Trump dan Maduro Diam-diam Teleponan saat AS-Venezuela di Ambang Perang
Minggu, 30 November 2025 - 06:16 WIB
loading...
Presiden AS Donald Trump diam-diam telah melakukan pembicaraan via telepon dengan Presiden Venezuela Nicolas Maduro ketika kedua negara di ambang perang. Foto/X via Ciber Cuba
A
A
A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump diam-diam telah melakukan pembicaraan via telepon dengan Presiden Venezuela Nicolas Maduro ketika kedua negara di ambang perang. Ketika pembicaraan rahasia itu terungkap, Trump justru memerintahkan penutupan total wilayah udara Venezuela dan sekitarnya.
Menurut laporan The New York Times, kedua rival tersebut teleponan membahas kemungkinan pertemuan di Amerika Serikat.
AS telah meningkatkan tekanan pada Venezuela dengan pengerahan aset tempur besar-besaran di Karibia, yang mencakup kapal induk terbesar di dunia. Washington mengatakan tujuannya adalah untuk mengekang perdagangan narkoba, tetapi Caracas bersikeras bahwa pergantian rezim adalah tujuan akhir Amerika.
Baca Juga: Trump Perintahkan Tutup Wilayah Udara Venezuela, Akankah Invasi AS Dimulai?
Gedung Putih tidak segera menanggapi permintaan komentar tentang laporan The New York Times, yang menyebutkan bahwa Menteri Luar Negeri Marco Rubio juga ikut serta dalam panggilan telepon tersebut.
Pasukan AS telah melancarkan serangan terhadap lebih dari 20 kapal yang diduga penyelundup narkoba Venezuela di Laut Karibia dan Samudra Pasifik timur sejak awal September, menewaskan lebih dari 80 orang.
Washington belum merilis bukti bahwa kapal-kapal yang menjadi targetnya digunakan untuk menyelundupkan narkoba atau menimbulkan ancaman bagi Amerika Serikat. Ketegangan regional pun meningkat akibat kampanye dan peningkatan kekuatan militer yang menyertainya.
Laporan tentang panggilan telepon Trump-Maduro muncul sehari setelah presiden AS mengatakan upaya untuk menghentikan perdagangan narkoba Venezuela melalui darat sudah di ambang pintu, yang semakin meningkatkan ketegangan dengan Caracas.
“Anda mungkin memperhatikan bahwa orang-orang tidak ingin mengirimkan melalui laut, dan kami akan mulai menghentikan mereka melalui darat,” katanya dalam sambutannya kepada pasukan AS, seraya menambahkan: “Juga melalui darat lebih mudah, tetapi itu akan segera dimulai.”
Sementara itu, Trump mengatakan pada hari Sabtu bahwa wilayah udara di atas dan di sekitar Venezuela harus dianggap "ditutup seluruhnya", tetapi tidak memberikan rincian lebih lanjut karena Washington meningkatkan tekanan pada pemerintahan Maduro.
"Kepada semua maskapai penerbangan, pilot, pengedar narkoba, dan pedagang manusia, mohon pertimbangkan wilayah udara di atas dan di sekitar Venezuela akan ditutup seluruhnya," kata Trump dalam sebuah unggahan di Truth Social.
Para pejabat AS yang dihubungi Reuters terkejut dengan pengumuman Trump dan tidak mengetahui adanya operasi militer AS yang sedang berlangsung untuk memberlakukan penutupan wilayah udara Venezuela. Pentagon tidak menanggapi permintaan komentar dan Gedung Putih tidak memberikan penjelasan lebih lanjut.
Kementerian Komunikasi Venezuela, yang menangani semua pertanyaan pers untuk pemerintah, tidak segera membalas permintaan komentar atas unggahan Trump.
David Deptula, pensiunan letnan jenderal yang memimpin zona larangan terbang di atas Irak utara pada tahun 1998 dan 1999, mengatakan pengumuman Trump menimbulkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.
Menurutnya, menetapkan zona larangan terbang di atas Venezuela dapat membutuhkan sumber daya dan perencanaan yang signifikan, tergantung pada tujuan penutupan wilayah udara.
"Masalahnya ada pada detailnya," kata Deptula. Pemerintahan Trump telah mempertimbangkan opsi-opsi terkait Venezuela untuk memerangi apa yang digambarkannya sebagai peran Maduro dalam memasok obat-obatan terlarang yang telah menewaskan warga Amerika. Maduro, yang beraliran sosialis, membantah memiliki hubungan apa pun dengan perdagangan obat-obatan terlarang.
Reuters melaporkan bahwa opsi yang sedang dipertimbangkan AS termasuk upaya untuk menggulingkan Maduro, dan militer AS siap untuk fase operasi baru setelah penumpukan militer besar-besaran di Karibia. Trump juga telah mengizinkan operasi rahasia CIA di negara Amerika Selatan tersebut.
Maduro, yang berkuasa sejak 2013, berpendapat bahwa Trump berusaha menggulingkannya dan bahwa warga negara Venezuela serta militer akan menentang upaya tersebut.
Jalan-jalan di Caracas sebagian besar sepi pada Sabtu pagi, meskipun beberapa orang menerjang hujan untuk berbelanja.
