2 Kota Iran Diguncang Ledakan Tewaskan 5 Orang, Diklaim Bukan Serangan AS
Minggu, 01 Februari 2026 - 10:07 WIB
loading...
Bangunan di Bandar Abbas, Iran, rusak setelah ledakan hebat mengguncang kota tersebut dan kota Ahvaz. Total 5 orang tewas dalam dua ledakan ini. Foto/via Iran International
A
A
A
TEHERAN - Dua kota di Iran telah diguncang ledakan hebat pada hari Sabtu. Lima orang tewas dan 14 lainnya terluka dalam dua ledakan tersebut, yang menurut pihak berwenang bukan akibat serangan Amerika Serikat (AS).
Setidaknya satu orang tewas dan 14 luka-luka dalam ledakan di kota pelabuhan Bandar Abbas, yang menurut kepala pemadam kebakaran setempat; Mohammad Amin Lyaghat, disebabkan oleh kebocoran gas.
Baca Juga: Intel Barat Nyatakan Iran Tak Membuat Bom Nuklir, Apa Dalih AS untuk Menyerang Teheran?
"Penyebab awal insiden bangunan di Bandar Abbas adalah kebocoran dan penumpukan gas, yang menyebabkan ledakan. Ini adalah teori awal," kata Lyaghat, dalam komentar yang disiarkan di stasiun televisi pemerintah.
Kantor berita Tasnim melaporkan ada laporan yang bereda media sosial yang menyebut seorang komandan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menjadi sasaran ledakan. Namun, menurut Tasnim, laporan itu sama sekali tidak benar.
Media Iran tersebut menyatakan ledakan itu sedang diselidiki tetapi tidak memberikan informasi lebih lanjut. Pihak berwenang Iran tidak dapat segera dihubungi untuk memberikan komentar.
Bandar Abbas, rumah bagi pelabuhan kontainer terpenting Iran, terletak di Selat Hormuz, jalur air vital antara Iran dan Oman yang menangani sekitar seperlima dari minyak dunia yang diangkut melalui laut.
Pelabuhan tersebut mengalami ledakan besar pada April lalu yang menewaskan puluhan orang dan melukai lebih dari 1.000 orang. Komite investigasi pada saat itu menyalahkan ledakan tersebut karena kurangnya kepatuhan terhadap prinsip-prinsip pertahanan dan keamanan sipil.
Secara terpisah, empat orang tewas setelah ledakan gas di kota Ahvaz dekat perbatasan Irak, menurut Teheran Times yang dikelola pemerintah. Tidak ada informasi lebih lanjut yang segera tersedia.
Stasiun televisi pemerintah melaporkan ada kepulan asap di Parand, pinggiran ibu kota, tapi itu disebabkan oleh kebakaran kecil di semak-semak.
Dua pejabat Israel mengatakan kepada Reuters, Minggu (1/2/2026), bahwa Israel tidak terlibat dalam ledakan di Iran pada hari Sabtu, yang terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Teheran dan Washington atas tindakan keras Iran terhadap protes nasional dan atas program nuklir negara tersebut.
Presiden AS Donald Trump mengatakan pada hari Kamis bahwa sebuah armada besar sedang menuju Iran. Beberapa sumber mengatakan pada hari Jumat bahwa Trump sedang mempertimbangkan berbagai opsi terhadap Iran, termasuk serangan terarah terhadap pasukan keamanan.
Sebelumnya pada hari Sabtu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menuduh para pemimpin AS, Israel, dan Eropa mengeksploitasi masalah ekonomi Iran, menghasut kerusuhan, dan memberi orang-orang sarana untuk "merusak negara."
Iran telah diguncang oleh protes nasional yang pecah pada bulan Desember karena kesulitan ekonomi dan telah menimbulkan salah satu tantangan terberat bagi penguasa ulama negara itu. Setidaknya 5.000 orang tewas dalam protes tersebut, termasuk 500 anggota pasukan keamanan, kata seorang pejabat Iran kepada Reuters.
Setidaknya satu orang tewas dan 14 luka-luka dalam ledakan di kota pelabuhan Bandar Abbas, yang menurut kepala pemadam kebakaran setempat; Mohammad Amin Lyaghat, disebabkan oleh kebocoran gas.
Baca Juga: Intel Barat Nyatakan Iran Tak Membuat Bom Nuklir, Apa Dalih AS untuk Menyerang Teheran?
"Penyebab awal insiden bangunan di Bandar Abbas adalah kebocoran dan penumpukan gas, yang menyebabkan ledakan. Ini adalah teori awal," kata Lyaghat, dalam komentar yang disiarkan di stasiun televisi pemerintah.
Kantor berita Tasnim melaporkan ada laporan yang bereda media sosial yang menyebut seorang komandan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menjadi sasaran ledakan. Namun, menurut Tasnim, laporan itu sama sekali tidak benar.
Media Iran tersebut menyatakan ledakan itu sedang diselidiki tetapi tidak memberikan informasi lebih lanjut. Pihak berwenang Iran tidak dapat segera dihubungi untuk memberikan komentar.
Bandar Abbas, rumah bagi pelabuhan kontainer terpenting Iran, terletak di Selat Hormuz, jalur air vital antara Iran dan Oman yang menangani sekitar seperlima dari minyak dunia yang diangkut melalui laut.
Pelabuhan tersebut mengalami ledakan besar pada April lalu yang menewaskan puluhan orang dan melukai lebih dari 1.000 orang. Komite investigasi pada saat itu menyalahkan ledakan tersebut karena kurangnya kepatuhan terhadap prinsip-prinsip pertahanan dan keamanan sipil.
Secara terpisah, empat orang tewas setelah ledakan gas di kota Ahvaz dekat perbatasan Irak, menurut Teheran Times yang dikelola pemerintah. Tidak ada informasi lebih lanjut yang segera tersedia.
Stasiun televisi pemerintah melaporkan ada kepulan asap di Parand, pinggiran ibu kota, tapi itu disebabkan oleh kebakaran kecil di semak-semak.
Dua pejabat Israel mengatakan kepada Reuters, Minggu (1/2/2026), bahwa Israel tidak terlibat dalam ledakan di Iran pada hari Sabtu, yang terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Teheran dan Washington atas tindakan keras Iran terhadap protes nasional dan atas program nuklir negara tersebut.
Presiden AS Donald Trump mengatakan pada hari Kamis bahwa sebuah armada besar sedang menuju Iran. Beberapa sumber mengatakan pada hari Jumat bahwa Trump sedang mempertimbangkan berbagai opsi terhadap Iran, termasuk serangan terarah terhadap pasukan keamanan.
Sebelumnya pada hari Sabtu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menuduh para pemimpin AS, Israel, dan Eropa mengeksploitasi masalah ekonomi Iran, menghasut kerusuhan, dan memberi orang-orang sarana untuk "merusak negara."
Iran telah diguncang oleh protes nasional yang pecah pada bulan Desember karena kesulitan ekonomi dan telah menimbulkan salah satu tantangan terberat bagi penguasa ulama negara itu. Setidaknya 5.000 orang tewas dalam protes tersebut, termasuk 500 anggota pasukan keamanan, kata seorang pejabat Iran kepada Reuters.
(mas)
Lihat Juga :