Rusia Tuding AS Memiliki Eksperimen di Palestina

Sabtu, 29 November 2025 - 17:35 WIB
loading...
Rusia Tuding AS Memiliki...
Rusia tuding AS memiliki eksperimen di Palestina. Foto/X
A A A
GAZA - Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova menyatakan kekhawatirannya bahwa rencana perdamaian Gaza yang didukung AS yang dipromosikan oleh Presiden Donald Trump dapat menutupi "eksperimen" yang tidak terkendali di wilayah yang diduduki.

Mengomentari pemungutan suara terbaru atas rencana Trump di Dewan Keamanan PBB, Zakharova mencatat bahwa dokumen tersebut diadopsi dengan 13 suara mendukung, sementara Rusia dan China abstain.

"Kami berharap keputusan ini tidak akan menjadi kedok untuk eksperimen tak terkendali di wilayah Palestina yang diduduki, yang justru akan berubah menjadi putusan akhir tentang hak sah rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri, harapan Israel akan keamanan, dan koeksistensi damai di kawasan tersebut," ujarnya, dilansir Anadolu.

Inti dari dokumen tersebut melibatkan pembentukan Dewan Perdamaian untuk mengelola Gaza yang akan diketuai oleh Trump dan dapat mencakup, menurut Trump, "para pemimpin global yang berwibawa dan dihormati."

BacaJuga: 7 Seragam Pasukan Khusus Terbaik di Dunia, Nomor 3 Memiliki Penutup Muka Antipeluru

Dewan tersebut berwenang untuk mengerahkan Pasukan Stabilisasi Internasional yang akan beroperasi melalui konsultasi dan kerja sama erat dengan Israel dan Mesir. Mandatnya mencakup fungsi-fungsi penegakan perdamaian seperti demiliterisasi enklave dan pelucutan senjata kelompok Palestina Hamas serta kelompok-kelompok bersenjata lainnya.

Zakharova menekankan bahwa rencana tersebut tidak mengatur partisipasi Administrasi Nasional Palestina dalam mengatur sektor tersebut atau dalam menentukan masa depan Palestina berdasarkan formula dua negara.

"Kewajiban Israel sebagai kekuatan pendudukan, termasuk penolakan untuk mencaplok tanah Palestina dan penarikan pasukannya, tidak tetap," tegasnya.

Ia lebih lanjut menyatakan bahwa Dewan Keamanan PBB maupun Sekretariat PBB sama sekali tidak diikutsertakan dalam pengawasan struktur baru atau modalitas praktis untuk pengerahan kontingen internasional, yang bertentangan dengan "semangat perdamaian sejati" dan bertentangan dengan keputusan hukum internasional yang diakui.

Zakharova mengatakan bahwa keputusan Rusia untuk abstain mempertimbangkan posisi kepemimpinan Palestina dan negara-negara Arab dan Muslim yang berkepentingan yang mendukung dokumen tersebut, serta keinginan untuk menghindari terulangnya kekerasan di Gaza.

"Saya ingin mengingatkan bahwa perang dan penderitaan penduduk sipil di daerah kantong tersebut sebenarnya bisa dihentikan sejak lama jika Washington tidak secara sistematis memveto enam kali rancangan resolusi yang mensyaratkan gencatan senjata segera selama dua tahun terakhir," tambahnya.

Beralih ke masalah regional lainnya, Zakharova membahas potensi bantuan militer kepada Iran, dengan menyatakan bahwa masalah tersebut jika terjadi serangan oleh AS atau sekutunya diatur oleh ketentuan Perjanjian Kemitraan Strategis Komprehensif antara Moskow dan Teheran.

"Antara lain, dokumen ini menetapkan pengembangan kerja sama militer dan teknis-militer di berbagai isu," ujarnya.

Menanggapi laporan media yang mengklaim bahwa beberapa warga negara Irak bertempur di Ukraina, Zakharova mengatakan bahwa semua detail tersebut berada di bawah yurisdiksi Kementerian Pertahanan Rusia.

"Oleh karena itu, kami akan mengarahkan pertanyaan Anda kepada rekan-rekan kami dan menghubungkan Anda dengan mereka," tambahnya.
(ahm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Presiden Mahmoud Abbas:...
Presiden Mahmoud Abbas: Pilpres Palestina Digelar Awal 2027
Presiden Asosiasi Sepak...
Presiden Asosiasi Sepak Bola Palestina Kecam AS Tunda Visa untuk Acara Piala Dunia
Inggris, Australia,...
Inggris, Australia, dan Kanada Luncurkan Dana untuk Dukung Upaya Solusi 2 Negara
Didanai Maroko, Nikah...
Didanai Maroko, Nikah Massal Digelar untuk 40 Warga Gaza Penyandang Disabilitas dan Cedera
Ini Bukti Biadabnya...
Ini Bukti Biadabnya Tentara Israel Tembak Mati Bayi Palestina di Tepi Barat
Hacker Pro-Palestina...
Hacker Pro-Palestina Janji Lancarkan Serangan Siber Paling Dahsyat ke Israel
Prabowo Terima Telepon...
Prabowo Terima Telepon Mahmoud Abbas, Tegaskan Indonesia Berdiri Bersama Palestina
Australia Beri Peringatan:...
Australia Beri Peringatan: El Nino Kali Ini Akan Jadi yang Terkuat dalam Tujuh Dekade
PM Inggris Keir Starmer...
PM Inggris Keir Starmer Diisukan Akan Mundur, Ini Kata Trump
Rekomendasi
Ade Darmawan Minta Jaksa...
Ade Darmawan Minta Jaksa Tolak Segala Intervensi di Kasus Ijazah Jokowi
Hadapi Masa Depan yang...
Hadapi Masa Depan yang Tak Pasti, Mahasiswa Diajarkan Kepemimpinan, Inovasi, dan Talenta Digital
Abdul Rahman Golkar...
Abdul Rahman Golkar ke Deddy Sitorus: Krisis Batu Bara Bukan Persoalan Baru
Berita Terkini
Rusia Tembak Jatuh 80...
Rusia Tembak Jatuh 80 Drone Ukraina, Kremlin Luncurkan Rudal Balistik Iskander
6 PM dalam 10 Tahun...
6 PM dalam 10 Tahun 44 Hari, Seperti Apa Politik Antrean di Inggris?
Jepang Naikkan Biaya...
Jepang Naikkan Biaya Visa sebanyak Lima Kali Lipat, Apa Pemicunya?
Tuntut Menteri Pendidikan...
Tuntut Menteri Pendidikan Mundur, Pendukung Partai Kecoa Berkemah di Jalanan
4 Pemicu PM Inggris...
4 Pemicu PM Inggris Keir Starmer Mundur, dari Pemberontakan Internal hingga Terlalu Banyak Janji
Iran dan AS Berdamai,...
Iran dan AS Berdamai, Upacara Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei Digelar selama 6 Hari
Infografis
10 Negara dengan Cadangan...
10 Negara dengan Cadangan Emas Terbesar Dunia, AS Masih Teratas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved