Langka, AS Kumpulkan Kepala Militer 34 Negara di Washington, Ada Apa?
Kamis, 12 Februari 2026 - 13:35 WIB
loading...
Para kepala militer dari 34 negara berkumpul di sebuah hotel di Washington, AS. Foto/The New York Times/Eric Lee
A
A
A
WASHINGTON - Para kepala militer dari puluhan negara telah berkumpul pada hari Rabu di Washington, Amerika Serikat (AS), untuk pertama kalinya. Pertemuan langka ini untuk membahas berbagai masalah keamanan, yang menurut pemerintahan Presiden Donald Trump sangat penting untuk melindungi AS.
Menurut laporan The New York Times, Kamis (12/2/2026), pertemuan untuk memperkuat kerja sama regional ini diselenggarakan oleh Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine.
Pertemuan ini mempertemukan para pemimpin militer terkemuka dari 34 negara, kata para pejabat Pentagon.
Baca Juga: NATO Akui Kalah Cepat dari Militer Rusia dalam Adaptasi Teknologi Medan Perang
Para pejabat AS sebelumnya mengatakan bahwa para peserta mencakup kepala militer dari negara-negara seperti Denmark, Inggris, dan Prancis yang memiliki wilayah di kawasan Belahan Barat.
Selama acara seharian di sebuah hotel di Washington, Jenderal Caine memimpin diskusi tentang strategi keamanan dan pertahanan nasional baru pemerintahan, yang memprioritaskan Belahan Barat di atas Asia dan Timur Tengah, menurut para pejabat yang diberi pengarahan tentang konferensi tersebut.
Jenderal Francis L. Donovan, kepala Komando Selatan yang baru, yang mengawasi operasi AS di Amerika Latin dan Karibia, mendesak koordinasi lebih lanjut untuk memerangi perdagangan narkoba dan kelompok kriminal transnasional di wilayah tersebut. Demikian disampaikan para pejabat AS, yang berbicara dengan syarat anonim untuk membahas detail konferensi langka tersebut.
Lebih lanjut, para pejabat AS mengatakan Jenderal Gregory M. Guillot, kepala Komando Utara AS, yang mengawasi pertahanan dalam negeri dan Greenland, berbicara tentang kontrol perbatasan dan bagaimana sensor canggih—di ruang angkasa, di darat, di udara, dan di laut—dapat membantu negara-negara memantau perbatasan mereka.
Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyampaikan pidato pembukaan pertemuan tersebut. Joseph M. Humire, penjabat asisten menteri pertahanan untuk pertahanan dalam negeri dan Amerika, mem-posting sebagian dari pidato Hegseth di media sosial di mana menteri pertahanan mengatakan Amerika Serikat "sedang menyerang" melawan "teroris narkoba" di "belahan bumi kita."
“Kita harus bekerja sama untuk mencegah musuh atau pelaku kriminal mana pun mengeksploitasi wilayah Anda atau menggunakan infrastruktur Anda untuk mengancam apa yang pernah disebut oleh mantan presiden Amerika yang hebat, Teddy Roosevelt, sebagai ‘perdamaian abadi di belahan bumi ini',” kata Hegseth, menurut unggahan Humire.
Hegseth meninggalkan hotel setelah menyampaikan pidato pembukaannya, menurut seorang pejabat AS yang berbicara dengan syarat anonim karena dia tidak berwenang untuk berbicara secara terbuka tentang pertemuan tersebut.
Pejabat tersebut mengatakan pertemuan itu mirip dengan acara temu sapa bagi banyak peserta, selain diskusi tentang strategi dan rencana masa depan untuk kawasan tersebut.
Di antara sesi, puluhan perwira dan anggota militer dari angkatan darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara dari berbagai negara berkumpul di lobi hotel, mengobrol dan memeriksa ponsel mereka.
Presiden Trump dan para penasihat keamanan nasionalnya juga bertemu di Washington pada hari Rabu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Jenderal Caine, mantan pilot pesawat tempur F-16 dan penghubung Pentagon dengan CIA, memiliki pengalaman terbatas di Amerika Latin. Pada akhir November, dia mengunjungi Trinidad dan Tobago, sebuah negara kecil di Karibia yang merupakan area pelatihan bagi Korps Marinir sebelum serangan AS bulan lalu yang menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro. Para pemimpin Trinidad berupaya memperluas hubungan militer dengan Pentagon.
Pada tahun pertamanya sebagai ketua Kepala Staf Gabungan, Jenderal Caine telah memenangkan kepercayaan Gedung Putih dan Hegseth, mengawasi operasi militer AS yang sukses untuk mengebom tiga situs nuklir Iran Juni lalu dan serangan terhadap Maduro. Sekarang para atasannya di tingkat sipil telah menugaskannya langkah-langkah besar pertama dalam meningkatkan kerja sama militer di Amerika.
Pertemuan tersebut menggarisbawahi potensi implikasi militer dari "Doktrin Donroe" pemerintahan Trump, sebuah pembaruan Doktrin Monroe tahun 1823 ala Trump, yang menegaskan klaim AS atas Belahan Barat, serta strategi keamanan baru yang memprioritaskan kawasan belahan bumi tersebut.
Para ajudan Jenderal Caine dan pejabat militer AS lainnya menggambarkan pertemuan pada hari Rabu sebagai upaya memperkuat kerja sama keamanan di antara mitra regional, tetapi pertemuan ini terjadi pada saat yang genting bagi hubungan Washington dengan negara-negara tetangganya serta sekutu di Eropa.
Ketegangan meningkat akibat serangan komando AS di Venezuela dan perdebatan sengit baru-baru ini antara Trump dan sekutu Eropa mengenai masa depan Greenland.
Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyampaikan pidato yang tegas di Davos, Swiss, bulan lalu yang menggambarkan berakhirnya era yang didukung oleh hegemoni AS. Dia menyebut fase saat ini sebagai "keretakan".
Amerika Serikat meningkatkan tekanan pada Meksiko untuk mengizinkan pasukan militer Amerika atau pun CIA memasuki wilayah tersebut. Menurut pejabat AS, para petugas akan melakukan operasi gabungan untuk membongkar laboratorium fentanyl di dalam negeri. Dorongan ini muncul ketika Presiden Trump mendesak pemerintah Meksiko memberikan peran yang lebih besar kepada Amerika Serikat dalam perang melawan kartel narkoba yang memproduksi fentanyl dan menyelundupkannya ke Amerika Serikat.
Bulan lalu juga terjadi peningkatan ketegangan dan kemudian meredanya perebutan Greenland. Trump mengatakan Amerika Serikat membutuhkan Greenland untuk keamanan nasional.
Setelah mengancam akan merebut pulau itu dengan paksa, dia memberi sinyal bahwa dia terbuka untuk kompromi. Bahkan, para pemimpin militer NATO diperkirakan akan membahas kemungkinan misi Arktik akhir pekan ini.
Setelah konferensi di Washington, staf Kepala Staf Gabungan merilis pernyataan pada Rabu malam yang mengatakan bahwa para pejabat militer yang berkumpul telah membahas “tantangan keamanan regional bersama” seperti organisasi kriminal transnasional dan perdagangan narkoba. Pernyataan itu juga mengatakan bahwa Jenderal Caine telah berbicara tentang membangun kepercayaan dan “bekerja sama untuk memajukan keamanan kolektif di seluruh belahan bumi” dengan rekan-rekannya di Amerika.
Menurut laporan The New York Times, Kamis (12/2/2026), pertemuan untuk memperkuat kerja sama regional ini diselenggarakan oleh Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine.
Pertemuan ini mempertemukan para pemimpin militer terkemuka dari 34 negara, kata para pejabat Pentagon.
Baca Juga: NATO Akui Kalah Cepat dari Militer Rusia dalam Adaptasi Teknologi Medan Perang
Para pejabat AS sebelumnya mengatakan bahwa para peserta mencakup kepala militer dari negara-negara seperti Denmark, Inggris, dan Prancis yang memiliki wilayah di kawasan Belahan Barat.
Selama acara seharian di sebuah hotel di Washington, Jenderal Caine memimpin diskusi tentang strategi keamanan dan pertahanan nasional baru pemerintahan, yang memprioritaskan Belahan Barat di atas Asia dan Timur Tengah, menurut para pejabat yang diberi pengarahan tentang konferensi tersebut.
Jenderal Francis L. Donovan, kepala Komando Selatan yang baru, yang mengawasi operasi AS di Amerika Latin dan Karibia, mendesak koordinasi lebih lanjut untuk memerangi perdagangan narkoba dan kelompok kriminal transnasional di wilayah tersebut. Demikian disampaikan para pejabat AS, yang berbicara dengan syarat anonim untuk membahas detail konferensi langka tersebut.
Lebih lanjut, para pejabat AS mengatakan Jenderal Gregory M. Guillot, kepala Komando Utara AS, yang mengawasi pertahanan dalam negeri dan Greenland, berbicara tentang kontrol perbatasan dan bagaimana sensor canggih—di ruang angkasa, di darat, di udara, dan di laut—dapat membantu negara-negara memantau perbatasan mereka.
Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyampaikan pidato pembukaan pertemuan tersebut. Joseph M. Humire, penjabat asisten menteri pertahanan untuk pertahanan dalam negeri dan Amerika, mem-posting sebagian dari pidato Hegseth di media sosial di mana menteri pertahanan mengatakan Amerika Serikat "sedang menyerang" melawan "teroris narkoba" di "belahan bumi kita."
“Kita harus bekerja sama untuk mencegah musuh atau pelaku kriminal mana pun mengeksploitasi wilayah Anda atau menggunakan infrastruktur Anda untuk mengancam apa yang pernah disebut oleh mantan presiden Amerika yang hebat, Teddy Roosevelt, sebagai ‘perdamaian abadi di belahan bumi ini',” kata Hegseth, menurut unggahan Humire.
Hegseth meninggalkan hotel setelah menyampaikan pidato pembukaannya, menurut seorang pejabat AS yang berbicara dengan syarat anonim karena dia tidak berwenang untuk berbicara secara terbuka tentang pertemuan tersebut.
Pejabat tersebut mengatakan pertemuan itu mirip dengan acara temu sapa bagi banyak peserta, selain diskusi tentang strategi dan rencana masa depan untuk kawasan tersebut.
Di antara sesi, puluhan perwira dan anggota militer dari angkatan darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara dari berbagai negara berkumpul di lobi hotel, mengobrol dan memeriksa ponsel mereka.
Presiden Trump dan para penasihat keamanan nasionalnya juga bertemu di Washington pada hari Rabu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Jenderal Caine, mantan pilot pesawat tempur F-16 dan penghubung Pentagon dengan CIA, memiliki pengalaman terbatas di Amerika Latin. Pada akhir November, dia mengunjungi Trinidad dan Tobago, sebuah negara kecil di Karibia yang merupakan area pelatihan bagi Korps Marinir sebelum serangan AS bulan lalu yang menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro. Para pemimpin Trinidad berupaya memperluas hubungan militer dengan Pentagon.
Pada tahun pertamanya sebagai ketua Kepala Staf Gabungan, Jenderal Caine telah memenangkan kepercayaan Gedung Putih dan Hegseth, mengawasi operasi militer AS yang sukses untuk mengebom tiga situs nuklir Iran Juni lalu dan serangan terhadap Maduro. Sekarang para atasannya di tingkat sipil telah menugaskannya langkah-langkah besar pertama dalam meningkatkan kerja sama militer di Amerika.
Pertemuan tersebut menggarisbawahi potensi implikasi militer dari "Doktrin Donroe" pemerintahan Trump, sebuah pembaruan Doktrin Monroe tahun 1823 ala Trump, yang menegaskan klaim AS atas Belahan Barat, serta strategi keamanan baru yang memprioritaskan kawasan belahan bumi tersebut.
Para ajudan Jenderal Caine dan pejabat militer AS lainnya menggambarkan pertemuan pada hari Rabu sebagai upaya memperkuat kerja sama keamanan di antara mitra regional, tetapi pertemuan ini terjadi pada saat yang genting bagi hubungan Washington dengan negara-negara tetangganya serta sekutu di Eropa.
Ketegangan meningkat akibat serangan komando AS di Venezuela dan perdebatan sengit baru-baru ini antara Trump dan sekutu Eropa mengenai masa depan Greenland.
Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyampaikan pidato yang tegas di Davos, Swiss, bulan lalu yang menggambarkan berakhirnya era yang didukung oleh hegemoni AS. Dia menyebut fase saat ini sebagai "keretakan".
Amerika Serikat meningkatkan tekanan pada Meksiko untuk mengizinkan pasukan militer Amerika atau pun CIA memasuki wilayah tersebut. Menurut pejabat AS, para petugas akan melakukan operasi gabungan untuk membongkar laboratorium fentanyl di dalam negeri. Dorongan ini muncul ketika Presiden Trump mendesak pemerintah Meksiko memberikan peran yang lebih besar kepada Amerika Serikat dalam perang melawan kartel narkoba yang memproduksi fentanyl dan menyelundupkannya ke Amerika Serikat.
Bulan lalu juga terjadi peningkatan ketegangan dan kemudian meredanya perebutan Greenland. Trump mengatakan Amerika Serikat membutuhkan Greenland untuk keamanan nasional.
Setelah mengancam akan merebut pulau itu dengan paksa, dia memberi sinyal bahwa dia terbuka untuk kompromi. Bahkan, para pemimpin militer NATO diperkirakan akan membahas kemungkinan misi Arktik akhir pekan ini.
Setelah konferensi di Washington, staf Kepala Staf Gabungan merilis pernyataan pada Rabu malam yang mengatakan bahwa para pejabat militer yang berkumpul telah membahas “tantangan keamanan regional bersama” seperti organisasi kriminal transnasional dan perdagangan narkoba. Pernyataan itu juga mengatakan bahwa Jenderal Caine telah berbicara tentang membangun kepercayaan dan “bekerja sama untuk memajukan keamanan kolektif di seluruh belahan bumi” dengan rekan-rekannya di Amerika.
(mas)
Lihat Juga :