Pengaktifan Kembali Transit Lewat Selat Hormuz Mungkin Perlu Waktu Beberapa Pekan
Selasa, 16 Juni 2026 - 20:21 WIB
loading...
Kapal-kapal menunggu untuk melewati Selat Hormuz. Foto/mena
A
A
A
DOHA - Pemilik kapal tidak akan melanjutkan pelayaran melalui Selat Hormuz selama beberapa pekan hingga mereka yakin perjanjian Amerika Serikat-Iran itu bermakna. Perkiraan itu diungkap Jotaro Tamura, CEO operator tanker terbesar di dunia, Mitsui O.S.K. Lines (MOL).
"Yang harus terwujud bukanlah sekadar perjanjian sederhana antara negara-negara terkait, tetapi harus bersifat material dan diterjemahkan ke dalam situasi nyata di Selat Hormuz, sehingga perusahaan pelayaran dapat merasa nyaman untuk melewatinya... Mengingat pengalaman dalam beberapa bulan terakhir, saya pikir masuk akal untuk berasumsi mungkin akan memakan waktu setidaknya beberapa pekan atau bahkan sebulan," ungkap Tamura.
Tamura telah memperingatkan banyak operator akan menunggu sebelum melanjutkan pelayaran melalui selat tersebut, meskipun ada perjanjian AS-Iran, lapor surat kabar tersebut.
Pada hari Senin, MOL mengatakan pengumuman AS tidak mengubah pandangan CEO mereka.
Tamura mencatat sejak pecahnya konflik di Timur Tengah pada akhir Februari, telah ada beberapa upaya yang tidak berhasil untuk membuka kembali jalur air tersebut.
Selain itu, perusahaan pelayaran dan pemilik kapal lainnya mengatakan Organisasi Maritim Internasional (IMO), badan PBB, harus mengkoordinasikan keluarnya sekitar 500 kapal yang perlu melintasi selat tersebut agar mereka dapat meninggalkan Teluk Persia.
Sekretaris Jenderal IMO Arsenio Dominguez mengatakan organisasi tersebut sedang "menilai kelayakan bagi kapal untuk melintasi" dan terus berupaya menciptakan koridor evakuasi yang aman bagi para pelaut yang telah terjebak di Teluk Persia selama lebih dari 100 hari.
Pada hari Minggu, Presiden AS Donald Trump dan Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengkonfirmasi pekerjaan pada nota kesepahaman telah selesai, dengan dokumen tersebut diharapkan akan ditandatangani di Swiss pada 19 Juni.
Pada hari Senin, Trump mengatakan pembukaan kembali Selat Hormuz akan menyusul penandatanganan kesepakatan tersebut.
Baca juga: Trump: AS Tidak akan Bayar Iran Rp5 Triliun, Itu Berita Palsu
"Yang harus terwujud bukanlah sekadar perjanjian sederhana antara negara-negara terkait, tetapi harus bersifat material dan diterjemahkan ke dalam situasi nyata di Selat Hormuz, sehingga perusahaan pelayaran dapat merasa nyaman untuk melewatinya... Mengingat pengalaman dalam beberapa bulan terakhir, saya pikir masuk akal untuk berasumsi mungkin akan memakan waktu setidaknya beberapa pekan atau bahkan sebulan," ungkap Tamura.
Tamura telah memperingatkan banyak operator akan menunggu sebelum melanjutkan pelayaran melalui selat tersebut, meskipun ada perjanjian AS-Iran, lapor surat kabar tersebut.
Pada hari Senin, MOL mengatakan pengumuman AS tidak mengubah pandangan CEO mereka.
Tamura mencatat sejak pecahnya konflik di Timur Tengah pada akhir Februari, telah ada beberapa upaya yang tidak berhasil untuk membuka kembali jalur air tersebut.
Selain itu, perusahaan pelayaran dan pemilik kapal lainnya mengatakan Organisasi Maritim Internasional (IMO), badan PBB, harus mengkoordinasikan keluarnya sekitar 500 kapal yang perlu melintasi selat tersebut agar mereka dapat meninggalkan Teluk Persia.
Sekretaris Jenderal IMO Arsenio Dominguez mengatakan organisasi tersebut sedang "menilai kelayakan bagi kapal untuk melintasi" dan terus berupaya menciptakan koridor evakuasi yang aman bagi para pelaut yang telah terjebak di Teluk Persia selama lebih dari 100 hari.
Pada hari Minggu, Presiden AS Donald Trump dan Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengkonfirmasi pekerjaan pada nota kesepahaman telah selesai, dengan dokumen tersebut diharapkan akan ditandatangani di Swiss pada 19 Juni.
Pada hari Senin, Trump mengatakan pembukaan kembali Selat Hormuz akan menyusul penandatanganan kesepakatan tersebut.
Baca juga: Trump: AS Tidak akan Bayar Iran Rp5 Triliun, Itu Berita Palsu
(sya)
Lihat Juga :