Langka, China Kawan Kental Rusia tapi Janjikan Bantuan kepada Ukraina

Selasa, 17 Februari 2026 - 10:15 WIB
loading...
Langka, China Kawan...
China menjanjikan bantuan energi kemanusiaan kepada Ukraina meski Beijing dikenal sebagai kawan dekat Rusia. Foto/X @andrii_sybiha
A A A
KYIV - China telah menjanjikan bantuan energi kemanusiaan kepada Kyiv setelah serangan Rusia menargetkan seluruh infrastruktur listrik Ukraina. Ini menjadi langkah langka bagi Beijing karena dikenal sebagai "kawan dekat" Moskow, yang bahkan keduanya menjalin kemitraan tanpa batas sejak Februari 2022.

Janji bantuan itu disampaikan Menteri Luar Negeri China Wang Yi saat bertemu Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha di sela-sela Konferensi Keamanan Munich pekan lalu.

Baca Juga: Zelensky Kesal Seluruh Pembangkit Listrik Ukraina Diserang Rusia, Sebut Putin Budak Perang

Sybiha mengatakan di media sosial bahwa dia berterima kasih atas keputusan China untuk memberikan paket bantuan energi tambahan. Laporan dari pihak Kyiv, menyebutkan bahwa Beijing menggambarkan pertemuan tersebut berfokus pada upaya perdamaian, hubungan bilateral, dan dukungan untuk sistem energi Ukraina—yang berulang kali menjadi sasaran serangan rudal dan drone Rusia.

China belum secara terbuka mengungkapkan ukuran atau cakupan paket bantuan tersebut.

Beijing berulang kali mengatakan pihaknya berupaya memainkan peran konstruktif dalam mengakhiri krisis dan mempertahankan posisinya bahwa mereka bukan pihak dalam konflik tersebut. Para pejabat China juga membantah telah memberikan bantuan militer mematikan kepada Moskow dan berpendapat bahwa mereka mendukung dialog dan penyelesaian politik.

Meski demikian, tak bisa dipungkiri bahwa China tetap menjadi pembeli utama minyak Rusia yang mendanai mesin perang Moskow.

Duta Besar AS untuk NATO Matthew Whitaker menyoroti janji bantuan China kepada Ukraina ketika Beijing memiliki kekuatan untuk menghentikan invasi Rusia tapi telah memilih untuk tidak melakukannya.

"China bisa menghubungi [Presiden Rusia] Vladimir Putin dan mengakhiri perang ini besok dan menghentikan teknologi dwifungsi yang mereka jual," kata Whitaker dalam panel kebijakan luar negeri AS di Konferensi Keamanan Munich, yang dimoderatori oleh Bloomberg.

"China bisa berhenti membeli minyak dan gas Rusia," ujarnya. "Anda tahu, perang ini sepenuhnya didukung oleh China," imbuh dia, yang dilansir Fox News, Selasa (17/2/2026).

Diplomat AS itu semakin menggambarkan China sebagai pendukung eksternal terpenting Rusia.

Whitaker mengatakan di Munich bahwa China memberikan "dukungan penting" untuk agresi Rusia. Sebelumnya, para pejabat Barat mengatakan Rusia sangat bergantung pada China untuk suku cadang dan komponen penting yang digunakan dalam drone dan peralatan perang lainnya, meskipun Beijing secara terbuka menjauhkan diri dari transfer senjata langsung.

China dan Rusia telah memperdalam kemitraan mereka sejak awal perang, memperluas perdagangan dan kerja sama keuangan. Moskow juga semakin bergantung pada teknologi, barang industri, dan saluran keuangan China seiring dengan pengetatan sanksi Barat.

Bahkan, China menjadi pembeli terbesar pengiriman minyak mentah Rusia. Data pelacakan menunjukkan bahwa sekitar 1,65 juta barel minyak mentah per hari dibongkar di pelabuhan China pada bulan Januari—level tertinggi sejak Maret 2024 dan total bulanan tertinggi kedua sejak invasi Moskow ke Ukraina pada tahun 2022.

Pembelian tersebut memberi Moskow aliran pendapatan penting karena pemerintah Barat berupaya membatasi pendanaan perang Rusia melalui sanksi dan pembatasan harga.

Bagi pemerintah Eropa yang mempertimbangkan langkah-langkah tambahan terhadap entitas China yang dituduh memasok barang-barang dwifungsi ke Rusia, upaya kemanusiaan Beijing untuk Kyiv memperumit gambaran diplomatik.

Namun, bagi Washington, kerangka kerja di Munich sangat jelas: China memiliki pengaruh ekonomi dan teknologi untuk mengubah perhitungan Rusia.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rusia Tuding NATO Akan...
Rusia Tuding NATO Akan Gelar Operasi Barbarossa Hitler pada 2030, Apakah Akan Berhasil?
Rusia Tembak Jatuh 80...
Rusia Tembak Jatuh 80 Drone Ukraina, Kremlin Luncurkan Rudal Balistik Iskander
Menhan Negara NATO Salahkan...
Menhan Negara NATO Salahkan Trump atas Penutupan Selat Hormuz
AS Kerahkan Sistem Rudal...
AS Kerahkan Sistem Rudal Canggih Typhon ke Jepang, Dapat Menargetkan China
Gunakan Mode Autopilot,...
Gunakan Mode Autopilot, Mobil Tesla Ini Malah Tabrak Rumah dan Tewaskan Penghuninya
Mengejutkan, 92% Warga...
Mengejutkan, 92% Warga Israel Yakin Iran Telah Menang Perang
Timnas Iran Tinggalkan...
Timnas Iran Tinggalkan Surat Tulisan Tangan di Ruang Ganti Piala Dunia 2026
Israel Bom Lebanon,...
Israel Bom Lebanon, Iran Murka Bakal Kembali Tutup Selat Hormuz
AS Janji Ubah Hubungan...
AS Janji Ubah Hubungan dengan Iran secara Drastis, jika...
Rekomendasi
Sambut 5 Abad Jakarta,...
Sambut 5 Abad Jakarta, Cibis Park Satukan Jazz Modern dan Betawi dalam Panggung Budaya Urban
Dari Sopir Bus Mendadak...
Dari Sopir Bus Mendadak Jadi Pemimpin Negara? Ini Serunya Microdrama Love In A Fallen Nation di V+Short
Dorong Ekonomi Desa...
Dorong Ekonomi Desa Binaan, Program Genera-Z Berbakti BCA Siap Masuki Fase Implementasi
Berita Terkini
Rusia Tuding NATO Akan...
Rusia Tuding NATO Akan Gelar Operasi Barbarossa Hitler pada 2030, Apakah Akan Berhasil?
Siapa Ahmed Wishah?...
Siapa Ahmed Wishah? Jurnalis Al Jazeera yang Dibunuh Israel
Rusia Tembak Jatuh 80...
Rusia Tembak Jatuh 80 Drone Ukraina, Kremlin Luncurkan Rudal Balistik Iskander
6 PM dalam 10 Tahun...
6 PM dalam 10 Tahun 44 Hari, Seperti Apa Politik Antrean di Inggris?
Jepang Naikkan Biaya...
Jepang Naikkan Biaya Visa sebanyak Lima Kali Lipat, Apa Pemicunya?
Tuntut Menteri Pendidikan...
Tuntut Menteri Pendidikan Mundur, Pendukung Partai Kecoa Berkemah di Jalanan
Infografis
AS Siapkan 100 Hari...
AS Siapkan 100 Hari Lagi untuk Damaikan Rusia dan Ukraina
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved