Apa Arti 'Las Malvinas Son Argentinas'? Slogan yang Dikibarkan Timnas Argentina Ternyata Menyimpan Luka Sejarah 200 Tahun
Kamis, 16 Juli 2026 - 17:05 WIB
loading...
Slogan Las Malvinas Son Argentinas dikibarkan saat pertandingan Piala Dunia 2026. Foto/istimewa
A
A
A
BUENOS AIRES - Selebrasi para pemain Timnas Argentina usai menyingkirkan Inggris di semifinal Piala Dunia 2026 menarik perhatian dunia. Bukan hanya karena kemenangan 2-1 yang mengantarkan Albiceleste ke partai final, tetapi juga karena para pemain membentangkan spanduk bertuliskan "Las Malvinas Son Argentinas".
Bagi sebagian penonton, kalimat tersebut mungkin hanya terlihat sebagai ungkapan kebanggaan nasional. Namun bagi Argentina dan Inggris, slogan itu memiliki makna yang jauh lebih dalam karena berkaitan dengan sengketa Kepulauan Malvinas atau yang dikenal di Inggris sebagai Falkland Islands.
Lantas, apa sebenarnya arti "Las Malvinas Son Argentinas" dan mengapa kalimat tersebut begitu sensitif?
Secara harfiah, "Las Malvinas Son Argentinas" berarti "Kepulauan Malvinas adalah milik Argentina."
Kalimat ini merupakan slogan nasional yang telah digunakan selama puluhan tahun oleh pemerintah Argentina, institusi pendidikan, organisasi veteran perang, hingga masyarakat umum untuk menegaskan klaim bahwa Kepulauan Malvinas merupakan bagian sah dari wilayah Argentina.
Bahkan, slogan tersebut kerap ditemukan di gedung-gedung pemerintah, sekolah, jalan raya, uang logam, hingga berbagai acara olahraga di Argentina.
Bagi sebagian besar rakyat Argentina, Malvinas bukan hanya persoalan wilayah, tetapi juga menyangkut identitas nasional dan harga diri bangsa.
Perbedaan nama kepulauan itu sendiri mencerminkan perbedaan sudut pandang kedua negara. Argentina menyebut wilayah tersebut sebagai Islas Malvinas, sementara Inggris menyebutnya Falkland Islands.
Kepulauan yang berada sekitar 500 kilometer dari pesisir Argentina itu dihuni sekitar 3.500 penduduk. Sebagian besar penduduknya merupakan keturunan Inggris dan dalam referendum tahun 2013 memilih tetap menjadi Wilayah Seberang Laut Britania Raya.
Sebaliknya, Argentina menilai referendum tersebut tidak dapat dijadikan dasar hukum internasional karena wilayah tersebut dianggap masih berada dalam status sengketa.
Perselisihan mengenai Kepulauan Malvinas telah berlangsung hampir dua abad. Setelah Argentina merdeka dari Spanyol pada awal abad ke-19, pemerintah Argentina mengklaim mewarisi wilayah tersebut. Namun pada 1833, Inggris mengirim kapal perang dan mengambil alih kepulauan itu.
Sejak saat itu Inggris terus menguasai Malvinas, sementara Argentina tidak pernah mengakui kedaulatan Inggris dan terus menyampaikan protes melalui jalur diplomatik.
Perselisihan tersebut kemudian dibawa ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pada 1965, Majelis Umum PBB mengeluarkan Resolusi 2065 yang mengakui adanya sengketa kedaulatan dan mendorong Argentina serta Inggris untuk menyelesaikannya melalui perundingan.
Konflik berubah menjadi perang pada April 1982. Pemerintah militer Argentina saat itu mengirim pasukan untuk merebut Kepulauan Malvinas dari Inggris. Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher merespons dengan mengirim armada militer besar ke Atlantik Selatan.
Perang berlangsung selama sekitar 74 hari sebelum Argentina akhirnya menyerah pada Juni 1982. Dalam konflik tersebut, sekitar 649 tentara Argentina, 255 personel militer Inggris, serta tiga warga sipil Kepulauan Falkland dilaporkan tewas.
