Iran Jawab Ancaman Trump: AS Sebaiknya Berhati-hati!
Senin, 22 Juni 2026 - 07:17 WIB
loading...
Iran peringatkan AS untuk berhati-hati setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menyerang Teheran lagi. Foto/Tasnim News Agency
A
A
A
TEHERAN - Kepala negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memperingatkan Amerika Serikat (AS) untuk berhati-hati. Peringatan itu sebagai jawaban atas ancaman Presiden AS Donald Trump yang akan menyerang Iran dengan sangat keras jika tidak mengendalikan kelompok Hizbullah Lebanon.
"Angkatan bersenjata kami siap untuk merespons," kata Ghalibaf, yang dilansir AFP, Senin (22/6/2026).
Baca Juga: Trump Ancam Serang Iran Sangat Keras Jika Tak Kendalikan Hizbullah!
"Tidakkah mereka berpikir bahwa jika ancaman mereka berpengaruh, mereka tidak akan mencapai keadaan putus asa seperti sekarang? Kami tidak memperhitungkan ancaman Amerika," lanjut Ghalibaf.
"Mereka sebaiknya berhati-hati dengan pernyataan mereka; angkatan bersenjata kami siap untuk merespons mereka dengan cara yang berbeda. Apa pun yang mereka katakan, kamilah yang bertindak," imbuh dia.
Sebelumnya pada hari Minggu, Trump telah mem-posting di platform Truth Social miliknya: “Iran harus segera menghentikan proksi mereka yang dibayar mahal di Lebanon agar tidak menimbulkan masalah.”
“Jika tidak, kami akan menyerang Iran dengan sangat keras lagi, seperti yang kami lakukan minggu lalu, hanya lebih keras!!!” imbuh Trump.
Ancaman dilontarkan ketika perundingan damai antara pejabat senior Washington dan Teheran dimulai di Swiss.
Negosiasi dibuka di tengah bentrokan beberapa hari terakhir antara militer Israel dan Hizbullah di Lebanon selatan. Rentetan bentrokan itu bisa mengancam menggagalkan kesepakatan perdamaian awal antara Teheran dan Washington.
Namun, hingga Minggu malam, belum ada laporan tentang serangan Israel di Lebanon atau pertempuran yang berlanjut.
Fars News Agency yang berafiliasi dengan negara Iran melaporkan bahwa ancaman Trump menyebabkan penangguhan perundingan—sebuah klaim yang belum segera dikonfirmasi oleh sumber resmi mana pun.
Pasal 1 Nota Kesepahaman (MoU) yang ditandatangani oleh Iran dan AS awal bulan ini secara khusus menyatakan bahwa kedua negara berjanji untuk menahan diri dari ancaman atau penggunaan kekerasan terhadap satu sama lain.
Pada awal perundingan di Swiss pada hari Minggu, Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan bahwa dia telah melihat kemajuan besar dalam beberapa hari terakhir untuk memastikan gencatan senjata tetap berlaku di Lebanon.
"Kita semua bekerja menuju perdamaian regional," katanya. "Saya merasa sangat senang dengan posisi kita di Lebanon. Masih ada beberapa hal yang perlu diselesaikan, tetapi kita akan terus berupaya," imbuh Vance.
Vance menegaskan bahwa Trump dan Amerika Serikat telah melakukan lebih banyak upaya untuk menghentikan konflik di Lebanon daripada negara lain mana pun dalam beberapa bulan terakhir.
"Angkatan bersenjata kami siap untuk merespons," kata Ghalibaf, yang dilansir AFP, Senin (22/6/2026).
Baca Juga: Trump Ancam Serang Iran Sangat Keras Jika Tak Kendalikan Hizbullah!
"Tidakkah mereka berpikir bahwa jika ancaman mereka berpengaruh, mereka tidak akan mencapai keadaan putus asa seperti sekarang? Kami tidak memperhitungkan ancaman Amerika," lanjut Ghalibaf.
"Mereka sebaiknya berhati-hati dengan pernyataan mereka; angkatan bersenjata kami siap untuk merespons mereka dengan cara yang berbeda. Apa pun yang mereka katakan, kamilah yang bertindak," imbuh dia.
Sebelumnya pada hari Minggu, Trump telah mem-posting di platform Truth Social miliknya: “Iran harus segera menghentikan proksi mereka yang dibayar mahal di Lebanon agar tidak menimbulkan masalah.”
“Jika tidak, kami akan menyerang Iran dengan sangat keras lagi, seperti yang kami lakukan minggu lalu, hanya lebih keras!!!” imbuh Trump.
Ancaman dilontarkan ketika perundingan damai antara pejabat senior Washington dan Teheran dimulai di Swiss.
Negosiasi dibuka di tengah bentrokan beberapa hari terakhir antara militer Israel dan Hizbullah di Lebanon selatan. Rentetan bentrokan itu bisa mengancam menggagalkan kesepakatan perdamaian awal antara Teheran dan Washington.
Namun, hingga Minggu malam, belum ada laporan tentang serangan Israel di Lebanon atau pertempuran yang berlanjut.
Fars News Agency yang berafiliasi dengan negara Iran melaporkan bahwa ancaman Trump menyebabkan penangguhan perundingan—sebuah klaim yang belum segera dikonfirmasi oleh sumber resmi mana pun.
Pasal 1 Nota Kesepahaman (MoU) yang ditandatangani oleh Iran dan AS awal bulan ini secara khusus menyatakan bahwa kedua negara berjanji untuk menahan diri dari ancaman atau penggunaan kekerasan terhadap satu sama lain.
Pada awal perundingan di Swiss pada hari Minggu, Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan bahwa dia telah melihat kemajuan besar dalam beberapa hari terakhir untuk memastikan gencatan senjata tetap berlaku di Lebanon.
"Kita semua bekerja menuju perdamaian regional," katanya. "Saya merasa sangat senang dengan posisi kita di Lebanon. Masih ada beberapa hal yang perlu diselesaikan, tetapi kita akan terus berupaya," imbuh Vance.
Vance menegaskan bahwa Trump dan Amerika Serikat telah melakukan lebih banyak upaya untuk menghentikan konflik di Lebanon daripada negara lain mana pun dalam beberapa bulan terakhir.
(mas)
Lihat Juga :