Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, Militer AS Waspada
Minggu, 21 Juni 2026 - 05:55 WIB
loading...
Militer AS menyatakan tetap hadir dan waspada di Selat Hormuz setelah militer Iran umumkan penutupan kembali jalur perairan global tersebut. Foto/US Navy
A
A
A
TEHERAN - Militer Amerika Serikat (AS) mengatakan mereka tetap "hadir dan waspada" di Selat Hormuz. Pernyataan itu disampaikan tak lama setelah militer Iran mengumumkan penutupan kembali jalur pelayaran penting tersebut pada hari Sabtu (20/6/2026).
"Pasukan AS tetap hadir dan waspada untuk memastikan semua aspek perjanjian dengan Iran dipatuhi, ditaati, dan berlaku sepenuhnya," kata Komando Pusat AS (CENTCOM) dalam sebuah pernyataan.
Baca Juga: Iran Tutup Lagi Selat Hormuz karena Israel Serang Lebanon
CENTCOM, yang mengawasi pasukan AS di Timur Tengah, mengatakan 55 kapal komersial telah melintasi selat tersebut pada hari Sabtu. "Jalur aman melalui jalur air internasional tetap utuh hari ini," katanya.
Militer Iran sebelumnya mengumumkan bahwa mereka sekali lagi menutup Selat Hormuz karena Israel menyerang Lebanon selatan. Teheran menganggap tindakan Israel sebagai pelanggaran kesepakatan damai Iran dengan AS.
“Dengan ini diumumkan bahwa Selat Hormuz akan ditutup untuk lalu lintas kapal. Perlu dicatat bahwa langkah pertama ini merupakan tanggapan atas pelanggaran janji musuh, dan jika agresi berlanjut, langkah-langkah lebih lanjut akan direncanakan dan diambil untuk memaksa musuh mematuhi kewajibannya,” kata Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Iran dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh televisi pemerintah.
Pengumuman militer Iran itu muncul ketika para negosiator Iran dan AS bersiap untuk bertemu di Swiss guna pembicaraan tentang implementasi kesepakatan 14 poin untuk mengakhiri perang Timur Tengah.
Negosiasi lanjutan telah direncanakan di Swiss pada hari Jumat, tetapi ditunda pada menit terakhir karena Israel melakukan serangkaian serangan mematikan di Lebanon setelah empat tentaranya tewas dalam pertempuran.
AS mengumumkan gencatan senjata baru di Lebanon pada Jumat sore—sebuah ketentuan dalam kesepakatan yang ditandatangani dengan Iran—tetapi pasukan Israel bentrok dengan milisi Hizbullah dan melakukan serangan lagi ke Lebanon pada hari Sabtu, di mana kedua pihak saling menuduh melanggar gencatan senjata baru tersebut.
Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memperingatkan kapal-kapal untuk tidak mendekati Selat Hormuz. "Jika tidak, keamanan mereka akan terancam," katanya.
Selat Hormuz, jalur penting untuk pengiriman minyak dan gas global, diblokade oleh Iran selama perang melawan AS dan Israel yang dimulai sejak 28 Februari.
Teheran telah setuju untuk membukanya kembali berdasarkan kesepakatan pendahuluan yang ditandatangani minggu ini oleh Presiden Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, dan lalu lintas pengiriman mulai pulih dalam beberapa hari terakhir.
Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya mengatakan setelah pengumuman tersebut bahwa pasukan mereka tetap hadir dan waspada untuk memastikan semua aspek perjanjian AS dengan Iran dipatuhi.
Delegasi Iran berangkat ke Swiss pada Sabtu sore, menurut laporan media pemerintah, dengan juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baqaei mengatakan mereka akan menuntut implementasi komitmen pihak lain berdasarkan kesepakatan tersebut sesegera mungkin.
"Jika tidak, seluruh kesepahaman akan bermasalah," katanya, menurut laporan IRNA.
Setelah menunda perjalanan yang direncanakan sehari sebelumnya, Wakil Presiden AS J.D. Vance mengatakan kepada Fox News pada hari Sabtu bahwa dia juga berharap untuk melakukan perjalanan ke Swiss untuk pembicaraan dalam beberapa hari ke depan. "Tetapi Anda tahu itu selalu merupakan tarian koordinasi yang rumit," ujarnya.
Negosiator AS Jared Kushner dan Steve Witkoff sudah berada di Swiss menangani "beberapa elemen teknis". "Semuanya berjalan dengan baik," kata Vance, beberapa saat sebelum pengumuman Iran tentang Selat Hormuz muncul.
Mediator Pakistan—yang menteri dalam negerinya dilaporkan berada di Iran pada hari Sabtu untuk pertemuan dengan para pejabat—mengatakan pembicaraan tingkat teknis dijadwalkan pada hari Minggu.
Pembicaraan di Swiss dimaksudkan untuk memulai periode negosiasi selama dua bulan untuk membahas isu-isu yang belum terselesaikan yang tidak tercakup dalam kesepakatan awal, terutama program nuklir Iran.
