Setelah Operasi Venezuela, AS Kerahkan 3 Kapal Perang ke Negara Miskin Ini, Apa Rencana Trump?

Kamis, 05 Februari 2026 - 10:32 WIB
loading...
Setelah Operasi Venezuela,...
Setelah operasi di Venezuela, AS sekarang mengerahkan tiga kapal perang ke Haiti. Foto/X @Southcom
A A A
WASHINGTON - Hanya satu bulan setelah pasukan khusus Amerika Serikat (AS) menculik Presiden Venezuela Nicolás Maduro dalam serangan "Operation Southern Spear", pemerintahan Presiden Donald Trump kini mengalihkan perhatiannya ke negara paling tidak stabil dan termiskin di Belahan Barat; Haiti.

Sekitar tiga kapal perang Amerika, termasuk USS Stockdale, USCGC Stone, dan USCGC Diligence, memasuki Teluk Port-au-Prince Haiti awal pekan ini di tengah meningkatnya kekerasan geng dan ketidakstabilan politik yang berkelanjutan di negara Karibia tersebut.

"Pengerahan ini dimaksudkan untuk mencerminkan komitmen teguh Amerika Serikat terhadap keamanan, stabilitas, dan masa depan Haiti yang lebih cerah,” kata Kedutaan Besar AS di Haiti dalam sebuah unggahan di X, sebagaimana dikutip dari EurAsian Times, Kamis (5/2/2026).

Baca Juga: Iran Ungkap Terowongan Rudal Bawah Laut, Ancaman Mengerikan bagi Kapal-kapal Perang AS

USS Stockdale adalah kapal perusak rudal berpemandu kelas Arleigh Burke yang mampu melakukan peperangan anti-udara, anti-permukaan, dan anti-kapal selam, berkat desainnya yang canggih dan kemampuan teknologi mutakhir. Kapal ini merupakan bagian dari armada Karibia Amerika yang dikerahkan untuk operasi anti-narkotika di wilayah tersebut tahun lalu.

Sementara itu, USCGC Stone dan USCGC Diligence adalah kapal Penjaga Pantai AS aktif yang digunakan untuk keamanan maritim, penegakan hukum, pencarian dan penyelamatan, dan misi lainnya. Kapal-kapal ini sering bekerja bersama Angkatan Laut dalam misi di Belahan Barat, khususnya untuk melawan kejahatan transnasional yang memengaruhi tempat-tempat seperti Haiti.

Menurut pernyataan tersebut, armada kapal perang ini dikirim atas arahan Menteri Perang Pete Hegseth sebagai bagian dari “Operation Southern Spear", sebuah operasi militer AS yang dimulai tahun lalu dengan tujuan mendeteksi, mengganggu, dan melemahkan jaringan kriminal transnasional dan jaringan maritim ilegal.

Faktanya, operasi ini diyakini sebagai perpaduan antara perang melawan narkoba Amerika dan perang melawan kekerasan di Belahan Barat, yang dianggap AS sebagai halaman belakangnya, dan ingin diamankan sepenuhnya.

"Operation Southern Spear" sejauh ini telah menewaskan lebih dari 100 orang dalam serangan kapal terhadap terduga pengedar narkoba di Karibia dan Pasifik Timur.

Meskipun demikian, pengerahan kapal perang AS ke Haiti menarik perhatian karena, tidak seperti negara-negara seperti Venezuela, yang memiliki sumber daya minyak utama yang telah menarik minat Amerika Serikat, atau Iran, saingan strategis utama yang kaya sumber daya dengan ambisi nuklir, Haiti adalah negara miskin yang termasuk di antara negara-negara termiskin di dunia.

Mengapa Kapal Perang AS Berada di Dekat Haiti?


Sementara pemerintah Nicolas Maduro di Venezuela dituduh mendukung perdagangan narkoba ke AS, Haiti menjadi sorotan karena kekerasan geng yang merajalela, ketidakstabilan politik, dan bencana kemanusiaan, di antara hal-hal lainnya.

Terletak beberapa ratus mil dari Florida, Amerika Serikat, Haiti tetap dilanda kekacauan sejak Presiden Jovenel Moïse dibunuh pada Juli 2021. Pemerintah pada dasarnya tidak berfungsi, ekonomi praktis terhenti, layanan dasar gagal, dan geng-geng sekarang mengendalikan hampir 90% ibu kota, Port-au-Prince.

Organisasi Internasional untuk Migrasi PBB melaporkan bahwa sekitar dua juta orang mengalami kerawanan pangan yang parah dan lebih dari 1,4 juta orang telah mengungsi di dalam negeri akibat kekerasan dan anarki.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kelompok Perlawanan...
Kelompok Perlawanan Irak Tawarkan Hadiah Rp179 Miliar untuk Pembunuhan Trump
Menlu Iran: Israel Gunakan...
Menlu Iran: Israel Gunakan Uang Pajak AS untuk Bungkam Kritikus AS
China Sangkal Tudingan...
China Sangkal Tudingan Trump tentang Campur Tangan Pemilu AS
7 Tempat Penyimpanan...
7 Tempat Penyimpanan Emas Terbesar di Dunia, Ada yang Dijaga di Bawah Tanah hingga Benteng Super Ketat
Iran Murka AS Serang...
Iran Murka AS Serang Wilayah dan Infrastruktur Sipil, Ini Daftarnya
China Ungguli AS dalam...
China Ungguli AS dalam Popularitas Global, Xi Jinping Dianggap Lebih Positif daripada Trump
Trump Batal Pungut Biaya...
Trump Batal Pungut Biaya 20% di Selat Hormuz, Negara Teluk Janji Investasi Jumbo ke AS
Sampaikan Belasungkawa,...
Sampaikan Belasungkawa, Menlu RI Tekankan Peran Sheikh Hamad bagi Persahabatan Indonesia-Qatar
Iran Tolak Negosiasi...
Iran Tolak Negosiasi dengan AS saat Ini, Fokus Perang
Rekomendasi
Hukum Menikah di Bulan...
Hukum Menikah di Bulan Safar, Benarkah Membawa Sial? Ini Dalil dan Penjelasan Ulama
BI Injeksi Likuiditas...
BI Injeksi Likuiditas Rp837,11 Triliun, Tekanan di Pasar Uang Mulai Reda
Mantan Menkeu Ungkap...
Mantan Menkeu Ungkap 3 Gol Besar Sistem Ekspor Satu Pintu yang Dipuji S&P
Berita Terkini
Beberapa Personel Militer...
Beberapa Personel Militer Kuwait Terluka dalam Serangan Iran
Kelompok Perlawanan...
Kelompok Perlawanan Irak Tawarkan Hadiah Rp179 Miliar untuk Pembunuhan Trump
Menlu Iran: Israel Gunakan...
Menlu Iran: Israel Gunakan Uang Pajak AS untuk Bungkam Kritikus AS
China Sangkal Tudingan...
China Sangkal Tudingan Trump tentang Campur Tangan Pemilu AS
Yaman Memanas, Houthi...
Yaman Memanas, Houthi Ancam Serang Fasilitas Minyak di Arab Saudi
7 Tempat Penyimpanan...
7 Tempat Penyimpanan Emas Terbesar di Dunia, Ada yang Dijaga di Bawah Tanah hingga Benteng Super Ketat
Infografis
2 Negara NATO akan Kirim...
2 Negara NATO akan Kirim Jet Tempur dan Kapal Perang ke Ukraina
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved