Sikap Netral Iran di Karabakh Atas Dianggap Untungkan Armenia
Rabu, 21 Oktober 2020 - 01:01 WIB
loading...
Azerbaijan menggunakan howitzer menembakkan artileri ke Armenia. Foto/Anadolu
A
A
A
ANKARA - Sikap netral Iran pada konflik Armenia dan Azerbaijan di Karabakh Atas dianggap menguntungkan pendudukan militer oleh Yerevan.
Pertempuran pecah antara dua republik bekas Soviet pada 27 September, saat Armenia meluncurkan serangan pada pemukiman sipil dan sejak saat itu terus menyerang warga sipil dan pasukan Azerbaijan.
"Keterlibatan pihak ketiga dalam konflik akan mengarah pada keterlibatan Iran. Seperti yang diketahui Baku, mereka tidak menanggapi provokasi Armenia dan tindakan sensitif dengan Rusia dan Iran. Selain itu, intervensi aktif Iran tidak mungkin," ungkap Hakki Uygur, wakil kepala Pusat Studi Iran (IRAM) di ibu kota Ankara, kepada Anadolu Agency.
Menurut dia, “Teheran juga harus mempertimbangkan "garis patahan" sensitif di Iran. Dia menyatakan, Iran tidak akan mengambil langkah yang akan "lebih memprovokasi nasionalisme Turki."
Orang-orang Turki Azerbaijan, yang terkonsentrasi di barat laut Iran di sepanjang perbatasan dengan Turki, Azerbaijan, dan Armenia, diperkirakan merupakan seperempat dari populasi Iran yang hampir 84 juta.
Uygur mengatakan sejumlah rekaman yang diposting di media sosial menunjukkan pengiriman kendaraan dan peralatan militer yang diduga oleh Rusia ke pasukan Armenia melalui Iran. Namun tuduhan itu disangkal oleh Teheran.
"Meskipun kemudian Iran mengatakan bahwa ini adalah truk sipil, kami tahu bahwa truk ini dapat digunakan untuk keperluan militer jika terjadi kemungkinan konflik," katanya. (Baca Juga: Sekjen PBB Desak Armenia dan Azerbaijan Hormati Gencatan Senjata)
Pertempuran pecah antara dua republik bekas Soviet pada 27 September, saat Armenia meluncurkan serangan pada pemukiman sipil dan sejak saat itu terus menyerang warga sipil dan pasukan Azerbaijan.
"Keterlibatan pihak ketiga dalam konflik akan mengarah pada keterlibatan Iran. Seperti yang diketahui Baku, mereka tidak menanggapi provokasi Armenia dan tindakan sensitif dengan Rusia dan Iran. Selain itu, intervensi aktif Iran tidak mungkin," ungkap Hakki Uygur, wakil kepala Pusat Studi Iran (IRAM) di ibu kota Ankara, kepada Anadolu Agency.
Menurut dia, “Teheran juga harus mempertimbangkan "garis patahan" sensitif di Iran. Dia menyatakan, Iran tidak akan mengambil langkah yang akan "lebih memprovokasi nasionalisme Turki."
Orang-orang Turki Azerbaijan, yang terkonsentrasi di barat laut Iran di sepanjang perbatasan dengan Turki, Azerbaijan, dan Armenia, diperkirakan merupakan seperempat dari populasi Iran yang hampir 84 juta.
Uygur mengatakan sejumlah rekaman yang diposting di media sosial menunjukkan pengiriman kendaraan dan peralatan militer yang diduga oleh Rusia ke pasukan Armenia melalui Iran. Namun tuduhan itu disangkal oleh Teheran.
"Meskipun kemudian Iran mengatakan bahwa ini adalah truk sipil, kami tahu bahwa truk ini dapat digunakan untuk keperluan militer jika terjadi kemungkinan konflik," katanya. (Baca Juga: Sekjen PBB Desak Armenia dan Azerbaijan Hormati Gencatan Senjata)
Lihat Juga :