Bandara Teheran Terbakar usai Trump Umumkan Iran Akan Dihantam Sangat Keras
Minggu, 08 Maret 2026 - 11:57 WIB
loading...
Bandara Internasional Mehrabad di Teheran, Iran, terbakar akibat serangan AS dan Israel pada Sabtu malam. Foto/Screenshot video Al Jazeera
A
A
A
TEHERAN - Amerika Serikat (AS) dan Israel meluncurkan gelombang serangan udara baru terhadap Iran, dengan salah satunya memicu kebakaran hebat di bandara Teheran, Sabtu tengah malam. Gelombang serangan terjadi setelah Presiden AS Donald Trump pada hari Sabtu memperingatkan negara Islam itu akan dihantam sangat keras.
“Hari ini Iran akan dihantam sangat keras! Area dan kelompok orang yang sebelumnya tidak dipertimbangkan untuk ditargetkan hingga saat ini sedang dipertimbangkan secara serius untuk dihancurkan sepenuhnya dan menyebabkan kematian, karena perilaku buruk Iran,” tulis Trump di Truth Social saat Operasi Epic Fury pasukan AS memasuki minggu kedua.
Baca Juga: Inggris Bersiap Kerahkan Kapal Induk ke Timur Tengah, Perang Makin Panas
Beberapa jam setelah peringatan Trump, rekaman yang dibagikan di media sosial memperlihatkan bola api besar dan kepulan asap hitam yang membubung dari Bandara Internasional Mehrabad di Teheran yang merupakan markas besar maskapai penerbangan nasional Iran.
Sementara itu, Iran melancarkan gelombang serangan rudal dan drone terhadap negara-negara tetangganya di Teluk yang menampung pasukan AS dan bersumpah tidak akan menyerah meskipun ada ancaman dari Trump untuk memperluas konflik.
Dalam sebuah pernyataan, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Trump telah meremehkan kemampuan, tekad, dan niat Iran.
Bandara utama Dubai, pusat transportasi global yang penting, terpaksa ditutup sementara sejak hari Sabtu.
Serangan gencar Teheran terjadi meskipun Presiden Iran Masoud Pezeshkian telah meminta maaf kepada negara-negara tetangga atas serangan militernya, dan mengeklaim bahwa mereka tidak akan lagi menjadi sasaran kecuali serangan AS diluncurkan dari wilayah mereka.
Serangan dilaporkan pada hari Sabtu di Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Qatar, dan Kuwait, dengan Uni Emirat Arab mengatakan bahwa mereka menjadi sasaran 16 rudal balistik dan lebih dari 120 drone.
Konflik tersebut kemudian meluas ke Lebanon, serta Siprus, Turki, dan Azerbaijan, serta mencapai perairan lepas pantai Sri Lanka di mana pasukan AS menenggelamkan kapal perang Iran dengan torpedo yang ditembakkan dari kapal selam.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump telah mengisyaratkan bahwa AS dapat mengirim pasukan darat ke Iran untuk mengamankan persediaan uranium yang diperkaya negara itu, sebagai bagian dari upaya untuk membongkar program nuklir Teheran.
“Suatu saat nanti mungkin kita akan melakukannya. Itu akan menjadi hal yang hebat,” katanya kepada wartawan selama pengarahan di atas Air Force One pada hari Minggu (8/3/2026) WIB.
“Kita belum melakukannya, tetapi itu adalah sesuatu yang bisa kita lakukan nanti,” ujarnya.
Serangan udara dinilai tidak akan cukup untuk mencapai tujuan perang Trump, yakni menghancurkan kapasitas militer Iran dan mencegahnya mengembangkan bom nuklir.
Ketika ditanya tentang penggunaan pasukan darat secara umum, Trump tidak menampik kemungkinan tersebut, dengan mengatakan: “Mungkinkah? Mungkin, untuk alasan yang sangat bagus. Itu harus alasan yang sangat bagus.”
“Dan saya akan mengatakan jika kita pernah melakukan itu, mereka akan sangat hancur sehingga mereka tidak akan mampu bertempur di darat,” katanya, seperti dikutip news.com.au.
“Hari ini Iran akan dihantam sangat keras! Area dan kelompok orang yang sebelumnya tidak dipertimbangkan untuk ditargetkan hingga saat ini sedang dipertimbangkan secara serius untuk dihancurkan sepenuhnya dan menyebabkan kematian, karena perilaku buruk Iran,” tulis Trump di Truth Social saat Operasi Epic Fury pasukan AS memasuki minggu kedua.
Baca Juga: Inggris Bersiap Kerahkan Kapal Induk ke Timur Tengah, Perang Makin Panas
Beberapa jam setelah peringatan Trump, rekaman yang dibagikan di media sosial memperlihatkan bola api besar dan kepulan asap hitam yang membubung dari Bandara Internasional Mehrabad di Teheran yang merupakan markas besar maskapai penerbangan nasional Iran.
Sementara itu, Iran melancarkan gelombang serangan rudal dan drone terhadap negara-negara tetangganya di Teluk yang menampung pasukan AS dan bersumpah tidak akan menyerah meskipun ada ancaman dari Trump untuk memperluas konflik.
Dalam sebuah pernyataan, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Trump telah meremehkan kemampuan, tekad, dan niat Iran.
Bandara utama Dubai, pusat transportasi global yang penting, terpaksa ditutup sementara sejak hari Sabtu.
Serangan gencar Teheran terjadi meskipun Presiden Iran Masoud Pezeshkian telah meminta maaf kepada negara-negara tetangga atas serangan militernya, dan mengeklaim bahwa mereka tidak akan lagi menjadi sasaran kecuali serangan AS diluncurkan dari wilayah mereka.
Serangan dilaporkan pada hari Sabtu di Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Qatar, dan Kuwait, dengan Uni Emirat Arab mengatakan bahwa mereka menjadi sasaran 16 rudal balistik dan lebih dari 120 drone.
Konflik tersebut kemudian meluas ke Lebanon, serta Siprus, Turki, dan Azerbaijan, serta mencapai perairan lepas pantai Sri Lanka di mana pasukan AS menenggelamkan kapal perang Iran dengan torpedo yang ditembakkan dari kapal selam.
Trump Isyaratkan Kerahkan Pasukan Darat
Di sisi lain, Presiden Donald Trump telah mengisyaratkan bahwa AS dapat mengirim pasukan darat ke Iran untuk mengamankan persediaan uranium yang diperkaya negara itu, sebagai bagian dari upaya untuk membongkar program nuklir Teheran.
“Suatu saat nanti mungkin kita akan melakukannya. Itu akan menjadi hal yang hebat,” katanya kepada wartawan selama pengarahan di atas Air Force One pada hari Minggu (8/3/2026) WIB.
“Kita belum melakukannya, tetapi itu adalah sesuatu yang bisa kita lakukan nanti,” ujarnya.
Serangan udara dinilai tidak akan cukup untuk mencapai tujuan perang Trump, yakni menghancurkan kapasitas militer Iran dan mencegahnya mengembangkan bom nuklir.
Ketika ditanya tentang penggunaan pasukan darat secara umum, Trump tidak menampik kemungkinan tersebut, dengan mengatakan: “Mungkinkah? Mungkin, untuk alasan yang sangat bagus. Itu harus alasan yang sangat bagus.”
“Dan saya akan mengatakan jika kita pernah melakukan itu, mereka akan sangat hancur sehingga mereka tidak akan mampu bertempur di darat,” katanya, seperti dikutip news.com.au.
(mas)
Lihat Juga :