Kepala MI6 Inggris Teleponan dengan Bos Mata-mata Rusia di Tengah Retorika Perang
Jum'at, 19 Desember 2025 - 07:11 WIB
loading...
Kepala MI6 Inggris Blaise Metreweli (kiri) telah melakukan pembicaraan rahasia dengan kepala intelijen Rusia Sergei Naryshkin ketika kedua negara mengumbar retorika perang. Foto/New York Times/Vedomosti
A
A
A
MOSKOW - Kepala MI6 Inggris yang baru, Blaise Metreweli, telah melakukan pembicaraan rahasia dengan kepala intelijen Rusia, Sergei Naryshkin, ketika kedua negara mengumbar retorika perang di tengah permusuhan yang memanas. Kedua bos mata-mata tersebut berbicara melalui telepon untuk pertama kalinya.
Permusuhan Inggris dan Rusia telah memanas setelah London mendorong kesepakatan untuk menggunakan aset Moskow yang dibekukan untuk mendanai Ukraina. Sebelumnya, Metreweli juga menuduh Moskow mengintimidasi London.
Dalam sebuah pernyataan kepada kantor berita negara Rusia, TASS, Jumat (19/12/2025), Naryshkin mengatakan percakapan yang cukup panjang itu telah terjadi beberapa hari yang lalu. Bos mata-mata Rusia yang dikenal sebagai sekutu dekat Presiden Vladimir Putin itu tidak mengungkap detail waktu pembicaraan maupun pembahasannya.
Baca Juga: Putin: 'Babi-babi Eropa Ingin Pesta atas Runtuhnya Rusia, tapi...'
Naryshkin juga mengeklaim bahwa mata-mata Rusia terus bekerja secara resmi di London dan demikian pula petugas MI6 di Moskow.
Naryshkin, yang menjabat sebagai direktur Dinas Intelijen Luar Negeri Rusia (SVR) sejak 2016, mengeklaim bahwa perbedaan antara Rusia dan Inggris telah meningkat sejak pidato Presiden Putin di Munich tahun 2007.
Pihak Downing Street mengatakan bahwa "normal" bagi Inggris untuk berinteraksi dengan Rusia melalui jalur diplomatik, meskipun panggilan langsung antara kolega-kolega Inggris dan Rusia tidak biasa.
Mantan kepala MI6, Sir Richard Moore, juga pernah melakukan panggilan telepon dengan kepala intelijen Rusia dan mengatakan bahwa beberapa saluran komunikasi antara kedua badan tersebut tetap terbuka.
Panggilan antara Naryshkin dan Metreweli diperkirakan terjadi sekitar waktu yang sama ketika dia memberikan pidato pertamanya sejak mengambil alih MI6 pada bulan Oktober.
Dia menggunakan pidato tersebut untuk menyebut Rusia sebagai "ancaman" bagi keamanan Inggris, memperingatkan bahwa Inggris sekarang "beroperasi di ruang antara perdamaian dan perang".
“Rusia sedang menguji kita di zona abu-abu dengan taktik yang berada tepat di bawah ambang batas perang,” katanya kepada audiens di dalam markas MI6 di London.
“Penting untuk memahami upaya mereka untuk mengintimidasi, menakut-nakuti, dan memanipulasi, karena hal itu memengaruhi kita semua," paparnya.
“Ekspor kekacauan adalah ciri khas, bukan kesalahan, dalam pendekatan Rusia terhadap keterlibatan internasional; dan kita harus siap jika ini berlanjut sampai Putin terpaksa mengubah perhitungannya.”
Dia menyebutkan berbagai aktivitas termasuk serangan siber terhadap infrastruktur, drone yang berterbangan di bandara, agresi di laut, sabotase yang disponsori negara, dan propaganda.
Awal tahun ini, Jonathan Powell, penasihat keamanan nasional Perdana Menteri Inggris Sir Keir Starmer, mencoba tetapi gagal membuka saluran komunikasi dengan Kremlin.
Powell berbicara dengan Yury Ushakov, ajudan kebijakan luar negeri Putin, pada bulan Januari, dalam panggilan yang “tidak berjalan dengan baik”, menurut laporan Financial Times.
“Memang ada diskusi, itu benar," juru bicara Kremlin Dmitry Peskov. "Namun, pertukaran tersebut tidak berlanjut,” katanya lagi.
“[Powell] sangat ingin menjelaskan posisi Eropa tetapi menunjukkan sedikit kemauan untuk mendengarkan posisi kami,” imbuh Peskov.
“Tentu saja, tanpa kemungkinan pertukaran pandangan timbal balik, percakapan tidak berlanjut lebih jauh dari itu," paparnya.
