Militer AS Rilis Video Rudal-rudal Gempur 140 Target di Iran
Minggu, 12 Juli 2026 - 11:49 WIB
loading...
Militer AS rilis rekaman video serangan hari ketiga terhadap sekitar 140 target di Iran. Foto/X @CENTCOM
A
A
A
TEHERAN - Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) merilis rekaman video serangan rudal pada Minggu (12/7/2026) yang diklaim menghantam sekitar 140 situs militer Iran. Gempuran rudal ini, yang merupakan serangan putaran ketiga dalam sepekan, sebagai respons atas serangan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran terhadap kapal komersial di Selat Hormuz.
Rekaman video CENTCOM menunjukkan pasukan AS menggunakan amunisi presisi yang diluncurkan dari pesawat tempur berbasis darat dan laut, drone, serta dari kapal Angkatan Laut untuk menyerang fasilitas rudal dan drone Iran. Selain itu, target serangan lainnya mencakup kemampuan Angkatan Laut, lokasi penyimpanan amunisi, jaringan komunikasi, dan lokasi pengawasan pantai Iran.
Baca Juga: Iran Balas Serang Pangkalan AS di Qatar, Bahrain, dan UEA
Menurut CENTCOM, pasukan AS telah menyerang lebih dari 300 target di Iran selama tiga malam operasi, yang diklaim sebagai bagian dari upaya untuk mengurangi kemampuan Iran dalam menyerang pelaut sipil dan kapal komersial yang melewati Selat Hormuz.
Sementara itu, Iran membalas dengan meluncurkan serangan rudal dan drone terhadap pangkalan AS di Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab (UEA).
Ledakan terdengar di atas ibu kota Qatar, Doha, di mana jurnalis AFP melaporkan melihat pencegatan rudal menerangi langit gelap. Para warga juga menerima peringatan darurat di ponsel mereka yang menginstruksikan mereka untuk tetap berada di dalam rumah.
Sirene peringatan rudal juga meraung-raung di seluruh Bahrain, tempat markas Armada Kelima Angkatan Laut AS. Uni Emirat Arab juga mengeluarkan peringatan publik tentang serangan rudal dan drone yang segera datang. Pihak berwenang tidak segera mengidentifikasi lokasi yang menjadi sasaran di UEA atau pun melaporkan kemungkinan korban jiwa.
Aksi saling serang ini menandai memanasnya ketegangan di kawasan tersebut setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata sementara dengan Iran telah berakhir, sambil mengatakan Washington tetap terbuka untuk negosiasi tentang penyelesaian permanen.
Teheran menyatakan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup sampai pemberitahuan lebih lanjut dan memperingatkan bahwa mereka dapat menargetkan fasilitas militer AS tambahan di wilayah tersebut jika serangan lebih lanjut dilancarkan terhadap Iran.
Amerika Serikat telah menolak klaim Iran atas kendali eksklusif atas selat tersebut, menuntut agar Teheran secara terbuka menjamin kebebasan navigasi dan menghentikan serangan terhadap pelayaran komersial sebelum negosiasi yang lebih luas dapat dilanjutkan.
Para pejabat AS mengatakan Washington memandang lalu lintas maritim tanpa batasan melalui jalur air tersebut sebagai prasyarat untuk setiap perjanjian di masa depan mengenai program nuklir Iran dan keamanan regional. Mereka juga mengatakan bahwa setiap kesepakatan nuklir akan mengharuskan Iran untuk menyerahkan persediaan uranium yang diperkaya tinggi.
Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, menegaskan pekan ini bahwa semua aktivitas di Selat Hormuz, termasuk pembukaan kembali jalur pelayaran atau melakukan operasi pembersihan ranjau, sepenuhnya berada di tangan Iran.
Selat Hormuz mengangkut sekitar seperlima dari perdagangan minyak dan gas alam dunia dalam kondisi normal, menjadikannya salah satu titik rawan maritim yang paling strategis di dunia. Pembatasan pengiriman barang oleh Iran selama konflik memicu guncangan energi global sebelum harga minyak turun dari level tertinggi masa perang.
Aski saling serang hari ini menyusul gelombang serangan rudal dan drone Iran lainnya awal pekan ini yang menargetkan Bahrain, Kuwait, dan Yordania. Kuwait mencegat empat rudal dan 10 drone, sementara militer Yordania mengatakan telah menembak jatuh delapan rudal yang ditembakkan ke wilayahnya. Bahrain juga mengaktifkan pertahanan udaranya setelah mendeteksi proyektil yang datang.
Iran mengatakan serangan-serangan itu menargetkan instalasi militer AS di ketiga negara tersebut dan memperingatkan bahwa pangkalan-pangkalan Amerika lainnya di kawasan itu akan tetap rentan jika Washington melanjutkan operasi militer.
Serangan-serangan baru ini memicu kecaman luas dari pemerintah negara-negara Teluk dan Arab.
Arab Saudi mengutuk apa yang disebutnya sebagai pelanggaran berulang Iran terhadap kedaulatan negara-negara tetangga dan memperingatkan bahwa serangan-serangan tersebut mengancam keamanan regional dan melemahkan upaya internasional untuk memulihkan stabilitas.
Uni Emirat Arab, Qatar, dan Mesir juga mengutuk serangan-serangan tersebut dan kembali menyerukan pengekangan, sementara para pemimpin Teluk meningkatkan kontak diplomatik yang bertujuan untuk menghidupkan kembali negosiasi.
Perdana Menteri yang juga Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al-Thani mengadakan pembicaraan terpisah dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan, mendesak semua pihak untuk kembali berkomitmen pada diplomasi dan menerapkan kesepahaman sebelumnya yang bertujuan untuk menghentikan konflik.
Di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada hari Jumat, Bahrain menuduh Iran mengeksploitasi diplomasi untuk mengulur waktu sambil terus melakukan operasi militer di seluruh wilayah. Dalam pidatonya di Dewan Keamanan PBB, Duta Besar Bahrain Jamal Al-Rowaiei mengatakan Teheran telah berulang kali melanggar perjanjian internasional, termasuk Memorandum Islamabad yang ditandatangani pada bulan Juni dan resolusi Dewan Keamanan PBB sebelumnya yang menyerukan penghentian serangan terhadap negara-negara regional.
Dia mengatakan penutupan Selat Hormuz oleh Iran dan serangan rudal serta drone yang terus berlanjut terhadap negara-negara Teluk menunjukkan pola di mana diplomasi hanya berfungsi untuk "mengelola krisis dan mengulur waktu" sementara agresi terus berlanjut di lapangan melalui rudal balistik, drone, dan kelompok proksi Iran.
Rekaman video CENTCOM menunjukkan pasukan AS menggunakan amunisi presisi yang diluncurkan dari pesawat tempur berbasis darat dan laut, drone, serta dari kapal Angkatan Laut untuk menyerang fasilitas rudal dan drone Iran. Selain itu, target serangan lainnya mencakup kemampuan Angkatan Laut, lokasi penyimpanan amunisi, jaringan komunikasi, dan lokasi pengawasan pantai Iran.
Baca Juga: Iran Balas Serang Pangkalan AS di Qatar, Bahrain, dan UEA
Menurut CENTCOM, pasukan AS telah menyerang lebih dari 300 target di Iran selama tiga malam operasi, yang diklaim sebagai bagian dari upaya untuk mengurangi kemampuan Iran dalam menyerang pelaut sipil dan kapal komersial yang melewati Selat Hormuz.
Sementara itu, Iran membalas dengan meluncurkan serangan rudal dan drone terhadap pangkalan AS di Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab (UEA).
Ledakan terdengar di atas ibu kota Qatar, Doha, di mana jurnalis AFP melaporkan melihat pencegatan rudal menerangi langit gelap. Para warga juga menerima peringatan darurat di ponsel mereka yang menginstruksikan mereka untuk tetap berada di dalam rumah.
Sirene peringatan rudal juga meraung-raung di seluruh Bahrain, tempat markas Armada Kelima Angkatan Laut AS. Uni Emirat Arab juga mengeluarkan peringatan publik tentang serangan rudal dan drone yang segera datang. Pihak berwenang tidak segera mengidentifikasi lokasi yang menjadi sasaran di UEA atau pun melaporkan kemungkinan korban jiwa.
Aksi saling serang ini menandai memanasnya ketegangan di kawasan tersebut setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata sementara dengan Iran telah berakhir, sambil mengatakan Washington tetap terbuka untuk negosiasi tentang penyelesaian permanen.
