AS Bombardir Iran Pagi Ini usai Trump Janji Serang Teheran Sangat Keras

Selasa, 14 Juli 2026 - 08:46 WIB
loading...
AS Bombardir Iran Pagi...
Ledakan terjadi di Pulau Kish, Iran, akibat serangan terbaru Amerika Serikat. Foto/X @Osint613
A A A
WASHINGTON - Militer Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan baru terhadap Iran pada Selasa (14/7/2026) pagi. Pengeboman terjadi tak lama setelah Presiden Amerika Donald Trump berjanji akan menyerang Republik Islam tersebut dengan sangat keras.

Serangan terbaru Amerika ini merupakan gempuran hari ketiga berturut-turut, menandai eskalasi baru sejak dimulainya kembali permusuhan.

Baca Juga: Trump Beri Tahu Kongres: AS dan Iran Resmi Perang Lagi!

"Kita akan menyerang mereka dengan sangat keras malam ini, dan kita akan menyerang mereka dengan keras besok," kata Trump kepada penyiar radio konservatif Hugh Hewitt pada hari Senin.

Konflik ini memicu harga minyak melonjak lebih dari sembilan persen.

Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan serangan telah dimulai pada Senin malam waktu AS—serangan malam ketiga berturut-turut—atau Selasa dini hari WIB.

"Serangan-serangan ini akan terus menimbulkan kerugian besar bagi pasukan Iran dan mengurangi kemampuan mereka untuk menyerang warga sipil yang tidak bersalah dan kapal dagang di Selat Hormuz," kata CENTCOM di akun X-nya.

Pada Selasa pagi, Uni Emirat Arab (UEA) mengatakan Iran telah menyerang dua kapal di Selat Hormuz, menewaskan satu awak kapal dan melukai delapan lainnya.

UEA yang kaya minyak adalah sekutu utama AS di kawasan itu dan telah melaporkan beberapa serangan rudal dan drone dari Iran.

"Kementerian Pertahanan mengumumkan bahwa kapal tanker nasional Mombasa dan Al Bahiyah menjadi sasaran dua rudal jelajah Iran saat melintasi jalur pelayaran selatan Selat Hormuz, di dalam perairan teritorial Oman," tulis Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab di X.

Serangan yang dilaporkan itu terjadi setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran pada hari Senin mengumumkan serangan baru terhadap Bahrain, Yordania, Kuwait, dan Oman.

Trump secara resmi memberitahu Kongres bahwa AS telah melanjutkan konflik militer melawan Iran, menurut konfirmasi Gedung Putih kepada AFP. Langkah ini memberi Pentagon tambahan 60 hari untuk beroperasi di wilayah tersebut tanpa persetujuan Kongres.

Trump juga mengancam akan menghancurkan Gunung Pickaxe, situs nuklir yang terkubur dalam di dekat Natanz tempat Iran dicurigai sedang membangun fasilitas pengayaan uranium yang tidak diumumkan.

"Katakan pada Iran untuk bersiap. Beri tahu mereka bahwa kita akan datang (dan) tidak ada satu pun yang dapat mereka lakukan untuk mencegahnya," kata Trump kepada Hewitt.

CENTCOM, mengikuti perintah Trump, mengumumkan akan memberlakukan kembali blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran mulai pukul 20.00 GMT pada hari Selasa.

Dalam sebuah unggahan di Truth Social, Trump mengatakan Amerika Serikat akan dikenal sebagai penjaga Selat Hormuz dan mengenakan biaya 20 persen untuk semua kapal kargo yang lewat.

Meskipun pelabuhan-pelabuhan Iran akan kembali diblokade, Trump mengatakan, "Semua negara lain akan memiliki hak penggunaan selat yang adil dan terbuka."

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi segera mengejek ancaman biaya Trump, menulis di X: "@POTUS benar sekali bahwa siapa pun yang menjamin jalur aman harus diberi kompensasi—tetapi Teheran akan mengenakan biaya yang lebih rendah."

"20% tentu saja terlalu banyak," imbuh dia.

Washington dengan keras menentang keinginan Teheran untuk memungut biaya tol di selat tersebut, yang secara umum dilarang oleh hukum internasional.

Meskipun semua tanda menunjukkan sebaliknya, Trump mengatakan pada hari Senin bahwa kesepakatan dengan Teheran untuk mengakhiri perang Timur Tengah masih mungkin terjadi.

"Ya, saya pikir kesepakatan itu mungkin. Tentu saja," kata Trump kepada wartawan di Oval Office.

"Kami telah mencapai kesepakatan dengan mereka dua hari yang lalu dan kemudian mereka mengatakan 'Oh, kami tidak dapat membuat kesepakatan itu. Kami harus menegosiasikannya lebih lanjut'," paparnya.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan sebelumnya pada hari Senin bahwa nota kesepahaman bulan Juni yang menjadi dasar negosiasi dan mencabut blokade AS "sedang dalam krisis".