Financial Times melaporkan bahwa Powell mencoba membangun jalur komunikasi dengan Kremlin karena kekhawatiran bahwa kepentingan Eropa dikesampingkan oleh pendekatan tidak konvensional Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam mengamankan perdamaian di Ukraina.
“Kekhawatirannya adalah kita menyerahkan diskusi dengan Rusia kepada Amerika,” kata seorang pejabat Eropa.
Permusuhan Inggris dan Rusia telah memanas setelah London mendorong kesepakatan untuk menggunakan aset Moskow yang dibekukan untuk mendanai Ukraina. Sebelumnya, Metreweli juga menuduh Moskow mengintimidasi London.
Dalam sebuah pernyataan kepada kantor berita negara Rusia, TASS, Jumat (19/12/2025), Naryshkin mengatakan percakapan yang cukup panjang itu telah terjadi beberapa hari yang lalu. Bos mata-mata Rusia yang dikenal sebagai sekutu dekat Presiden Vladimir Putin itu tidak mengungkap detail waktu pembicaraan maupun pembahasannya.
Baca Juga: Putin: 'Babi-babi Eropa Ingin Pesta atas Runtuhnya Rusia, tapi...'
Naryshkin juga mengeklaim bahwa mata-mata Rusia terus bekerja secara resmi di London dan demikian pula petugas MI6 di Moskow.
Naryshkin, yang menjabat sebagai direktur Dinas Intelijen Luar Negeri Rusia (SVR) sejak 2016, mengeklaim bahwa perbedaan antara Rusia dan Inggris telah meningkat sejak pidato Presiden Putin di Munich tahun 2007.
Pihak Downing Street mengatakan bahwa "normal" bagi Inggris untuk berinteraksi dengan Rusia melalui jalur diplomatik, meskipun panggilan langsung antara kolega-kolega Inggris dan Rusia tidak biasa.
Mantan kepala MI6, Sir Richard Moore, juga pernah melakukan panggilan telepon dengan kepala intelijen Rusia dan mengatakan bahwa beberapa saluran komunikasi antara kedua badan tersebut tetap terbuka.
Panggilan antara Naryshkin dan Metreweli diperkirakan terjadi sekitar waktu yang sama ketika dia memberikan pidato pertamanya sejak mengambil alih MI6 pada bulan Oktober.
Dia menggunakan pidato tersebut untuk menyebut Rusia sebagai "ancaman" bagi keamanan Inggris, memperingatkan bahwa Inggris sekarang "beroperasi di ruang antara perdamaian dan perang".
“Rusia sedang menguji kita di zona abu-abu dengan taktik yang berada tepat di bawah ambang batas perang,” katanya kepada audiens di dalam markas MI6 di London.
“Penting untuk memahami upaya mereka untuk mengintimidasi, menakut-nakuti, dan memanipulasi, karena hal itu memengaruhi kita semua," paparnya.
“Ekspor kekacauan adalah ciri khas, bukan kesalahan, dalam pendekatan Rusia terhadap keterlibatan internasional; dan kita harus siap jika ini berlanjut sampai Putin terpaksa mengubah perhitungannya.”
Dia menyebutkan berbagai aktivitas termasuk serangan siber terhadap infrastruktur, drone yang berterbangan di bandara, agresi di laut, sabotase yang disponsori negara, dan propaganda.
Saluran Komunikasi Inggris-Rusia
Awal tahun ini, Jonathan Powell, penasihat keamanan nasional Perdana Menteri Inggris Sir Keir Starmer, mencoba tetapi gagal membuka saluran komunikasi dengan Kremlin.
Powell berbicara dengan Yury Ushakov, ajudan kebijakan luar negeri Putin, pada bulan Januari, dalam panggilan yang “tidak berjalan dengan baik”, menurut laporan Financial Times.
“Memang ada diskusi, itu benar," juru bicara Kremlin Dmitry Peskov. "Namun, pertukaran tersebut tidak berlanjut,” katanya lagi.
“[Powell] sangat ingin menjelaskan posisi Eropa tetapi menunjukkan sedikit kemauan untuk mendengarkan posisi kami,” imbuh Peskov.
“Tentu saja, tanpa kemungkinan pertukaran pandangan timbal balik, percakapan tidak berlanjut lebih jauh dari itu," paparnya.
Financial Times melaporkan bahwa Powell mencoba membangun jalur komunikasi dengan Kremlin karena kekhawatiran bahwa kepentingan Eropa dikesampingkan oleh pendekatan tidak konvensional Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam mengamankan perdamaian di Ukraina.
“Kekhawatirannya adalah kita menyerahkan diskusi dengan Rusia kepada Amerika,” kata seorang pejabat Eropa.
(mas)
Lihat Juga :