Pilpres Amerika Serikat, Dana Kampanye Biden Lampaui Trump
Senin, 19 Oktober 2020 - 11:15 WIB
loading...
A
A
A
“Dia (Biden) tidak memiliki ide tentang apa yang dikatakannya! Bagaimana kamu akan mengalahkan pria itu?” tanya Biden, dilansir Reuters. “Selama bertahun-tahun, dia (Biden) dianggap orang yang bodoh,” tudingnya. (Baca juga: Waspada Politik Uang Jelang Pilkada Serentak)
Isu pesimistis tentang virus corona yang telah menewaskan lebih dari 215.000 orang di AS justru diubah dengan kampanye optimistis ala Trump. Meskipun dirinya sudah terinfeksi virus corona, Trump mengatakan vaksin akan segera datang.
Trump jarang sekali mengatakan program kerja yang akan dilaksanakan jika terpilih kembali selama empat tahun mendatang. Dia hanya mengubah retorika nasionalisme semata. “Kita akan tetap bertarung. Kita akan menang, menang, menang,” paparnya.
Apa yang dilakukan Trump memang sangat kontras dengan strategi Biden yang cenderung menghadirkan kampanye dalam jumlah massa yang sedikit. Namun, Biden lebih populer dibandingkan Biden. Demokrat lebih berkampanye dengan tidak terlalu menonjol dengan penekanan bahwa Presiden Trump bertanggung jawab penuh mengatasi pandemi.
Frustasi kubu kampanye Trump juga ditunjukkan di media sosial, terutama Twitter. Dia selalu menyalahkan media mainstream dan jajak pendapat “palsu” yang selalu memojokkannya. Namun, Trump selalu tampil di Fox News dengan jaringannya. Di saat Trump tidak menyerang jurnalis, dia selalu mengaitkan dengan teori konspirasi sayap kanan. (Lihat videonya: Napi WNA Kabur dari Lapas Tangerang Dtemukan Tewas di Bogor)
David Axelrod, mantan penasehat politik Presiden Barack Obama, mengaku terkejut jika Trump justru menempuh politik bunuh diri. “Trump karena menunjukkan diri dengan reality show yang surealis,” katanya.
Dengan kurang dari 19 hari menuju pemilu presiden, kubu Republik sangat khawatir jika Biden akan memimpin gelombang tsunami menggulung Trump. Kubu Republik di DPR dan Senat kini menunjukkan diri kalau mereka menjaga jarak dengan Trump. Kalaupun Trump masih didukung Republik karena pengaruh aktivits sayap kanan di partai tersebut. (Andika H Mustaqim)
Isu pesimistis tentang virus corona yang telah menewaskan lebih dari 215.000 orang di AS justru diubah dengan kampanye optimistis ala Trump. Meskipun dirinya sudah terinfeksi virus corona, Trump mengatakan vaksin akan segera datang.
Trump jarang sekali mengatakan program kerja yang akan dilaksanakan jika terpilih kembali selama empat tahun mendatang. Dia hanya mengubah retorika nasionalisme semata. “Kita akan tetap bertarung. Kita akan menang, menang, menang,” paparnya.
Apa yang dilakukan Trump memang sangat kontras dengan strategi Biden yang cenderung menghadirkan kampanye dalam jumlah massa yang sedikit. Namun, Biden lebih populer dibandingkan Biden. Demokrat lebih berkampanye dengan tidak terlalu menonjol dengan penekanan bahwa Presiden Trump bertanggung jawab penuh mengatasi pandemi.
Frustasi kubu kampanye Trump juga ditunjukkan di media sosial, terutama Twitter. Dia selalu menyalahkan media mainstream dan jajak pendapat “palsu” yang selalu memojokkannya. Namun, Trump selalu tampil di Fox News dengan jaringannya. Di saat Trump tidak menyerang jurnalis, dia selalu mengaitkan dengan teori konspirasi sayap kanan. (Lihat videonya: Napi WNA Kabur dari Lapas Tangerang Dtemukan Tewas di Bogor)
David Axelrod, mantan penasehat politik Presiden Barack Obama, mengaku terkejut jika Trump justru menempuh politik bunuh diri. “Trump karena menunjukkan diri dengan reality show yang surealis,” katanya.
Dengan kurang dari 19 hari menuju pemilu presiden, kubu Republik sangat khawatir jika Biden akan memimpin gelombang tsunami menggulung Trump. Kubu Republik di DPR dan Senat kini menunjukkan diri kalau mereka menjaga jarak dengan Trump. Kalaupun Trump masih didukung Republik karena pengaruh aktivits sayap kanan di partai tersebut. (Andika H Mustaqim)
(ysw)
Lihat Juga :