besar.
Mereka yang menganggap langkah kompromis beberapa elemen Palestina atau para penguasa sejumlah negara Arab dengan rezim Zionis sebagai legitimasi untuk mengabaikan masalah Islam dan kemanusiaan ini jelas sangat keliru dalam memahami masalah tersebut, dan termasuk pengkhianatan dengan mendistorsi persoalannya.
Kedua, tujuan dari perjuangan ini adalah pembebasan seluruh wilayah Palestina dari laut ke sungai, dan kembalinya semua warga Palestina ke tanah air mereka. Mereduksi masalah ini melalui pembentukan pemerintahan di sudut wilayah ini yang dilakukan dengan cara memalukan, sebagaimana dimaksud dalam literatur Zionis yang kasar, jelas sekali bukanlah tanda kebenaran maupun tindakan yang realistis.
Faktanya, kini jutaan orang Palestina telah mencapai tingkat kematangan pemikiran dan pengalaman serta kepercayaan diri yang menjadikan jihad besar sebagai spiritnya untuk meraih kemenangan akhir dengan bersandar pada pertolongan ilahi, sebagaimana ditegaskan dalam ayat al-Quran,
وَلَيَنصُرَنَّ اللَّـهُ مَن يَنصُرُهُ إِنَّ اللَّـهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ
"Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa".
Ketiga, meskipun diizinkan untuk mengambil keuntungan dari segala cara yang sah dan halal dalam perjuangan ini, termasuk meraih dukungan global, tapi kita harus menghindari untuk menggantungkan harapan secara lahir maupun batin dengan mempercayai negara-negara Barat maupun komunitas dunia afiliasinya.
Mereka memusuhi eksistensi Islam yang berpengaruh, mereka mengabaikan hak-hak manusia dan bangsa-bangsa, mereka sendiri telah menyebabkan kerusakan dan kejahatan terbesar bagi umat Islam; kini lembaga global ataupun kekuatan kriminal mana yang saat ini bertanggung jawab atas terjadinya pembunuhan, pembantaian, perang, pemboman dan kelaparan buatan di sejumlah negara Muslim dan Arab?
Kini, publik dunia terus menghitung jumlah korban virus Corona satu persatu di seluruh penjuru dunia, tetapi tidak ada yang pernah bertanya siapa yang bertanggung jawab atas jatuhnya korban ratusan ribu martir dan tawanan di negara-negara tempat Amerika Serikat dan Eropa mengobarkan api perang. Siapa yang bertanggung jawab atas semua pertumpahan darah di Afghanistan, Yaman, Libya, Irak, Suriah, dan negara-negara lainnya? Siapa yang bertanggung jawab atas semua kejahatan, perampasan, penghancuran, dan penindasan di Palestina?
Mengapa tidak ada yang menghitung jutaan anak-anak yang tertindas, wanita dan pria di dunia Islam? Mengapa tidak ada yang menyampaikan belasungkawa atas pembantaian terhadap umat Islam? Mengapa jutaan orang Palestina harus hidup di dalam pengasingan selama tujuh puluh tahun jauh dari rumah mereka sendiri? Mengapa Quds Sharif, kiblat pertama umat Islam dihina dan dinistakan? Lalu apa fungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang tidak menunaikan tugasnya. Demikian juga dengan lembaga hak asasi manusia yang sudah mati. Tampaknya, slogan "Membela hak-hak anak-anak dan perempuan" tidak termasuk anak-anak dan perempuan yang tertindas di Yaman dan Palestina.
Inilah kondisi ketika kekuatan Barat yang menindas dan komunitas afiliasinya berkuasa di dunia. Beberapa pemerintahan pengekor mereka di kawasan aibnya terbuka dengan kondisi yang lebih buruk lagi. Oleh karena itu, masyarakat yang bersemangat dan religius tertentu harus mengandalkan kekuatan dirinya sendiri, dengan menyingsingkan lengan baju bersama ketawakalan dan keimanan kepada Allah swt untuk menghadapi rintangan yang menghadang.
