Sebanyak 250 Kapal Ikan China Serbu Lepas Pantai Peru Memicu Kemarahan

Sabtu, 26 September 2020 - 05:34 WIB
loading...
Sebanyak 250 Kapal Ikan...
Beberapa kapal yang beroperasi di perairan Amerika Selatan. Foto/Newsbreak
A A A
LIMA - Angkatan Laut Peru memantau armada sekitar 250 kapal penangkap ikan China yang berbondong-bondong memasuki lepas pantai negara itu. Serbuan ratusan kapal China itu memicu kemarahan industri perikanan dalam negeri negara Andes tersebut.

Ratusan kapal penangkap ikan Beijing, yang sebelumnya menangkap cumi-cumi raksasa di dekat Kepulauan Galapagos di lepas pantai Ekuador, terdeteksi minggu ini oleh pasukan Angkatan Laut Peru di lepas pantai negara itu.

(Baca juga : Doni Monardo Ingatkan Penularan Covid-19 Terjadi dari Orang Terdekat )

"Angkatan Laut kami membuat penerbangan berlebih untuk memastikan tidak ada kapal semacam itu dalam cakupan yurisdiksi kami, yang berjarak 200 mil," kata Menteri Pertahanan Jorge Chavez kepada wartawan, Jumat, yang dilansir Reuters, Sabtu (26/9/2020). (Baca: 260 Kapal Penangkap Ikan China Dekati Kepulauan Galapagos, AL Ekuador Siaga )

Komandan Operasi Penjaga Pantai, Laksamana Muda Jorge Portocarrero, mengatakan kepada Reuters bahwa armada tersebut diidentifikasi dan ditemukan setelah penerbangan ketinggian rendah dari pesawat eksplorasi dan kapal patroli antara Minggu hingga Rabu.

“Tidak semuanya di satu tempat, tersebar,” ujarnya seraya menambahkan ada 250-270 kapal. "Kami tidak memiliki bukti bahwa mereka telah memasuki ruang maritim kami." (Baca juga : 10 Jurus Jitu Pilihan Dongkrak Imun Tubuh saat Pandemi Covid-19 )

Kedutaan Besar Amerika Serikat di Lima mengatakan kapal-kapal China itu memiliki sejarah menghindari pelacakan dan sepertinya membuang polutan plastik.

"Penangkapan yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan ekologi dan ekonomi yang sangat besar. Peru tidak mampu menanggung kerugian sebesar itu," kata keduataan AS di Twitter.

Kedutaan Besar China menanggapi bahwa mereka sangat mementingkan perlindungan lingkungan dan laut. "Kami berharap publik Peru tidak tertipu oleh informasi palsu," katanya di Twitter. (Baca juga: Media China Sentil Indonesia karena Menentang Klaim China di Laut China Selatan )

Kementerian Luar Negeri Peru berusaha meredakan ketegangan, dengan mengatakan pihaknya telah menyatakan ketidaknyamanan kepada pejabat AS tentang ketidakakuratan tweet kedutaan AS. Peru adalah produsen tembaga terbesar kedua di dunia, yang sebagian besar dibeli oleh China.

Wakil Menteri Talavera mengatakan dia telah mengatakan kepada para pejabat AS bahwa Peru adalah teman dan mitra dari Amerika Serikat dan China dan meminta mereka untuk menyelesaikan perbedaan mereka melalui dialog, pemahaman dan kerja sama.

Sementara itu, asosiasi perikanan lokal mengatakan penangkapan cumi-cumi raksasa tanpa pandang bulu merugikan industri dalam negeri. Cumi-cumi menyumbang 43 persen dari ekspor perikanan Peru.

"Ini adalah rahasia umum bahwa setiap tahun kapal terutama dari China...dipasang tepat di tepi 200 mil dari Peru untuk mengekstrak sumber daya ini," kata Cayetana Aljovín, presiden Masyarakat Nasional untuk Penangkapan Ikan.

