153 Warga Palestina Tiba-tiba Muncul di Afrika Selatan, Diterbangkan oleh Pesawat Misterius
Minggu, 16 November 2025 - 10:27 WIB
loading...
A
A
A
Sementara itu, Kedutaan Besar Palestina di Afrika Selatan mengatakan, "153 warga Palestina datang dari Gaza melalui Bandara [Eilat] Ramon [di Israel] lalu melalui Nairobi tanpa pemberitahuan atau koordinasi sebelumnya."
Disebutkan bahwa penerbangan tersebut diatur oleh organisasi yang tidak terdaftar dan menyesatkan.
Kedutaan itu menyatakan, "Organisasi tersebut memanfaatkan kondisi kemanusiaan yang tragis dari orang-orang di Gaza, menipu keluarga, mengumpulkan uang dari mereka, dan memfasilitasi perjalanan mereka dengan cara yang tidak teratur dan tidak bertanggung jawab."
"Entitas ini kemudian berusaha melepaskan tanggung jawab apa pun setelah timbul komplikasi," imbuh kedutaan.
Imtiaz Sooliman, pendiri kelompok kemanusiaan Gift of the Givers, mengatakan kepada penyiar SABC bahwa Israel harus disalahkan atas masuknya pengungsi Palestina yang tidak terkoordinasi ke negara tersebut.
"Sayangnya, ini terdengar sangat menyeramkan. Ini bukan penerbangan pertama; ini penerbangan kedua. Ini tampaknya merupakan upaya terkoordinasi dari Israel untuk melakukan proses pembersihan etnis," ujarnya.
Dia mencatat bahwa orang-orang membayar harga yang mahal kepada organisasi-organisasi Israel dan kemudian pindah ke Shalom dan ke pangkalan militer Ramon di mana mereka diterbangkan ke berbagai negara.
"Sebagian besar dari mereka di pesawat pertama bahkan tidak tahu ke mana mereka akan pergi dan tentu saja, tidak ada stempel keluar dan ketika mereka sampai di negara asing, mereka semakin dipermalukan dan semakin kesulitan, seperti yang terjadi di Afrika Selatan," imbuh Sooliman.
Sementara itu, menurut laporan BBC, badan militer Israel Cogat, yang mengendalikan penyeberangan Gaza, mengatakan dalam sebuah pernyataan: "Para penduduk meninggalkan Jalur Gaza setelah Cogat menerima persetujuan dari negara ketiga untuk menerima mereka."
Disebutkan bahwa penerbangan tersebut diatur oleh organisasi yang tidak terdaftar dan menyesatkan.
Kedutaan itu menyatakan, "Organisasi tersebut memanfaatkan kondisi kemanusiaan yang tragis dari orang-orang di Gaza, menipu keluarga, mengumpulkan uang dari mereka, dan memfasilitasi perjalanan mereka dengan cara yang tidak teratur dan tidak bertanggung jawab."
"Entitas ini kemudian berusaha melepaskan tanggung jawab apa pun setelah timbul komplikasi," imbuh kedutaan.
Imtiaz Sooliman, pendiri kelompok kemanusiaan Gift of the Givers, mengatakan kepada penyiar SABC bahwa Israel harus disalahkan atas masuknya pengungsi Palestina yang tidak terkoordinasi ke negara tersebut.
"Sayangnya, ini terdengar sangat menyeramkan. Ini bukan penerbangan pertama; ini penerbangan kedua. Ini tampaknya merupakan upaya terkoordinasi dari Israel untuk melakukan proses pembersihan etnis," ujarnya.
Dia mencatat bahwa orang-orang membayar harga yang mahal kepada organisasi-organisasi Israel dan kemudian pindah ke Shalom dan ke pangkalan militer Ramon di mana mereka diterbangkan ke berbagai negara.
"Sebagian besar dari mereka di pesawat pertama bahkan tidak tahu ke mana mereka akan pergi dan tentu saja, tidak ada stempel keluar dan ketika mereka sampai di negara asing, mereka semakin dipermalukan dan semakin kesulitan, seperti yang terjadi di Afrika Selatan," imbuh Sooliman.
Sementara itu, menurut laporan BBC, badan militer Israel Cogat, yang mengendalikan penyeberangan Gaza, mengatakan dalam sebuah pernyataan: "Para penduduk meninggalkan Jalur Gaza setelah Cogat menerima persetujuan dari negara ketiga untuk menerima mereka."
Lihat Juga :