Kementerian Luar Negeri Swiss mengonfirmasi bahwa utusan asing yang tidak disebutkan namanya di sana terus berupaya untuk mempertahankan dialog, tetapi menolak untuk memberikan rincian lebih lanjut.
"Pasukan AS tetap hadir dan waspada untuk memastikan semua aspek perjanjian dengan Iran dipatuhi, ditaati, dan berlaku sepenuhnya," kata Komando Pusat AS (CENTCOM) dalam sebuah pernyataan.
Baca Juga: Iran Tutup Lagi Selat Hormuz karena Israel Serang Lebanon
CENTCOM, yang mengawasi pasukan AS di Timur Tengah, mengatakan 55 kapal komersial telah melintasi selat tersebut pada hari Sabtu. "Jalur aman melalui jalur air internasional tetap utuh hari ini," katanya.
Militer Iran sebelumnya mengumumkan bahwa mereka sekali lagi menutup Selat Hormuz karena Israel menyerang Lebanon selatan. Teheran menganggap tindakan Israel sebagai pelanggaran kesepakatan damai Iran dengan AS.
“Dengan ini diumumkan bahwa Selat Hormuz akan ditutup untuk lalu lintas kapal. Perlu dicatat bahwa langkah pertama ini merupakan tanggapan atas pelanggaran janji musuh, dan jika agresi berlanjut, langkah-langkah lebih lanjut akan direncanakan dan diambil untuk memaksa musuh mematuhi kewajibannya,” kata Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Iran dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh televisi pemerintah.
Pengumuman militer Iran itu muncul ketika para negosiator Iran dan AS bersiap untuk bertemu di Swiss guna pembicaraan tentang implementasi kesepakatan 14 poin untuk mengakhiri perang Timur Tengah.
Negosiasi lanjutan telah direncanakan di Swiss pada hari Jumat, tetapi ditunda pada menit terakhir karena Israel melakukan serangkaian serangan mematikan di Lebanon setelah empat tentaranya tewas dalam pertempuran.
AS mengumumkan gencatan senjata baru di Lebanon pada Jumat sore—sebuah ketentuan dalam kesepakatan yang ditandatangani dengan Iran—tetapi pasukan Israel bentrok dengan milisi Hizbullah dan melakukan serangan lagi ke Lebanon pada hari Sabtu, di mana kedua pihak saling menuduh melanggar gencatan senjata baru tersebut.
Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memperingatkan kapal-kapal untuk tidak mendekati Selat Hormuz. "Jika tidak, keamanan mereka akan terancam," katanya.
Selat Hormuz, jalur penting untuk pengiriman minyak dan gas global, diblokade oleh Iran selama perang melawan AS dan Israel yang dimulai sejak 28 Februari.
Teheran telah setuju untuk membukanya kembali berdasarkan kesepakatan pendahuluan yang ditandatangani minggu ini oleh Presiden Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, dan lalu lintas pengiriman mulai pulih dalam beberapa hari terakhir.
Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya mengatakan setelah pengumuman tersebut bahwa pasukan mereka tetap hadir dan waspada untuk memastikan semua aspek perjanjian AS dengan Iran dipatuhi.
Pembicaraan di Swiss
Delegasi Iran berangkat ke Swiss pada Sabtu sore, menurut laporan media pemerintah, dengan juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baqaei mengatakan mereka akan menuntut implementasi komitmen pihak lain berdasarkan kesepakatan tersebut sesegera mungkin.
"Jika tidak, seluruh kesepahaman akan bermasalah," katanya, menurut laporan IRNA.
Setelah menunda perjalanan yang direncanakan sehari sebelumnya, Wakil Presiden AS J.D. Vance mengatakan kepada Fox News pada hari Sabtu bahwa dia juga berharap untuk melakukan perjalanan ke Swiss untuk pembicaraan dalam beberapa hari ke depan. "Tetapi Anda tahu itu selalu merupakan tarian koordinasi yang rumit," ujarnya.
Negosiator AS Jared Kushner dan Steve Witkoff sudah berada di Swiss menangani "beberapa elemen teknis". "Semuanya berjalan dengan baik," kata Vance, beberapa saat sebelum pengumuman Iran tentang Selat Hormuz muncul.
Mediator Pakistan—yang menteri dalam negerinya dilaporkan berada di Iran pada hari Sabtu untuk pertemuan dengan para pejabat—mengatakan pembicaraan tingkat teknis dijadwalkan pada hari Minggu.
Pembicaraan di Swiss dimaksudkan untuk memulai periode negosiasi selama dua bulan untuk membahas isu-isu yang belum terselesaikan yang tidak tercakup dalam kesepakatan awal, terutama program nuklir Iran.
Kementerian Luar Negeri Swiss mengonfirmasi bahwa utusan asing yang tidak disebutkan namanya di sana terus berupaya untuk mempertahankan dialog, tetapi menolak untuk memberikan rincian lebih lanjut.
(mas)
Lihat Juga :