Maduro dan para pejabat tinggi di pemerintahannya, beberapa di antaranya muncul hampir setiap hari di televisi pemerintah, telah mengecam imperialisme AS dalam komentar mereka baru-baru ini, tetapi tidak menyebut nama Trump secara langsung, karena pemerintah Venezuela mungkin sedang berusaha meredakan ketegangan, menurut sumber-sumber keamanan dan diplomatik.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sebelumnya menjadi fokus kemarahan pemerintah Venezuela, tetapi bahkan referensi kepadanya telah berkurang dalam beberapa minggu terakhir.
Menurut laporan The New York Times, kedua rival tersebut teleponan membahas kemungkinan pertemuan di Amerika Serikat.
AS telah meningkatkan tekanan pada Venezuela dengan pengerahan aset tempur besar-besaran di Karibia, yang mencakup kapal induk terbesar di dunia. Washington mengatakan tujuannya adalah untuk mengekang perdagangan narkoba, tetapi Caracas bersikeras bahwa pergantian rezim adalah tujuan akhir Amerika.
Baca Juga: Trump Perintahkan Tutup Wilayah Udara Venezuela, Akankah Invasi AS Dimulai?
Gedung Putih tidak segera menanggapi permintaan komentar tentang laporan The New York Times, yang menyebutkan bahwa Menteri Luar Negeri Marco Rubio juga ikut serta dalam panggilan telepon tersebut.
Pasukan AS telah melancarkan serangan terhadap lebih dari 20 kapal yang diduga penyelundup narkoba Venezuela di Laut Karibia dan Samudra Pasifik timur sejak awal September, menewaskan lebih dari 80 orang.
Washington belum merilis bukti bahwa kapal-kapal yang menjadi targetnya digunakan untuk menyelundupkan narkoba atau menimbulkan ancaman bagi Amerika Serikat. Ketegangan regional pun meningkat akibat kampanye dan peningkatan kekuatan militer yang menyertainya.
Laporan tentang panggilan telepon Trump-Maduro muncul sehari setelah presiden AS mengatakan upaya untuk menghentikan perdagangan narkoba Venezuela melalui darat sudah di ambang pintu, yang semakin meningkatkan ketegangan dengan Caracas.
“Anda mungkin memperhatikan bahwa orang-orang tidak ingin mengirimkan melalui laut, dan kami akan mulai menghentikan mereka melalui darat,” katanya dalam sambutannya kepada pasukan AS, seraya menambahkan: “Juga melalui darat lebih mudah, tetapi itu akan segera dimulai.”
Sementara itu, Trump mengatakan pada hari Sabtu bahwa wilayah udara di atas dan di sekitar Venezuela harus dianggap "ditutup seluruhnya", tetapi tidak memberikan rincian lebih lanjut karena Washington meningkatkan tekanan pada pemerintahan Maduro.
"Kepada semua maskapai penerbangan, pilot, pengedar narkoba, dan pedagang manusia, mohon pertimbangkan wilayah udara di atas dan di sekitar Venezuela akan ditutup seluruhnya," kata Trump dalam sebuah unggahan di Truth Social.
Para pejabat AS yang dihubungi Reuters terkejut dengan pengumuman Trump dan tidak mengetahui adanya operasi militer AS yang sedang berlangsung untuk memberlakukan penutupan wilayah udara Venezuela. Pentagon tidak menanggapi permintaan komentar dan Gedung Putih tidak memberikan penjelasan lebih lanjut.
Kementerian Komunikasi Venezuela, yang menangani semua pertanyaan pers untuk pemerintah, tidak segera membalas permintaan komentar atas unggahan Trump.
David Deptula, pensiunan letnan jenderal yang memimpin zona larangan terbang di atas Irak utara pada tahun 1998 dan 1999, mengatakan pengumuman Trump menimbulkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.
Menurutnya, menetapkan zona larangan terbang di atas Venezuela dapat membutuhkan sumber daya dan perencanaan yang signifikan, tergantung pada tujuan penutupan wilayah udara.
"Masalahnya ada pada detailnya," kata Deptula. Pemerintahan Trump telah mempertimbangkan opsi-opsi terkait Venezuela untuk memerangi apa yang digambarkannya sebagai peran Maduro dalam memasok obat-obatan terlarang yang telah menewaskan warga Amerika. Maduro, yang beraliran sosialis, membantah memiliki hubungan apa pun dengan perdagangan obat-obatan terlarang.
Reuters melaporkan bahwa opsi yang sedang dipertimbangkan AS termasuk upaya untuk menggulingkan Maduro, dan militer AS siap untuk fase operasi baru setelah penumpukan militer besar-besaran di Karibia. Trump juga telah mengizinkan operasi rahasia CIA di negara Amerika Selatan tersebut.
Maduro, yang berkuasa sejak 2013, berpendapat bahwa Trump berusaha menggulingkannya dan bahwa warga negara Venezuela serta militer akan menentang upaya tersebut.
Jalan-jalan di Caracas sebagian besar sepi pada Sabtu pagi, meskipun beberapa orang menerjang hujan untuk berbelanja.
Maduro dan para pejabat tinggi di pemerintahannya, beberapa di antaranya muncul hampir setiap hari di televisi pemerintah, telah mengecam imperialisme AS dalam komentar mereka baru-baru ini, tetapi tidak menyebut nama Trump secara langsung, karena pemerintah Venezuela mungkin sedang berusaha meredakan ketegangan, menurut sumber-sumber keamanan dan diplomatik.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sebelumnya menjadi fokus kemarahan pemerintah Venezuela, tetapi bahkan referensi kepadanya telah berkurang dalam beberapa minggu terakhir.
(mas)
Lihat Juga :