Meski kalah perang, Argentina tidak pernah mencabut klaim kedaulatannya atas Malvinas hingga sekarang.
Hubungan sepak bola dan Malvinas memiliki ikatan emosional yang sangat kuat di Argentina. Empat tahun setelah perang, Argentina menghadapi Inggris di perempat final Piala Dunia 1986.
Laga itu dikenang karena Diego Maradona mencetak gol kontroversial "Hand of God" dan gol solo yang kemudian disebut sebagai salah satu gol terbaik sepanjang sejarah Piala Dunia.
Banyak warga Argentina menganggap kemenangan tersebut sebagai simbol balas dendam secara olahraga setelah kekalahan dalam Perang Malvinas.
Karena itu, setiap kali Argentina menghadapi Inggris, isu Malvinas hampir selalu kembali menjadi perbincangan publik.
Bagi Argentina, slogan "Las Malvinas Son Argentinas" merupakan bentuk penegasan terhadap klaim kedaulatan yang telah lama diperjuangkan.
Namun dari sudut pandang Inggris, pernyataan tersebut menyangkut sengketa politik yang belum terselesaikan dan bertentangan dengan pilihan mayoritas penduduk Kepulauan Falkland yang ingin tetap berada di bawah kedaulatan Inggris.
Inilah sebabnya kemunculan slogan tersebut di ajang olahraga internasional sering memicu kontroversi. FIFA sendiri memiliki aturan yang melarang penyampaian pesan politik dalam pertandingan resmi, sehingga penggunaan slogan yang berkaitan dengan sengketa wilayah dapat menjadi perhatian badan sepak bola dunia.
Hingga kini, meski perang telah berakhir lebih dari empat dekade lalu, sengketa Kepulauan Malvinas masih menjadi salah satu isu geopolitik paling sensitif antara Argentina dan Inggris. Bagi rakyat Argentina, kalimat "Las Malvinas Son Argentinas" bukan sekadar slogan, melainkan simbol perjuangan sejarah yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Baca juga: Perang Iran Meluas, AS Jual Senjata ke Arab Saudi dan Kuwait Total Rp36,2 Triliun
Bagi sebagian penonton, kalimat tersebut mungkin hanya terlihat sebagai ungkapan kebanggaan nasional. Namun bagi Argentina dan Inggris, slogan itu memiliki makna yang jauh lebih dalam karena berkaitan dengan sengketa Kepulauan Malvinas atau yang dikenal di Inggris sebagai Falkland Islands.
Lantas, apa sebenarnya arti "Las Malvinas Son Argentinas" dan mengapa kalimat tersebut begitu sensitif?
Arti "Las Malvinas Son Argentinas"
Secara harfiah, "Las Malvinas Son Argentinas" berarti "Kepulauan Malvinas adalah milik Argentina."
Kalimat ini merupakan slogan nasional yang telah digunakan selama puluhan tahun oleh pemerintah Argentina, institusi pendidikan, organisasi veteran perang, hingga masyarakat umum untuk menegaskan klaim bahwa Kepulauan Malvinas merupakan bagian sah dari wilayah Argentina.
Bahkan, slogan tersebut kerap ditemukan di gedung-gedung pemerintah, sekolah, jalan raya, uang logam, hingga berbagai acara olahraga di Argentina.
Bagi sebagian besar rakyat Argentina, Malvinas bukan hanya persoalan wilayah, tetapi juga menyangkut identitas nasional dan harga diri bangsa.
Mengapa Disebut Malvinas dan Falkland?
Perbedaan nama kepulauan itu sendiri mencerminkan perbedaan sudut pandang kedua negara. Argentina menyebut wilayah tersebut sebagai Islas Malvinas, sementara Inggris menyebutnya Falkland Islands.
Kepulauan yang berada sekitar 500 kilometer dari pesisir Argentina itu dihuni sekitar 3.500 penduduk. Sebagian besar penduduknya merupakan keturunan Inggris dan dalam referendum tahun 2013 memilih tetap menjadi Wilayah Seberang Laut Britania Raya.