"Dengan mengekstraksi sumber daya yang tidak diatur di perairan tersebut, hal itu dapat berdampak negatif pada ekosistem Peru."

Pemerintah Peru menyetujui undang-undang pada bulan Agustus yang mewajibkan kapal lokal dan asing yang beroperasi di lepas pantainya menggunakan peralatan GPS dan SISESAT, sistem pelacakan satelit untuk kapal.

Portoccarero menyatakan armada kapal China telah hadir di Samudera Pasifik selama bertahun-tahun, mulai dari bagian utara Chile, pesisir Peru hingga dekat Kepulauan Galapagos, tergantung pola migrasi cumi-cumi tersebut.

Dia menambahkan bahwa pada tahun 2004, tiga kapal berbendera China ditangkap di wilayah maritim Peru, setelah operasi dengan kapal selam dan helikopter Angkatan Laut, meskipun armada semacam ini ditemukan di tempat-tempat di seluruh dunia.

"Kami punya satu besar di depan Argentina, satu lagi di utara Brasil, ada beberapa di sekitar Australia, Selandia Baru, Afrika Timur, dan di Samudra Hindia. Ini masalah global," katanya.
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Iran Tolak Pendapat...
Iran Tolak Pendapat Menlu AS Rubio tentang Kesepakatan Damai
Trump Ungkap Turki Siap...
Trump Ungkap Turki Siap Gabung Perang Bersama Iran tapi Dicegah AS
Venezuela Umumkan Keadaan...
Venezuela Umumkan Keadaan Darurat setelah Diguncang 2 Gempa Dahsyat, 32 Orang Tewas
Rugi Besar Akibat Kalah...
Rugi Besar Akibat Kalah Perang, Trump Minta Tambahan Dana Rp1.572 Triliun
Demi Lindungi Negara-negara...
Demi Lindungi Negara-negara Arab, AS Janjikan Perdamaian Abadi dengan Iran
Badan Intelijen AS Kehilangan...
Badan Intelijen AS Kehilangan Akses ke Alat AI Mythos 5, Apa Pemicunya?
Trump Peringatkan Iran,...
Trump Peringatkan Iran, Tarif Selat Hormuz Tak Dapat Diterima
Delegasi Iran Berangkat...
Delegasi Iran Berangkat ke Swiss Negosiasi dengan AS, Perang Bakal Berakhir?
Status Triliuner Elon...
Status Triliuner Elon Musk Hilang usai Saham SpaceX dan Tesla Anjlok
Rekomendasi
Pengacara: Penangkapan...
Pengacara: Penangkapan Roy Suryo-Tifa seperti Penculikan para Jenderal di Film
8 Bank Bangkrut Sepanjang...
8 Bank Bangkrut Sepanjang Januari-Juni 2026, Ini Daftarnya
Kapal Induk Garibaldi...
Kapal Induk Garibaldi dan Masa Depan Strategi Maritim Indonesia
Berita Terkini
Iran Tolak Pendapat...
Iran Tolak Pendapat Menlu AS Rubio tentang Kesepakatan Damai
Trump Ungkap Turki Siap...
Trump Ungkap Turki Siap Gabung Perang Bersama Iran tapi Dicegah AS
Iran Peringatkan Kapal-kapal...
Iran Peringatkan Kapal-kapal Tidak Melintasi Selat Hormuz Tanpa Izin
Korban Gempa Venezuela...
Korban Gempa Venezuela Bertambah, 164 Orang Tewas, 971 Luka-luka
Menlu Iran Bilang Hamas:...
Menlu Iran Bilang Hamas: Gaza Penting dalam Negosiasi dengan AS
Netanyahu Terpaksa Terima...
Netanyahu Terpaksa Terima Gencatan Senjata, Israel Bersiap Tarik Pasukan
Infografis
Tegang, Jet Tempur China...
Tegang, Jet Tempur China Kejar Pesawat AS Dekat Kapal Induk
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved