Setelah 4 Bulan Berperang, Ini 7 Hal yang Membuat Iran Lebih Kuat
Senin, 15 Juni 2026 - 01:10 WIB
loading...
A
A
A
Laporan tersebut mencatat bahwa Iran masih memiliki kemampuan untuk bergerak menuju "status ambang batas" nuklir — artinya Iran dapat mengembangkan senjata nuklir jika memilihnya, tanpa harus membangunnya.
Secara regional, Iran terus menjalankan pengaruhnya melalui kelompok-kelompok sekutu termasuk Hizbullah, Hamas, dan militan Al Houthi.
IRGC sekarang dipandang sebagai kekuatan dominan dalam pengambilan keputusan di bidang keamanan, kebijakan luar negeri, dan sebagian pemerintahan.
Perilaku eksternal Iran juga telah berubah. New York Times melaporkan bahwa, untuk pertama kalinya dalam fase konflik ini, Iran secara langsung melancarkan serangan terhadap Israel daripada hanya mengandalkan kelompok proksi — sebuah tanda peningkatan toleransi risiko.
Seperti yang dikatakan seorang analis yang dikutip dalam laporan tersebut, ini mencerminkan pergeseran dari kehati-hatian di bawah kepemimpinan sebelumnya ke sikap yang lebih tegas di bawah struktur saat ini.
Iran juga menghubungkan berbagai medan perang — termasuk Lebanon dan Selat Hormuz — dengan posisi negosiasinya dengan Amerika Serikat.
Danny Citrinowicz, seorang pensiunan perwira intelijen militer Israel yang ahli dalam bidang Iran, mengatakan bahwa pengaruh Teheran tetap menjadi pusat strategi pencegahannya.
Ia memperingatkan bahwa kendali Iran atas Selat Hormuz memberinya "kartu untuk mencegah Israel dan Amerika Serikat menyerang lagi."
Ia menambahkan: "Perang yang dimaksudkan untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir mungkin malah mendorongnya melewati titik tanpa kembali."
Apa yang dicari Iran dalam negosiasi? Iran mendorong kesepahaman nuklir terbatas daripada pembongkaran total.
Secara regional, Iran terus menjalankan pengaruhnya melalui kelompok-kelompok sekutu termasuk Hizbullah, Hamas, dan militan Al Houthi.
4. Adanya Konsolidasi Kekuasaan Internal
Para analis mengatakan pergeseran terpenting adalah konsolidasi kekuasaan internal.IRGC sekarang dipandang sebagai kekuatan dominan dalam pengambilan keputusan di bidang keamanan, kebijakan luar negeri, dan sebagian pemerintahan.
Perilaku eksternal Iran juga telah berubah. New York Times melaporkan bahwa, untuk pertama kalinya dalam fase konflik ini, Iran secara langsung melancarkan serangan terhadap Israel daripada hanya mengandalkan kelompok proksi — sebuah tanda peningkatan toleransi risiko.
Seperti yang dikatakan seorang analis yang dikutip dalam laporan tersebut, ini mencerminkan pergeseran dari kehati-hatian di bawah kepemimpinan sebelumnya ke sikap yang lebih tegas di bawah struktur saat ini.
5. Iran Lebih Agresif
Ya, menurut analisis tersebut.Iran juga menghubungkan berbagai medan perang — termasuk Lebanon dan Selat Hormuz — dengan posisi negosiasinya dengan Amerika Serikat.
Danny Citrinowicz, seorang pensiunan perwira intelijen militer Israel yang ahli dalam bidang Iran, mengatakan bahwa pengaruh Teheran tetap menjadi pusat strategi pencegahannya.
Ia memperingatkan bahwa kendali Iran atas Selat Hormuz memberinya "kartu untuk mencegah Israel dan Amerika Serikat menyerang lagi."
Ia menambahkan: "Perang yang dimaksudkan untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir mungkin malah mendorongnya melewati titik tanpa kembali."
Apa yang dicari Iran dalam negosiasi? Iran mendorong kesepahaman nuklir terbatas daripada pembongkaran total.
Lihat Juga :