Langka, Sekutu AS Minta Tolong Korut Cari Tentara Seoul yang Hilang di Perbatasan
Senin, 13 Juli 2026 - 12:10 WIB
loading...
Korea Selatan minta bantuan Korea Utara setelah tentaranya hilang di perbatasan maritim kedua negara. Permintaan bantuan ini langka karena kedua negara sedang bermusuhan. Foto/UNN
A
A
A
SEOUL - Korea Selatan (Korsel), yang merupakan sekutu Amerika Serikat (AS), meminta tolong Korea Utara (Korut) untuk membantu mencari dan memulangkan seorang tentara Angkatan Laut Korsel yang hilang di perbatasan kedua negara. Ini merupakan permintaan langka mengingat kedua negara masih bermusuhan.
Permintaan bantuan tersebut menyusul laporan bahwa tentara Seoul hilang pada Minggu pagi saat sebuah kapal sedang berpatroli di lepas pantai timur Korea Selatan dekat Garis Batas Utara. Tentara itu diduga hanyut melintasi perbatasan maritim de facto antar-Korea.
Baca Juga: Setelah Bikin Marah Kim Jong-un, Korut Sukses Tembakkan Rudal dari Kapal Perang 5.000 Ton
“Seorang pelaut di atas kapal Angkatan Laut Korea Selatan yang sedang menjalankan misi keamanan di Laut Timur hilang pada pagi hari, 12 Juli, dan diyakini telah hanyut ke utara Garis Batas Utara (NLL),” kata Kementerian Unifikasi Seoul dalam pernyataan singkat kepada AFP, merujuk pada perairan yang juga dikenal sebagai Laut Jepang.
“Karena Angkatan Laut Korea Selatan saat ini sedang mencari pelaut yang hilang, kami meminta kerja sama Korea Utara, atas dasar kemanusiaan, dalam pencarian dan pemulangan individu tersebut,” imbuh kementerian tersebut.
Menurut laporan kantor berita Yonhap, pelaut yang hilang berstatus sebagai tentara magang.
Menteri Pertahanan Korea Selatan Ahn Gyu-back juga menginstruksikan para pejabat untuk berupaya semaksimal mungkin untuk menyelamatkan prajurit yang hilang secepat dan seaman mungkin.
Permintaan bantuan ini muncul ketika Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung berupaya meredakan ketegangan dengan Korea Utara yang bersenjata nuklir dengan mengejar dialog dan langkah-langkah membangun kepercayaan setelah bertahun-tahun hubungan yang tegang.
Lee telah mengambil pendekatan yang lunak terhadap Korea Utara sejak menjabat pada Juni 2025, sangat kontras dengan kebijakan garis keras pendahulunya.
Namun, Pyongyang belum menanggapi tawaran berulang Seoul sambil memperdalam hubungan dengan Rusia. Baru-baru ini, Pyongyang menjadi tuan rumah pertemuan puncak dengan Presiden China Xi Jinping di ibu kotanya. Laporan resmi pertemuan puncak tersebut tidak menyebutkan denuklirisasi Korea Utara.
Permintaan bantuan tersebut menyusul laporan bahwa tentara Seoul hilang pada Minggu pagi saat sebuah kapal sedang berpatroli di lepas pantai timur Korea Selatan dekat Garis Batas Utara. Tentara itu diduga hanyut melintasi perbatasan maritim de facto antar-Korea.
Baca Juga: Setelah Bikin Marah Kim Jong-un, Korut Sukses Tembakkan Rudal dari Kapal Perang 5.000 Ton
“Seorang pelaut di atas kapal Angkatan Laut Korea Selatan yang sedang menjalankan misi keamanan di Laut Timur hilang pada pagi hari, 12 Juli, dan diyakini telah hanyut ke utara Garis Batas Utara (NLL),” kata Kementerian Unifikasi Seoul dalam pernyataan singkat kepada AFP, merujuk pada perairan yang juga dikenal sebagai Laut Jepang.
“Karena Angkatan Laut Korea Selatan saat ini sedang mencari pelaut yang hilang, kami meminta kerja sama Korea Utara, atas dasar kemanusiaan, dalam pencarian dan pemulangan individu tersebut,” imbuh kementerian tersebut.
Menurut laporan kantor berita Yonhap, pelaut yang hilang berstatus sebagai tentara magang.
Menteri Pertahanan Korea Selatan Ahn Gyu-back juga menginstruksikan para pejabat untuk berupaya semaksimal mungkin untuk menyelamatkan prajurit yang hilang secepat dan seaman mungkin.
Permintaan bantuan ini muncul ketika Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung berupaya meredakan ketegangan dengan Korea Utara yang bersenjata nuklir dengan mengejar dialog dan langkah-langkah membangun kepercayaan setelah bertahun-tahun hubungan yang tegang.
Lee telah mengambil pendekatan yang lunak terhadap Korea Utara sejak menjabat pada Juni 2025, sangat kontras dengan kebijakan garis keras pendahulunya.
Namun, Pyongyang belum menanggapi tawaran berulang Seoul sambil memperdalam hubungan dengan Rusia. Baru-baru ini, Pyongyang menjadi tuan rumah pertemuan puncak dengan Presiden China Xi Jinping di ibu kotanya. Laporan resmi pertemuan puncak tersebut tidak menyebutkan denuklirisasi Korea Utara.
(mas)
Lihat Juga :