Baghaei mengatakan Iran akan mengabaikan kewajibannya berdasarkan kesepakatan tersebut jika Washington melakukan hal yang sama, tetapi menambahkan bahwa Teheran terus melakukan pembicaraan dengan mediator dari Qatar, Pakistan, dan Oman untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.

Analis Bader Al-Saif mengatakan peningkatan serangan hanya akan menunda kesepakatan permanen.

"Kedua belah pihak ingin mengakhiri kebuntuan dengan syarat mereka sendiri, dan mereka semakin kesulitan untuk melakukannya. Karena itu, serangan kembali terjadi dan skala serangan pun meningkat," kata Al-Saif, seorang peneliti di Chatham House.

"Tindakan Perang"


Media pemerintah Iran melaporkan adanya korban jiwa dalam serangan terbaru AS, yang menurut mereka menargetkan wilayah luas di selatan dan barat.

Setidaknya empat ledakan terdengar pada hari Senin di sebelah timur Bandar Abbas, yang terletak di Selat Hormuz, menurut laporan media pemerintah Iran, mengutip seorang jurnalis di provinsi tersebut.

Setidaknya 25 orang tewas di Iran sejak permusuhan kembali pecah pada hari Rabu, menurut perhitungan AFP berdasarkan pengumuman Iran.

IRGC mengatakan mereka telah menyerang target dan pangkalan militer AS di Yordania, Bahrain, dan Kuwait, menurut laporan media pemerintah Iran.

Iran bersikeras bahwa mereka hanya menargetkan kepentingan AS di Teluk, tetapi juru bicara komando militer Iran mengatakan bahwa setiap kerja sama negara-negara Teluk dengan Amerika Serikat akan dianggap sebagai "tindakan perang".
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Agen Mossad Pernah Temui...
Agen Mossad Pernah Temui Mahmoud Ahmadinejad di Budapest, Ada Apa Gerangan?
Apa Itu Gunung Pickaxe?...
Apa Itu Gunung Pickaxe? Lokasi Penyimpanan Senjata Nuklir Iran yang Akan Dihancurkan Trump
TV Iran Rayakan Kematian...
TV Iran Rayakan Kematian Mendadak Senator AS Pro-Israel: 'Dikirim ke Neraka'
Perang AS dan Iran Ternyata...
Perang AS dan Iran Ternyata Tak Menguntungkan Pihak yang Bertikai, Ini 4 Alasannya
Trump Lontarkan Klaim...
Trump Lontarkan Klaim Mengejutkan: 90% Mojtaba Khamenei Telah Tewas
Pakar Militer Ini Prediksi...
Pakar Militer Ini Prediksi Serangan AS Tak Mampu Lumpuhkan Militer Iran yang Menguasai Selat Hormuz
AS Terapkan Blokade...
AS Terapkan Blokade Baru di Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Melonjak 9%
Pemimpin Tertinggi Iran...
Pemimpin Tertinggi Iran Bersumpah Balas Dendam Pembunuhan Ali Khamenei
Trump Ingin Rebut Selat...
Trump Ingin Rebut Selat Hormuz, Iran Beri Respons Keras: Berbahaya!
Rekomendasi
PLN Hadirkan Listrik...
PLN Hadirkan Listrik Gratis bagi Masyarakat Kurang Mampu di Siantan
Skuad Prancis Jadi Korban...
Skuad Prancis Jadi Korban Rasisme di Piala Dunia 2026, Bek Spanyol Meradang
Tokenisasi ETF Buka...
Tokenisasi ETF Buka Akses Lebih Mudah Investasi S&P 500 dan Nasdaq
Berita Terkini
Agen Mossad Pernah Temui...
Agen Mossad Pernah Temui Mahmoud Ahmadinejad di Budapest, Ada Apa Gerangan?
Inggris Semakin Ditekan...
Inggris Semakin Ditekan untuk Kembalikan 31 Ton Emas Venezuela
Apa Itu Gunung Pickaxe?...
Apa Itu Gunung Pickaxe? Lokasi Penyimpanan Senjata Nuklir Iran yang Akan Dihancurkan Trump
Norwegia Diam-diam Gunakan...
Norwegia Diam-diam Gunakan Pengaruhnya untuk Dorong Penangguhan Israel dari FIFA
TV Iran Rayakan Kematian...
TV Iran Rayakan Kematian Mendadak Senator AS Pro-Israel: 'Dikirim ke Neraka'
Perang AS dan Iran Ternyata...
Perang AS dan Iran Ternyata Tak Menguntungkan Pihak yang Bertikai, Ini 4 Alasannya
Infografis
6 Jenderal Bintang 4...
6 Jenderal Bintang 4 AS Ini Pernah Peringatkan Trump soal Risiko Perang Melawan Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved