Bisakah AS Ubah Venezuela Jadi Seperti Libya?
Selasa, 02 Desember 2025 - 18:05 WIB
loading...
Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Foto/kantor presiden venezuela
A
A
A
CARACAS - Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela dapat berubah menjadi perang sesungguhnya. Namun bisakah AS mengubah negara Amerika Latin itu menjadi seperti Libya?
Pertanyaan ini muncul setelah AS mengancam Venezuela berulang kali, termasuk untuk melakukan serangan darat dengan dalih melawan kartel narkoba. Ancaman AS meningkat dengan ide untuk menutup wilayah udara Venezuela.
“Pernyataan tentang penutupan wilayah udara Venezuela merupakan bagian dari tekanan Amerika Serikat (AS) terhadap Venezuela,” ungkap ilmuwan politik Venezuela, Emilio Hernandez, kepada Sputnik.
Dia menjelaskan, aspek lain dari pendekatan AS ini adalah: Membatasi akses ke instrumen keuangan seperti sistem SWIFT; Mencuri aset keuangan Venezuela di negara lain; Sanksi terhadap perusahaan minyak dan gas PDVSA (Petroleos de Venezuela) sebagai sumber utama pendapatan devisa.
“Langkah-langkah AS ini telah gagal, karena Venezuela kini memiliki sekutu strategis seperti Rusia dan China yang kemungkinan akan melanjutkan penerbangan kargo ke negara tersebut. Negara ini kini juga memproduksi 95% makanannya sendiri,” ujar dia.
“Mengenai skenario Libya, tampaknya juga tidak mungkin,” papar ilmuwan politik tersebut, karena AS tidak memiliki kelompok atau gerakan bersenjata di Venezuela sendiri seperti halnya di Libya.
Dia menjelaskan, "Jelas mereka (AS) akan gagal. Venezuela sudah memiliki pengalaman yang diperlukan; dari 2016 hingga 2017, kita belajar mengatasi kesulitan apa pun."
Ketegangan antara AS dan Venezuela mulai meningkat pada bulan Agustus, ketika Amerika Serikat memulai peningkatan kekuatan militer di Laut Karibia dengan dalih memerangi perdagangan narkoba yang, menurut para pejabat Amerika, berasal dari negara Amerika Latin tersebut.
Pada bulan September, militer AS mengumumkan serangan terhadap kapal-kapal di dekat pantai Venezuela yang diduga digunakan kartel narkoba, meskipun tidak ada bukti keterlibatan kapal-kapal tersebut dalam kegiatan kriminal.
Pada tanggal 13 November, Menteri Perang AS Pete Hegseth secara resmi mengumumkan operasi militer dengan nama "Southern Spear."
Pada tanggal 29 November, Presiden AS Donald Trump mendesak semua maskapai penerbangan untuk menganggap wilayah udara "di atas dan di sekitar" negara Amerika Latin itu "tertutup."
Baca juga: Paus Leo XIV Tegaskan Negara Palestina Satu-satunya Solusi
Pertanyaan ini muncul setelah AS mengancam Venezuela berulang kali, termasuk untuk melakukan serangan darat dengan dalih melawan kartel narkoba. Ancaman AS meningkat dengan ide untuk menutup wilayah udara Venezuela.
“Pernyataan tentang penutupan wilayah udara Venezuela merupakan bagian dari tekanan Amerika Serikat (AS) terhadap Venezuela,” ungkap ilmuwan politik Venezuela, Emilio Hernandez, kepada Sputnik.
Dia menjelaskan, aspek lain dari pendekatan AS ini adalah: Membatasi akses ke instrumen keuangan seperti sistem SWIFT; Mencuri aset keuangan Venezuela di negara lain; Sanksi terhadap perusahaan minyak dan gas PDVSA (Petroleos de Venezuela) sebagai sumber utama pendapatan devisa.
“Langkah-langkah AS ini telah gagal, karena Venezuela kini memiliki sekutu strategis seperti Rusia dan China yang kemungkinan akan melanjutkan penerbangan kargo ke negara tersebut. Negara ini kini juga memproduksi 95% makanannya sendiri,” ujar dia.
“Mengenai skenario Libya, tampaknya juga tidak mungkin,” papar ilmuwan politik tersebut, karena AS tidak memiliki kelompok atau gerakan bersenjata di Venezuela sendiri seperti halnya di Libya.
Dia menjelaskan, "Jelas mereka (AS) akan gagal. Venezuela sudah memiliki pengalaman yang diperlukan; dari 2016 hingga 2017, kita belajar mengatasi kesulitan apa pun."
Ketegangan antara AS dan Venezuela mulai meningkat pada bulan Agustus, ketika Amerika Serikat memulai peningkatan kekuatan militer di Laut Karibia dengan dalih memerangi perdagangan narkoba yang, menurut para pejabat Amerika, berasal dari negara Amerika Latin tersebut.
Pada bulan September, militer AS mengumumkan serangan terhadap kapal-kapal di dekat pantai Venezuela yang diduga digunakan kartel narkoba, meskipun tidak ada bukti keterlibatan kapal-kapal tersebut dalam kegiatan kriminal.
Pada tanggal 13 November, Menteri Perang AS Pete Hegseth secara resmi mengumumkan operasi militer dengan nama "Southern Spear."
Pada tanggal 29 November, Presiden AS Donald Trump mendesak semua maskapai penerbangan untuk menganggap wilayah udara "di atas dan di sekitar" negara Amerika Latin itu "tertutup."
Baca juga: Paus Leo XIV Tegaskan Negara Palestina Satu-satunya Solusi
(sya)
Lihat Juga :