Pilpres Amerika Serikat, Dana Kampanye Biden Lampaui Trump
Senin, 19 Oktober 2020 - 11:15 WIB
loading...
A
A
A
Sementara itu, total belanja kampanye pada pemilu presiden 2020 diproyeksikan bisa mencapai USD11 miliar (Rp162 triliun). Itu lebih tinggi 5% dibandingkan belanja kampanye pada pemilu 2016 lalu.
Kampanye pemilu federal Amerika Serikat (AS) memang sepenuhnya dibiayai uang swasta. Sebagian besar dana itu disediakan oleh donor orang kaya, komite aksi pemilu dan organisasi yang berkepentingan. Kandidat calon presiden (capres) yang kaya akan membiayai kampanyenya sendiri.
AS memiliki program pendaan publik untuk pemilu presiden yang berdiri sejak 1974. Selama dua dekade terakhir, lembaga tersebut telah memainkan peranan penting. Hingga akhir Agustus lalu, sebanyak 2,8 juta orang atau 0,86% dari populasi AS ikut berkontribusi sebesar USD200 atau lebih pada pemilu presiden.
Sekitar USD5 miliar diberikan oleh sebagian kecil rakyat AS. Lebih dari 44.000 orang atau satu perseratur dari 1% rakyat AS 328 juta telah memberikan sumbangan USD10.000 dengan total mencapai USD2,3 miliar. Kemudian, 2.635 orang atau pasangan telah menyumbangkan USD1,4 miliar atau seperlima dari kontribusi kampanye.
“Itu memunculkan kelompok uang gelap yang digunakan untuk mempengaruhi hasil pemilu,” kata Richard Briffault, profesor hukum dari Universitas Columbia. “Mereka tidak mengungkapkan identitas donasi. Mereka umumnya donor elite,” katanya. (Baca juga: Cukupi Nutrisi si Kecil di Masa Pandemi)
Posisi Politik Bunuh Diri Trump
Perfoma Presiden Donald Trump dalam pemilu presiden dianggap menunjukkan tren menurun di tengah berbagai isu miring yang menghantamnya. Mengetahui kemungkinan kekalahannya, Trump pun dianggap melakukan banyak kebijakan yang salah dan strategi kampanye tak bermutu yang justru merugikan dirinya karena melakukan politik bunuh diri.
Kebiasaan mengejek lawan politik pun masih dilakukan pada kampanye yang dihadiri banyak massa di tengah pandemi corona. Dia memperingatkan kalau Demokrat akan mengubah Amerika Serikat (AS) menjadi versi besar dari Venezuela. Dia juga mengejek Joe Biden dari Partai Demokrat berulang kali.
Kampanye pemilu federal Amerika Serikat (AS) memang sepenuhnya dibiayai uang swasta. Sebagian besar dana itu disediakan oleh donor orang kaya, komite aksi pemilu dan organisasi yang berkepentingan. Kandidat calon presiden (capres) yang kaya akan membiayai kampanyenya sendiri.
AS memiliki program pendaan publik untuk pemilu presiden yang berdiri sejak 1974. Selama dua dekade terakhir, lembaga tersebut telah memainkan peranan penting. Hingga akhir Agustus lalu, sebanyak 2,8 juta orang atau 0,86% dari populasi AS ikut berkontribusi sebesar USD200 atau lebih pada pemilu presiden.
Sekitar USD5 miliar diberikan oleh sebagian kecil rakyat AS. Lebih dari 44.000 orang atau satu perseratur dari 1% rakyat AS 328 juta telah memberikan sumbangan USD10.000 dengan total mencapai USD2,3 miliar. Kemudian, 2.635 orang atau pasangan telah menyumbangkan USD1,4 miliar atau seperlima dari kontribusi kampanye.
“Itu memunculkan kelompok uang gelap yang digunakan untuk mempengaruhi hasil pemilu,” kata Richard Briffault, profesor hukum dari Universitas Columbia. “Mereka tidak mengungkapkan identitas donasi. Mereka umumnya donor elite,” katanya. (Baca juga: Cukupi Nutrisi si Kecil di Masa Pandemi)
Posisi Politik Bunuh Diri Trump
Perfoma Presiden Donald Trump dalam pemilu presiden dianggap menunjukkan tren menurun di tengah berbagai isu miring yang menghantamnya. Mengetahui kemungkinan kekalahannya, Trump pun dianggap melakukan banyak kebijakan yang salah dan strategi kampanye tak bermutu yang justru merugikan dirinya karena melakukan politik bunuh diri.
Kebiasaan mengejek lawan politik pun masih dilakukan pada kampanye yang dihadiri banyak massa di tengah pandemi corona. Dia memperingatkan kalau Demokrat akan mengubah Amerika Serikat (AS) menjadi versi besar dari Venezuela. Dia juga mengejek Joe Biden dari Partai Demokrat berulang kali.
Lihat Juga :