Keempat, poin penting yang tidak boleh diabaikan oleh elit politik dan militer dunia Islam adalah kebijakan Amerika Serikat dan Zionis dalam mentransfer konflik ke belakang front perlawanan. Pecahnya perang saudara di Suriah, pengepungan militer, pembunuhan sehari-hari di Yaman, pembantaian, penghancuran dan pembentukan kelompok teroris Daesh di Irak, dan kasus-kasus serupa di beberapa negara lain di kawasan; semua itu plot untuk mengalihkan perhatian front perlawanan dan memberi peluang untuk bernafas kepada rezim Zionis.
Beberapa politisi di negara-negara Muslim tidak tahu apa-apa, bahkan ada yang mengamini tipuan musuh. Cara untuk mencegah hal ini adalah gerakan serius dari para pemuda aktif di dunia Islam. Orang-orang muda di semua negara Muslim, terutama di dunia Arab, tidak boleh mengabaikan nasihat Imam Khomeini, yang mengatakan, "Apapun yang Anda teriakan lantang tentang [perlawanan terhadap] Amerika Serikat, dan tentu saja Zionisme."
Kini berbagai kegiatan dilakukan kedua kubu di medan perang, namun terdapat perbedaan. Front Muqawama bergerak ke arah peningkatan ketangguhan dan optimismenya, juga menyerap unsur-unsur kekuatan yang semakin tumbuh. Tapi sebaliknya, Front lalim, kafir dan arogan kian hari semakin lemah dan putus asa. Indikasi yang jelas dari klaim ini adalah kondisi militer Zionis, yang pernah dianggap sebagai pasukan tak terkalahkan dan mampu menghentikan pasukan besar dua negara penyerang hanya dalam beberapa hari, kini terpaksa harus mundur dan mengakui kekalahannya ketika menghadapi pasukan pejuang rakyat di Lebanon dan Jalur Gaza.
Meskipun demikian, perjuangan penting dan dinamis ini membutuhkan perawatan konsisten, karena subjek perjuangan ini sangat penting, menentukan, dan vital. Oleh karena itu, setiap kelalaian dan kesalahan dalam kalkulasi dasar akan menimbulkan kerugian besar.
Berdasarkan pertimbangan ini, saya akan menyampaikan poin-poin penting kepada semua orang yang mendukung perjuangan Palestina.
Pertama, perjuangan untuk pembebasan Palestina adalah jihad di jalan Allah dan kewajiban dalam Islam. Kemenangan dalam perjuangan ini dijamin, karena jikapun gugur, akan meraih tempat terbaik dan mulia.
Selain itu, masalah Palestina adalah masalah kemanusiaan. Pengusiran terhadap jutaan orang dari rumah mereka, lahan pertanian dan tempat tinggal serta mata pencahariannya yang dilakukan dengan pembunuhan dan kejahatan, pasti akan menyakiti setiap hati nurani manusia; dan siapapun yang memiliki keberanian pasti akan menghadapinya. Oleh karena itu, membatasi masalah ini hanya pada isu Palestina semata, ataupun masalah Arab tentu saja merupakan kesalahan besar.
Mereka yang menganggap langkah kompromis beberapa elemen Palestina atau para penguasa sejumlah negara Arab dengan rezim Zionis sebagai legitimasi untuk mengabaikan masalah Islam dan kemanusiaan ini jelas sangat keliru dalam memahami masalah tersebut, dan termasuk pengkhianatan dengan mendistorsi persoalannya.
Kedua, tujuan dari perjuangan ini adalah pembebasan seluruh wilayah Palestina dari laut ke sungai, dan kembalinya semua warga Palestina ke tanah air mereka. Mereduksi masalah ini melalui pembentukan pemerintahan di sudut wilayah ini yang dilakukan dengan cara memalukan, sebagaimana dimaksud dalam literatur Zionis yang kasar, jelas sekali bukanlah tanda kebenaran maupun tindakan yang realistis.
Faktanya, kini jutaan orang Palestina telah mencapai tingkat kematangan pemikiran dan pengalaman serta kepercayaan diri yang menjadikan jihad besar sebagai spiritnya untuk meraih kemenangan akhir dengan bersandar pada pertolongan ilahi, sebagaimana ditegaskan dalam ayat al-Quran,
وَلَيَنصُرَنَّ اللَّـهُ مَن يَنصُرُهُ إِنَّ اللَّـهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ
"Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa".
Ketiga, meskipun diizinkan untuk mengambil keuntungan dari segala cara yang sah dan halal dalam perjuangan ini, termasuk meraih dukungan global, tapi kita harus menghindari untuk menggantungkan harapan secara lahir maupun batin dengan mempercayai negara-negara Barat maupun komunitas dunia afiliasinya.
Mereka memusuhi eksistensi Islam yang berpengaruh, mereka mengabaikan hak-hak manusia dan bangsa-bangsa, mereka sendiri telah menyebabkan kerusakan dan kejahatan terbesar bagi umat Islam; kini lembaga global ataupun kekuatan kriminal mana yang saat ini bertanggung jawab atas terjadinya pembunuhan, pembantaian, perang, pemboman dan kelaparan buatan di sejumlah negara Muslim dan Arab?
Kini, publik dunia terus menghitung jumlah korban virus Corona satu persatu di seluruh penjuru dunia, tetapi tidak ada yang pernah bertanya siapa yang bertanggung jawab atas jatuhnya korban ratusan ribu martir dan tawanan di negara-negara tempat Amerika Serikat dan Eropa mengobarkan api perang. Siapa yang bertanggung jawab atas semua pertumpahan darah di Afghanistan, Yaman, Libya, Irak, Suriah, dan negara-negara lainnya? Siapa yang bertanggung jawab atas semua kejahatan, perampasan, penghancuran, dan penindasan di Palestina?
Mengapa tidak ada yang menghitung jutaan anak-anak yang tertindas, wanita dan pria di dunia Islam? Mengapa tidak ada yang menyampaikan belasungkawa atas pembantaian terhadap umat Islam? Mengapa jutaan orang Palestina harus hidup di dalam pengasingan selama tujuh puluh tahun jauh dari rumah mereka sendiri? Mengapa Quds Sharif, kiblat pertama umat Islam dihina dan dinistakan? Lalu apa fungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang tidak menunaikan tugasnya. Demikian juga dengan lembaga hak asasi manusia yang sudah mati. Tampaknya, slogan "Membela hak-hak anak-anak dan perempuan" tidak termasuk anak-anak dan perempuan yang tertindas di Yaman dan Palestina.
Inilah kondisi ketika kekuatan Barat yang menindas dan komunitas afiliasinya berkuasa di dunia. Beberapa pemerintahan pengekor mereka di kawasan aibnya terbuka dengan kondisi yang lebih buruk lagi. Oleh karena itu, masyarakat yang bersemangat dan religius tertentu harus mengandalkan kekuatan dirinya sendiri, dengan menyingsingkan lengan baju bersama ketawakalan dan keimanan kepada Allah swt untuk menghadapi rintangan yang menghadang.
Keempat, poin penting yang tidak boleh diabaikan oleh elit politik dan militer dunia Islam adalah kebijakan Amerika Serikat dan Zionis dalam mentransfer konflik ke belakang front perlawanan. Pecahnya perang saudara di Suriah, pengepungan militer, pembunuhan sehari-hari di Yaman, pembantaian, penghancuran dan pembentukan kelompok teroris Daesh di Irak, dan kasus-kasus serupa di beberapa negara lain di kawasan; semua itu plot untuk mengalihkan perhatian front perlawanan dan memberi peluang untuk bernafas kepada rezim Zionis.
Beberapa politisi di negara-negara Muslim tidak tahu apa-apa, bahkan ada yang mengamini tipuan musuh. Cara untuk mencegah hal ini adalah gerakan serius dari para pemuda aktif di dunia Islam. Orang-orang muda di semua negara Muslim, terutama di dunia Arab, tidak boleh mengabaikan nasihat Imam Khomeini, yang mengatakan, "Apapun yang Anda teriakan lantang tentang [perlawanan terhadap] Amerika Serikat, dan tentu saja Zionisme."
Lihat Juga :