Langka, PM Israel Netanyahu Minta Trump Tunda Serangan AS terhadap Iran
Jum'at, 16 Januari 2026 - 07:07 WIB
loading...
PM Israel Benjamin Netanyahu (kiri) dilaporkan meminta Presiden AS Donald Trump untuk menunda serangan militer terhadap Iran. Foto/Avi Ohayon/GPO
A
A
A
TEHERAN - Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu telah meminta Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk menunda rencana potensial serangan terhadap Iran. Permintaan tersebut diungkap The New York Times pada hari Kamis, mengutip seorang pejabat senior Amerika.
Permintaan pemimpin Zionis Israel itu langka terjadi di tengah permusuhan sengit negara Yahudi tersebut dengan Iran. Bahkan, Netanyahu dalam kesempatan sebelumnya kerap menyerukan Washington untuk menyerang Teheran.
Menurut laporan The New York Times, Netanyahu meminta Trump untuk "menunda rencana apa pun" untuk serangan militer. Gedung Putih kemudian mengonfirmasi bahwa kedua pemimpin itu memang telah berbicara melalui telepon, tetapi tidak memberikan detail percakapan tersebut.
Baca Juga: Stok Rudal Melimpah, Iran Sudah Siap Jika Diserang AS
Trump telah mengancam akan menyerang Iran atas tuduhan pembunuhan massal para demonstran dalam demonstrasi anti-rezim yang dimulai dua setengah minggu lalu. Iran pun mengancam balik akan menyerang Israel jika diserang Amerika.
Pada hari Rabu, Trump tampaknya menarik kembali ancamannya, dengan mengatakan dirinya telah menerima jaminan bahwa pembunuhan terhadap demonstran akan berhenti.
Para pejabat senior dari sekutu Amerika; Qatar, Arab Saudi, Oman, dan Mesir juga telah mendesak pemerintahan Trump untuk tidak menyerang Iran selama beberapa hari terakhir. Demikian diungkap seorang pejabat Arab Teluk kepada surat kabar AS tersebut, memperingatkan bahwa serangan terhadap Teheran dapat memicu konflik regional yang lebih luas.
Laporan sebelumnya menunjukkan bahwa para pemimpin keempat negara Arab tersebut memimpin upaya terkoordinasi untuk membujuk Trump agar tidak melancarkan serangan.
Menyusul laporan The New York Times, media Israel; Channel 12, melaporkan bahwa setelah serangkaian konsultasi di markas militer Kirya semalam, Israel memberi tahu Amerika bahwa saat ini mereka tidak mendorong serangan tetapi akan mendukung keputusan apa pun dari Amerika.
Laporan media itu, mengutip lima sumber yang mengetahui diskusi Gedung Putih, menambahkan bahwa serangan AS tetap menjadi pilihan karena Washington terus menilai situasi.
Tel Aviv dan Washington mengadakan konsultasi harian, lanjut laporan itu, yang menambahkan bahwa Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga berbicara dengan Netanyahu pada hari Rabu untuk percakapan ketiga dalam enam hari terakhir.
Meskipun opsi militer tetap menjadi pilihan bagi Trump, jeda saat ini juga dipandang sebagai peluang diplomasi, menurut Channel 12, yang mengutip seorang pejabat AS. Pejabat tersebut mengatakan bahwa rezim Iran akan runtuh kecuali Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei setuju untuk berbicara langsung dengan Trump.
Masih menurut laporan media Israel tersebut, para pejabat Zionis percaya bahwa protes sedang ditekan dan telah menurun drastis, dan ada perselisihan di antara pimpinan tertinggi Israel mengenai pendekatan terhadap Iran.
Mantan menteri urusan strategis Ron Dermer, orang kepercayaan Netanyahu yang memainkan peran sentral dalam masalah Iran sebelum meninggalkan jabatannya tahun lalu, menganjurkan pendekatan yang lebih agresif dan menyampaikan hal ini kepada Amerika.
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengonfirmasi bahwa Trump dan Netanyahu telah berbicara, tetapi menolak untuk memberikan rincian tentang apa yang mereka diskusikan. Kantor PM Israel menolak berkomentar.
Berbicara kepada wartawan, Leavitt juga mengatakan Iran telah membatalkan 800 eksekusi setelah mendapat peringatan dari Trump. Namun, Iran sendiri belum mempublikasikan rencana untuk mengeksekusi 800 demonstran.
“Presiden dan timnya telah berkomunikasi dengan rezim Iran bahwa jika pembunuhan terus berlanjut, akan ada konsekuensinya. Presiden [kemudian] menerima pesan bahwa pembunuhan dan eksekusi akan berhenti,” katanya.
“Presiden memahami hari ini bahwa 800 eksekusi yang dijadwalkan dan seharusnya dilakukan kemarin telah dihentikan," ujarnya.
“Presiden dan timnya memantau situasi dengan cermat dan semua opsi tetap terbuka,” imbuh Leavitt.
Permintaan pemimpin Zionis Israel itu langka terjadi di tengah permusuhan sengit negara Yahudi tersebut dengan Iran. Bahkan, Netanyahu dalam kesempatan sebelumnya kerap menyerukan Washington untuk menyerang Teheran.
Menurut laporan The New York Times, Netanyahu meminta Trump untuk "menunda rencana apa pun" untuk serangan militer. Gedung Putih kemudian mengonfirmasi bahwa kedua pemimpin itu memang telah berbicara melalui telepon, tetapi tidak memberikan detail percakapan tersebut.
Baca Juga: Stok Rudal Melimpah, Iran Sudah Siap Jika Diserang AS
Trump telah mengancam akan menyerang Iran atas tuduhan pembunuhan massal para demonstran dalam demonstrasi anti-rezim yang dimulai dua setengah minggu lalu. Iran pun mengancam balik akan menyerang Israel jika diserang Amerika.
Pada hari Rabu, Trump tampaknya menarik kembali ancamannya, dengan mengatakan dirinya telah menerima jaminan bahwa pembunuhan terhadap demonstran akan berhenti.
Para pejabat senior dari sekutu Amerika; Qatar, Arab Saudi, Oman, dan Mesir juga telah mendesak pemerintahan Trump untuk tidak menyerang Iran selama beberapa hari terakhir. Demikian diungkap seorang pejabat Arab Teluk kepada surat kabar AS tersebut, memperingatkan bahwa serangan terhadap Teheran dapat memicu konflik regional yang lebih luas.
Laporan sebelumnya menunjukkan bahwa para pemimpin keempat negara Arab tersebut memimpin upaya terkoordinasi untuk membujuk Trump agar tidak melancarkan serangan.
Menyusul laporan The New York Times, media Israel; Channel 12, melaporkan bahwa setelah serangkaian konsultasi di markas militer Kirya semalam, Israel memberi tahu Amerika bahwa saat ini mereka tidak mendorong serangan tetapi akan mendukung keputusan apa pun dari Amerika.
Laporan media itu, mengutip lima sumber yang mengetahui diskusi Gedung Putih, menambahkan bahwa serangan AS tetap menjadi pilihan karena Washington terus menilai situasi.
Tel Aviv dan Washington mengadakan konsultasi harian, lanjut laporan itu, yang menambahkan bahwa Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga berbicara dengan Netanyahu pada hari Rabu untuk percakapan ketiga dalam enam hari terakhir.
Meskipun opsi militer tetap menjadi pilihan bagi Trump, jeda saat ini juga dipandang sebagai peluang diplomasi, menurut Channel 12, yang mengutip seorang pejabat AS. Pejabat tersebut mengatakan bahwa rezim Iran akan runtuh kecuali Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei setuju untuk berbicara langsung dengan Trump.
Masih menurut laporan media Israel tersebut, para pejabat Zionis percaya bahwa protes sedang ditekan dan telah menurun drastis, dan ada perselisihan di antara pimpinan tertinggi Israel mengenai pendekatan terhadap Iran.
Mantan menteri urusan strategis Ron Dermer, orang kepercayaan Netanyahu yang memainkan peran sentral dalam masalah Iran sebelum meninggalkan jabatannya tahun lalu, menganjurkan pendekatan yang lebih agresif dan menyampaikan hal ini kepada Amerika.
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengonfirmasi bahwa Trump dan Netanyahu telah berbicara, tetapi menolak untuk memberikan rincian tentang apa yang mereka diskusikan. Kantor PM Israel menolak berkomentar.
Berbicara kepada wartawan, Leavitt juga mengatakan Iran telah membatalkan 800 eksekusi setelah mendapat peringatan dari Trump. Namun, Iran sendiri belum mempublikasikan rencana untuk mengeksekusi 800 demonstran.
“Presiden dan timnya telah berkomunikasi dengan rezim Iran bahwa jika pembunuhan terus berlanjut, akan ada konsekuensinya. Presiden [kemudian] menerima pesan bahwa pembunuhan dan eksekusi akan berhenti,” katanya.
“Presiden memahami hari ini bahwa 800 eksekusi yang dijadwalkan dan seharusnya dilakukan kemarin telah dihentikan," ujarnya.
“Presiden dan timnya memantau situasi dengan cermat dan semua opsi tetap terbuka,” imbuh Leavitt.
(mas)
Lihat Juga :