Iran Tembakkan Rudal Jelajah Qader ke Kapal Induk Amerika USS Abraham Lincoln
Kamis, 26 Maret 2026 - 06:30 WIB
loading...
A
A
A
Di front lain, pesawat tempur Israel membombardir pinggiran selatan Beirut, benteng kelompok militan Hizbullah yang didukung Iran.
Seorang koresponden AFP melihat jalan yang dipenuhi puing-puing, termasuk semen yang hancur dan logam yang bengkok setelah serangan pagi hari, sementara lantai atas sebuah gedung apartemen tampak rusak.
Lebanon terseret ke dalam perang ketika Hizbullah mulai menembakkan roket ke Israel pada 2 Maret untuk membalas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Menurut otoritas Lebanon, lebih dari 1.000 orang telah tewas dalam lebih dari tiga minggu serangan Israel dan lebih dari satu juta orang telah mengungsi.
Di kota Tyre, Lebanon selatan, yang hampir terisolasi dari bagian negara lainnya akibat bom, Khalil, seorang pria berusia 30-an, menyuarakan penentangannya. "Mereka harus mengambil kami dengan paksa," katanya kepada AFP.
Khalil tak peduli dengan operasi darat Israel dan bayang-bayang invasi besar-besaran. "Kami tidak ingin meninggalkan tanah kami...hati kami ada di sini," katanya, sembari berlindung bersama keluarga mudanya di sebuah teater.
Secara diplomatik, kedua pihak memberikan keterangan yang saling bertentangan meskipun para mediator di wilayah tersebut mengatakan bahwa pekerjaan sedang berlangsung di balik layar.
Seorang koresponden AFP melihat jalan yang dipenuhi puing-puing, termasuk semen yang hancur dan logam yang bengkok setelah serangan pagi hari, sementara lantai atas sebuah gedung apartemen tampak rusak.
Lebanon terseret ke dalam perang ketika Hizbullah mulai menembakkan roket ke Israel pada 2 Maret untuk membalas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Menurut otoritas Lebanon, lebih dari 1.000 orang telah tewas dalam lebih dari tiga minggu serangan Israel dan lebih dari satu juta orang telah mengungsi.
Di kota Tyre, Lebanon selatan, yang hampir terisolasi dari bagian negara lainnya akibat bom, Khalil, seorang pria berusia 30-an, menyuarakan penentangannya. "Mereka harus mengambil kami dengan paksa," katanya kepada AFP.
Khalil tak peduli dengan operasi darat Israel dan bayang-bayang invasi besar-besaran. "Kami tidak ingin meninggalkan tanah kami...hati kami ada di sini," katanya, sembari berlindung bersama keluarga mudanya di sebuah teater.
Secara diplomatik, kedua pihak memberikan keterangan yang saling bertentangan meskipun para mediator di wilayah tersebut mengatakan bahwa pekerjaan sedang berlangsung di balik layar.
Lihat Juga :