Trump Kibarkan Bendera AS di Greenland, Ejek Para Pemimpin Dunia yang Menentangnya

Rabu, 21 Januari 2026 - 09:22 WIB
loading...
Trump Kibarkan Bendera...
Presiden AS Donald Trump mengibarkan bendera AS di Greenland dalam foto buatan AI yang dirilisnya. Foto/truth social
A A A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa (20/1/2026) bersumpah "tidak akan mundur" dari tujuannya untuk menguasai Greenland. Dia menolak mengesampingkan kemungkinan merebut pulau Arktik itu dengan kekerasan dan mengecam sekutu-sekutunya sementara para pemimpin Eropa kesulitan untuk merespons.

Ambisi Trump - yang diungkapkan dalam unggahan media sosial dan gambar tiruan AI - untuk merebut kedaulatan atas Greenland dari sesama anggota NATO, Denmark, telah mengancam akan menghancurkan aliansi yang telah menopang keamanan Barat selama beberapa dekade.

Hal itu juga mengancam akan menyulut kembali perang dagang dengan Eropa yang mengguncang pasar dan perusahaan selama berbulan-bulan tahun lalu, meskipun Menteri Keuangan Trump, Scott Bessent, menolak apa yang disebutnya "histeria" atas Greenland.

"Seperti yang saya sampaikan kepada semua orang, dengan sangat jelas, Greenland sangat penting untuk Keamanan Nasional dan Dunia. Tidak ada jalan untuk mundur - Dalam hal itu, semua orang setuju!" kata Trump setelah berbicara dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte.

Untuk memperkuat pesannya, Trump memposting gambar AI dirinya di Greenland, memegang bendera AS.

Gambar lain menunjukkan dia berbicara dengan para pemimpin di samping peta yang menunjukkan Kanada dan Greenland sebagai bagian dari Amerika Serikat.

Secara terpisah, ia membocorkan pesan-pesan termasuk dari Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang mempertanyakan apa yang Trump "lakukan di Greenland".

Trump, yang telah berjanji untuk mengenakan tarif pada negara-negara yang menghalangi jalannya, sebelumnya mengancam akan menghantam wine dan sampanye Prancis dengan tarif 200 persen.

Uni Eropa Balas AS


Uni Eropa telah mengancam akan membalas dengan langkah-langkah perdagangan. Salah satu opsi adalah paket tarif pada impor AS senilai 93 miliar euro (USD109 miliar) yang dapat secara otomatis berlaku pada 6 Februari setelah penangguhan selama enam bulan.

Opsi lain adalah "Instrumen Anti-Koersi" (ACI), yang belum pernah digunakan. Hal itu dapat membatasi akses ke tender publik, investasi, atau aktivitas perbankan, atau membatasi perdagangan jasa, sektor di mana AS memiliki surplus dengan blok tersebut, termasuk layanan digital yang menguntungkan yang disediakan raksasa teknologi AS.

"Ini bukan masalah Kerajaan Denmark, ini tentang seluruh hubungan transatlantik," kata Menteri Ekonomi Denmark Stephanie Lose kepada wartawan menjelang pertemuan menteri ekonomi dan keuangan Uni Eropa di Brussels.

"Saat ini, kami tidak percaya bahwa apa pun harus dikesampingkan. Ini adalah situasi serius yang, meskipun kami ingin meredakannya, ada pihak lain yang berkontribusi meningkatkan ketegangan saat ini, dan oleh karena itu kami harus tetap mempertimbangkan semua opsi yang ada."

Bessent, di sela-sela pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, mengatakan solusi akan ditemukan yang menjamin keamanan nasional bagi Amerika Serikat dan Eropa.

Baca juga: Trump Yakin Rencananya Caplok Greenland Tak Akan Dapat Perlawanan Kuat
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ini Reaksi 9 Pemimpin...
Ini Reaksi 9 Pemimpin Negara NATO setelah Menerima Hadiah Pistol dari Erdogan
Bagaimana Rencana Baru...
Bagaimana Rencana Baru Iran Bunuh Trump Terungkap?
Iran Ungkap Kelompok...
Iran Ungkap Kelompok Garis Keras yang Sesat Tembaki Kapal untuk Rusak Negosiasi dengan AS
Trump Ungkap 1.000 Rudal...
Trump Ungkap 1.000 Rudal Diarahkan ke Iran Jika Dia Dibunuh
Rusia Terbuka Jika Turki...
Rusia Terbuka Jika Turki Jual Sistem Pertahanan Udara S-400 ke UEA
Iran Tegaskan Siap untuk...
Iran Tegaskan Siap untuk Pertahanan Skala Penuh, Trump Sebut Gencatan Senjata Berakhir
Cawe-cawe Trump Disebut...
Cawe-cawe Trump Disebut Biang Kerok Kegagalan Timnas AS di Piala Dunia 2026
Koordinator Rekonstruksi...
Koordinator Rekonstruksi Gaza Asal Mesir Tewas dalam Serangan Drone di Kawasan Sabra
Israel Tangkap Mufti...
Israel Tangkap Mufti Agung Yerusalem Sheikh Hussein, Larang Masuk Masjid Al Aqsa
Rekomendasi
FIFA Larang Wasit Inggris...
FIFA Larang Wasit Inggris Pimpin Argentina, Kenapa?
Orang Super Kaya Indonesia...
Orang Super Kaya Indonesia Diramal Melonjak Tercepat di Dunia, tapi Kelas Menengah Menyusut
Kumpulan Doa Menghadapi...
Kumpulan Doa Menghadapi Fitnah Akhir Zaman, Kaum Muslim Wajib Tahu
Berita Terkini
Deretan 66 Negara yang...
Deretan 66 Negara yang Memiliki UU Melarang LGBT
Mojtaba Janji Balas...
Mojtaba Janji Balas Dendam atas Darah Tak Bersalah Ayahnya
Pecahkan Rekor! 10 Juta...
Pecahkan Rekor! 10 Juta Orang Hadiri Upacara Pemakaman Khamenei
Mengapa Turki Jual Sistem...
Mengapa Turki Jual Sistem Pertahanan Udara S-400 ke UEA? Ini Alasan Utamanya
Iran Akui Melakukan...
Iran Akui Melakukan Kesalahan Menembaki Kapal Tanker di Selat Hormuz
Ini Reaksi 9 Pemimpin...
Ini Reaksi 9 Pemimpin Negara NATO setelah Menerima Hadiah Pistol dari Erdogan
Infografis
10 Pesawat Militer Termahal...
10 Pesawat Militer Termahal di Dunia, Harga 7 Bomber B-2 Hampir Setara Anggaran MBG
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved