Trump Lontarkan Klaim Mengejutkan: 90% Mojtaba Khamenei Telah Tewas
Selasa, 14 Juli 2026 - 10:09 WIB
loading...
Presiden AS Donald Trump klaim 90 persen Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei telah tewas. Foto/Tasnim News Agency
A
A
A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan Iran telah kehilangan kemampuan militer dan komandan utamanya dalam perang gabungan AS-Israel terhadap Republik Islam tersebut. Dia juga menyampaikan klaim mengejutkan, yakni Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei 90 persen telah tewas.
Mojtaba tidak muncul di depan publik sejak hari pertama agresi AS-Israel 28 Februari. Dia juga tidak hadir dalam pemakaman pendahulu yang juga ayahnya, almarhum Ayatollah Ali Khamenei, pekan lalu.
Baca Juga: Eks Komandan IRGC: Iran Mampu Membunuh Trump di Gedung Putih
"Mereka tidak memiliki Angkatan Laut, mereka tidak memiliki Angkatan Udara, semuanya telah hilang. Pertahanan anti-pesawat mereka telah hilang, para pemimpin mereka semuanya telah terbunuh, para pemimpin terbaik mereka telah terbunuh," kata Trump, dalam sebuah wawancara dengan Fox News, yang dilansir Selasa (14/7/2026).
Trump lebih lanjut mengeklaim bahwa para pemimpin terbaik Iran telah terbunuh dalam perang tersebut.
"Mereka telah tiada. Khomeini telah tiada," katanya, menggunakan nama pemimpin revolusioner Iran yang meninggal pada tahun 1989, yang mana Trump salah sebut ketika merujuk pada sosok Ali Khamenei.
"Putranya 90 persen telah tiada," imbuh Trump.
Mojtaba Khamenei selama ini dilaporkan terluka pada hari pertama agresi AS-Israel. Ketidakhadirannya yang berkelanjutan telah memicu spekulasi publik yang signifikan tentang kesehatan dan keberadaannya.
Pernyataan Trump muncul ketika AS dan Iran kembali saling melancarkan serangan selama akhir pekan, menandai berakhirnya gencatan senjata selama berbulan-bulan.
Presiden AS itu juga secara resmi memberitahu Kongres bahwa aksi militer terhadap Iran dilanjutkan ketika dia memerintahkan beberapa putaran serangan terhadap target di Iran.
Dia juga secara terpisah menyatakan bahwa Amerika Serikat akan mengenakan biaya kepada kapal-kapal kargo yang lewat Selat Hormuz dengan perlindungan pasukan AS. Ini membalikkan kebijakan Amerika selama ratusan tahun yang mendukung kebebasan navigasi di seluruh dunia.
Iran menanggapi dengan serangan yang menargetkan Bahrain dan dua kapal tanker yang terkait dengan Uni Emirat Arab yang melewati selat tersebut, menewaskan seorang pelaut asal India dan melukai delapan lainnya.
Uni Emirat Arab mengancam akan membalas Iran, yang berpotensi menyeret negara itu kembali terlibat perang dengan Teheran.
Serangan-serangan tersebut terjadi ketika Iran dan AS sama-sama bersaing untuk mengendalikan Selat Hormuz, tempat seperlima dari seluruh minyak mentah dan gas alam pernah melewatinya di masa damai.
Mojtaba tidak muncul di depan publik sejak hari pertama agresi AS-Israel 28 Februari. Dia juga tidak hadir dalam pemakaman pendahulu yang juga ayahnya, almarhum Ayatollah Ali Khamenei, pekan lalu.
Baca Juga: Eks Komandan IRGC: Iran Mampu Membunuh Trump di Gedung Putih
"Mereka tidak memiliki Angkatan Laut, mereka tidak memiliki Angkatan Udara, semuanya telah hilang. Pertahanan anti-pesawat mereka telah hilang, para pemimpin mereka semuanya telah terbunuh, para pemimpin terbaik mereka telah terbunuh," kata Trump, dalam sebuah wawancara dengan Fox News, yang dilansir Selasa (14/7/2026).
Trump lebih lanjut mengeklaim bahwa para pemimpin terbaik Iran telah terbunuh dalam perang tersebut.
"Mereka telah tiada. Khomeini telah tiada," katanya, menggunakan nama pemimpin revolusioner Iran yang meninggal pada tahun 1989, yang mana Trump salah sebut ketika merujuk pada sosok Ali Khamenei.
"Putranya 90 persen telah tiada," imbuh Trump.
Mojtaba Khamenei selama ini dilaporkan terluka pada hari pertama agresi AS-Israel. Ketidakhadirannya yang berkelanjutan telah memicu spekulasi publik yang signifikan tentang kesehatan dan keberadaannya.
Pernyataan Trump muncul ketika AS dan Iran kembali saling melancarkan serangan selama akhir pekan, menandai berakhirnya gencatan senjata selama berbulan-bulan.
Presiden AS itu juga secara resmi memberitahu Kongres bahwa aksi militer terhadap Iran dilanjutkan ketika dia memerintahkan beberapa putaran serangan terhadap target di Iran.
Dia juga secara terpisah menyatakan bahwa Amerika Serikat akan mengenakan biaya kepada kapal-kapal kargo yang lewat Selat Hormuz dengan perlindungan pasukan AS. Ini membalikkan kebijakan Amerika selama ratusan tahun yang mendukung kebebasan navigasi di seluruh dunia.
Iran menanggapi dengan serangan yang menargetkan Bahrain dan dua kapal tanker yang terkait dengan Uni Emirat Arab yang melewati selat tersebut, menewaskan seorang pelaut asal India dan melukai delapan lainnya.
Uni Emirat Arab mengancam akan membalas Iran, yang berpotensi menyeret negara itu kembali terlibat perang dengan Teheran.
Serangan-serangan tersebut terjadi ketika Iran dan AS sama-sama bersaing untuk mengendalikan Selat Hormuz, tempat seperlima dari seluruh minyak mentah dan gas alam pernah melewatinya di masa damai.
(mas)
Lihat Juga :