Kelompok Perlawanan Irak Tawarkan Hadiah Rp179 Miliar untuk Pembunuhan Trump
Jum'at, 17 Juli 2026 - 21:07 WIB
loading...
Presiden AS Donald Trump. Foto/anadolu
A
A
A
BAGHDAD - Perlawanan Islam Irak mengatakan pada hari Kamis bahwa mereka menawarkan hadiah USD10 juta (Rp179 miliar) kepada siapa pun yang membunuh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Hadiah itu diumumkan seiring perang yang kembali terjadi antara Iran dan AS.
Kelompok tersebut mengatakan telah mengalokasikan hadiah 10 juta dolar, yang dikumpulkan melalui sumbangan dari anggota dan pendukungnya, untuk “siapa pun yang membunuh penjahat Trump, atau untuk siapa pun yang memutuskan untuk mengalokasikan atau mengarahkan hadiah tersebut kepada individu, kelompok, entitas, atau lembaga.”
Pernyataan itu menambahkan, “Rakyat bebas di dunia akan terus mengejar pembunuh anak-anak dan ilmuwan. Para tiran tidak akan pernah mengenal kedamaian, dan penjahat tidak akan menemukan tempat berlindung yang aman dari kemarahan orang-orang terhormat. Pembalasan adalah janji yang mengikat di leher para pejuang, dan darah para martir akan tetap menjadi kutukan yang mengguncang tahta orang-orang yang sombong sampai para agresor dikalahkan dan benteng-benteng tirani runtuh.”
Sementara itu, Kedutaan Besar AS di Baghdad pada hari Kamis mendesak warga Amerika di Irak untuk tetap siaga tinggi menyusul serangan pesawat tak berawak di kota Erbil di utara sehari sebelumnya, lapor Anadolu.
Dalam peringatan keamanan, misi tersebut menyarankan warga Amerika di Irak untuk memantau media lokal dan mengikuti instruksi yang dikeluarkan oleh otoritas setempat.
Mereka memperingatkan gangguan perjalanan dan penutupan wilayah udara dapat terjadi tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Kedutaan besar tersebut mengulangi peringatan Level 4 "Jangan Bepergian" dari Departemen Luar Negeri untuk Irak, dengan alasan "terorisme, penculikan, konflik bersenjata, kerusuhan sipil" dan keterbatasan kemampuan Washington untuk memberikan bantuan darurat kepada warga AS di negara tersebut.
"Jangan bepergian ke Irak dengan alasan apa pun," kata peringatan tersebut.
Warga AS yang berencana meninggalkan Irak didesak untuk mengkonfirmasi jadwal penerbangan dengan maskapai mereka sebelum pergi ke bandara, karena keberangkatan dapat berubah dalam waktu singkat.
Peringatan tersebut dikeluarkan setelah beberapa ledakan dilaporkan di Erbil pada Rabu malam. Jaringan Media Rudaw yang berbasis di Erbil mengatakan ledakan tersebut disebabkan oleh sistem pertahanan udara yang mencegat pesawat tak berawak.
Peristiwa itu terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran terkait Selat Hormuz, di mana kedua pihak saling melancarkan serangan meskipun ada nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan yang bertujuan mengakhiri konflik mereka dan mencapai kesepakatan perdamaian yang langgeng.
Baca juga: Iran Gempur Pusat Komando AS di Suriah, Hancurkan Radar dan Helikopter
Kelompok tersebut mengatakan telah mengalokasikan hadiah 10 juta dolar, yang dikumpulkan melalui sumbangan dari anggota dan pendukungnya, untuk “siapa pun yang membunuh penjahat Trump, atau untuk siapa pun yang memutuskan untuk mengalokasikan atau mengarahkan hadiah tersebut kepada individu, kelompok, entitas, atau lembaga.”
Pernyataan itu menambahkan, “Rakyat bebas di dunia akan terus mengejar pembunuh anak-anak dan ilmuwan. Para tiran tidak akan pernah mengenal kedamaian, dan penjahat tidak akan menemukan tempat berlindung yang aman dari kemarahan orang-orang terhormat. Pembalasan adalah janji yang mengikat di leher para pejuang, dan darah para martir akan tetap menjadi kutukan yang mengguncang tahta orang-orang yang sombong sampai para agresor dikalahkan dan benteng-benteng tirani runtuh.”
Sementara itu, Kedutaan Besar AS di Baghdad pada hari Kamis mendesak warga Amerika di Irak untuk tetap siaga tinggi menyusul serangan pesawat tak berawak di kota Erbil di utara sehari sebelumnya, lapor Anadolu.
Dalam peringatan keamanan, misi tersebut menyarankan warga Amerika di Irak untuk memantau media lokal dan mengikuti instruksi yang dikeluarkan oleh otoritas setempat.
Mereka memperingatkan gangguan perjalanan dan penutupan wilayah udara dapat terjadi tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Kedutaan besar tersebut mengulangi peringatan Level 4 "Jangan Bepergian" dari Departemen Luar Negeri untuk Irak, dengan alasan "terorisme, penculikan, konflik bersenjata, kerusuhan sipil" dan keterbatasan kemampuan Washington untuk memberikan bantuan darurat kepada warga AS di negara tersebut.
"Jangan bepergian ke Irak dengan alasan apa pun," kata peringatan tersebut.
Warga AS yang berencana meninggalkan Irak didesak untuk mengkonfirmasi jadwal penerbangan dengan maskapai mereka sebelum pergi ke bandara, karena keberangkatan dapat berubah dalam waktu singkat.
Peringatan tersebut dikeluarkan setelah beberapa ledakan dilaporkan di Erbil pada Rabu malam. Jaringan Media Rudaw yang berbasis di Erbil mengatakan ledakan tersebut disebabkan oleh sistem pertahanan udara yang mencegat pesawat tak berawak.
Peristiwa itu terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran terkait Selat Hormuz, di mana kedua pihak saling melancarkan serangan meskipun ada nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan yang bertujuan mengakhiri konflik mereka dan mencapai kesepakatan perdamaian yang langgeng.
Baca juga: Iran Gempur Pusat Komando AS di Suriah, Hancurkan Radar dan Helikopter
(sya)
Lihat Juga :