Teheran menyatakan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup sampai pemberitahuan lebih lanjut dan memperingatkan bahwa mereka dapat menargetkan fasilitas militer AS tambahan di wilayah tersebut jika serangan lebih lanjut dilancarkan terhadap Iran.
Amerika Serikat telah menolak klaim Iran atas kendali eksklusif atas selat tersebut, menuntut agar Teheran secara terbuka menjamin kebebasan navigasi dan menghentikan serangan terhadap pelayaran komersial sebelum negosiasi yang lebih luas dapat dilanjutkan.
Para pejabat AS mengatakan Washington memandang lalu lintas maritim tanpa batasan melalui jalur air tersebut sebagai prasyarat untuk setiap perjanjian di masa depan mengenai program nuklir Iran dan keamanan regional. Mereka juga mengatakan bahwa setiap kesepakatan nuklir akan mengharuskan Iran untuk menyerahkan persediaan uranium yang diperkaya tinggi.
Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, menegaskan pekan ini bahwa semua aktivitas di Selat Hormuz, termasuk pembukaan kembali jalur pelayaran atau melakukan operasi pembersihan ranjau, sepenuhnya berada di tangan Iran.
Selat Hormuz mengangkut sekitar seperlima dari perdagangan minyak dan gas alam dunia dalam kondisi normal, menjadikannya salah satu titik rawan maritim yang paling strategis di dunia. Pembatasan pengiriman barang oleh Iran selama konflik memicu guncangan energi global sebelum harga minyak turun dari level tertinggi masa perang.
Aski saling serang hari ini menyusul gelombang serangan rudal dan drone Iran lainnya awal pekan ini yang menargetkan Bahrain, Kuwait, dan Yordania. Kuwait mencegat empat rudal dan 10 drone, sementara militer Yordania mengatakan telah menembak jatuh delapan rudal yang ditembakkan ke wilayahnya. Bahrain juga mengaktifkan pertahanan udaranya setelah mendeteksi proyektil yang datang.
Iran mengatakan serangan-serangan itu menargetkan instalasi militer AS di ketiga negara tersebut dan memperingatkan bahwa pangkalan-pangkalan Amerika lainnya di kawasan itu akan tetap rentan jika Washington melanjutkan operasi militer.
Serangan-serangan baru ini memicu kecaman luas dari pemerintah negara-negara Teluk dan Arab.
Arab Saudi mengutuk apa yang disebutnya sebagai pelanggaran berulang Iran terhadap kedaulatan negara-negara tetangga dan memperingatkan bahwa serangan-serangan tersebut mengancam keamanan regional dan melemahkan upaya internasional untuk memulihkan stabilitas.
Uni Emirat Arab, Qatar, dan Mesir juga mengutuk serangan-serangan tersebut dan kembali menyerukan pengekangan, sementara para pemimpin Teluk meningkatkan kontak diplomatik yang bertujuan untuk menghidupkan kembali negosiasi.
Perdana Menteri yang juga Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al-Thani mengadakan pembicaraan terpisah dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan, mendesak semua pihak untuk kembali berkomitmen pada diplomasi dan menerapkan kesepahaman sebelumnya yang bertujuan untuk menghentikan konflik.
Di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada hari Jumat, Bahrain menuduh Iran mengeksploitasi diplomasi untuk mengulur waktu sambil terus melakukan operasi militer di seluruh wilayah. Dalam pidatonya di Dewan Keamanan PBB, Duta Besar Bahrain Jamal Al-Rowaiei mengatakan Teheran telah berulang kali melanggar perjanjian internasional, termasuk Memorandum Islamabad yang ditandatangani pada bulan Juni dan resolusi Dewan Keamanan PBB sebelumnya yang menyerukan penghentian serangan terhadap negara-negara regional.
Dia mengatakan penutupan Selat Hormuz oleh Iran dan serangan rudal serta drone yang terus berlanjut terhadap negara-negara Teluk menunjukkan pola di mana diplomasi hanya berfungsi untuk "mengelola krisis dan mengulur waktu" sementara agresi terus berlanjut di lapangan melalui rudal balistik, drone, dan kelompok proksi Iran.
(mas)
Lihat Juga :