Sebaliknya, Argentina menilai referendum tersebut tidak dapat dijadikan dasar hukum internasional karena wilayah tersebut dianggap masih berada dalam status sengketa.
Sengketa yang Berawal Sejak Abad ke-19
Perselisihan mengenai Kepulauan Malvinas telah berlangsung hampir dua abad. Setelah Argentina merdeka dari Spanyol pada awal abad ke-19, pemerintah Argentina mengklaim mewarisi wilayah tersebut. Namun pada 1833, Inggris mengirim kapal perang dan mengambil alih kepulauan itu.
Sejak saat itu Inggris terus menguasai Malvinas, sementara Argentina tidak pernah mengakui kedaulatan Inggris dan terus menyampaikan protes melalui jalur diplomatik.
Perselisihan tersebut kemudian dibawa ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pada 1965, Majelis Umum PBB mengeluarkan Resolusi 2065 yang mengakui adanya sengketa kedaulatan dan mendorong Argentina serta Inggris untuk menyelesaikannya melalui perundingan.
Perang Malvinas yang Menewaskan Ratusan Tentara
Konflik berubah menjadi perang pada April 1982. Pemerintah militer Argentina saat itu mengirim pasukan untuk merebut Kepulauan Malvinas dari Inggris. Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher merespons dengan mengirim armada militer besar ke Atlantik Selatan.
Perang berlangsung selama sekitar 74 hari sebelum Argentina akhirnya menyerah pada Juni 1982. Dalam konflik tersebut, sekitar 649 tentara Argentina, 255 personel militer Inggris, serta tiga warga sipil Kepulauan Falkland dilaporkan tewas.
Meski kalah perang, Argentina tidak pernah mencabut klaim kedaulatannya atas Malvinas hingga sekarang.
Mengapa Slogan Itu Muncul di Sepak Bola?
Hubungan sepak bola dan Malvinas memiliki ikatan emosional yang sangat kuat di Argentina. Empat tahun setelah perang, Argentina menghadapi Inggris di perempat final Piala Dunia 1986.
Laga itu dikenang karena Diego Maradona mencetak gol kontroversial "Hand of God" dan gol solo yang kemudian disebut sebagai salah satu gol terbaik sepanjang sejarah Piala Dunia.
Banyak warga Argentina menganggap kemenangan tersebut sebagai simbol balas dendam secara olahraga setelah kekalahan dalam Perang Malvinas.
Karena itu, setiap kali Argentina menghadapi Inggris, isu Malvinas hampir selalu kembali menjadi perbincangan publik.
Mengapa Kontroversial?
Bagi Argentina, slogan "Las Malvinas Son Argentinas" merupakan bentuk penegasan terhadap klaim kedaulatan yang telah lama diperjuangkan.
Namun dari sudut pandang Inggris, pernyataan tersebut menyangkut sengketa politik yang belum terselesaikan dan bertentangan dengan pilihan mayoritas penduduk Kepulauan Falkland yang ingin tetap berada di bawah kedaulatan Inggris.
Inilah sebabnya kemunculan slogan tersebut di ajang olahraga internasional sering memicu kontroversi. FIFA sendiri memiliki aturan yang melarang penyampaian pesan politik dalam pertandingan resmi, sehingga penggunaan slogan yang berkaitan dengan sengketa wilayah dapat menjadi perhatian badan sepak bola dunia.
Hingga kini, meski perang telah berakhir lebih dari empat dekade lalu, sengketa Kepulauan Malvinas masih menjadi salah satu isu geopolitik paling sensitif antara Argentina dan Inggris. Bagi rakyat Argentina, kalimat "Las Malvinas Son Argentinas" bukan sekadar slogan, melainkan simbol perjuangan sejarah yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Baca juga: Perang Iran Meluas, AS Jual Senjata ke Arab Saudi dan Kuwait Total Rp36,2 Triliun
(sya)
Lihat Juga :