3 Alasan Timor Leste Baru Bergabung ASEAN pada 2025, dari Pembangunan hingga Menjaga Stabilitas
Selasa, 28 Oktober 2025 - 11:40 WIB
loading...
A
A
A
"Seiring meningkatnya proteksionisme, perluasan ASEAN menunjukkan komitmennya terhadap regionalisme, keterbukaan, dan partisipasi yang setara," ujarnya.
Negara terakhir yang bergabung dengan ASEAN adalah Kamboja pada tahun 1999.
Timor Leste, yang terletak di antara Indonesia dan Australia, merupakan koloni Portugis selama lebih dari empat abad sebelum mendeklarasikan kemerdekaan pada tahun 1975.
Saat ini, Timor Leste dipimpin oleh dua pahlawan kemerdekaan — Perdana Menteri Gusmao dan Presiden Jose Ramos-Horta, yang memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 1996.
Mereka berupaya mengatasi tingginya tingkat pengangguran, malnutrisi, dan kemiskinan. Sekitar 42% penduduk negara ini hidup di bawah garis kemiskinan nasional. Hampir dua pertiga penduduknya berusia di bawah 30 tahun, sehingga penciptaan lapangan kerja bagi kaum muda menjadi prioritas utama.
Sumber utama pendapatan pemerintahnya berasal dari industri minyak dan gas, tetapi dengan sumber daya yang cepat menipis, Timor Leste berupaya melakukan diversifikasi.
Baca Juga: Perampokan Perhiasan Rp1,69 Triliun di Museum Louvre Ternyata Dibantu Orang Dalam
"Kapasitas administratif dan kelembagaan Timor Leste masih tertinggal dibandingkan sebagian besar anggota ASEAN, dan partisipasi penuh akan membutuhkan dukungan teknis dan finansial yang berkelanjutan dari sekretariat dan negara-negara anggota," ujarnya. "Namun, keterlibatannya juga membawa energi dan perspektif baru — terutama pada isu-isu seperti pemberdayaan pemuda, tata kelola pemerintahan yang demokratis, dan diplomasi negara-negara kecil."
Negara terakhir yang bergabung dengan ASEAN adalah Kamboja pada tahun 1999.
Timor Leste, yang terletak di antara Indonesia dan Australia, merupakan koloni Portugis selama lebih dari empat abad sebelum mendeklarasikan kemerdekaan pada tahun 1975.
Saat ini, Timor Leste dipimpin oleh dua pahlawan kemerdekaan — Perdana Menteri Gusmao dan Presiden Jose Ramos-Horta, yang memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 1996.
Mereka berupaya mengatasi tingginya tingkat pengangguran, malnutrisi, dan kemiskinan. Sekitar 42% penduduk negara ini hidup di bawah garis kemiskinan nasional. Hampir dua pertiga penduduknya berusia di bawah 30 tahun, sehingga penciptaan lapangan kerja bagi kaum muda menjadi prioritas utama.
Sumber utama pendapatan pemerintahnya berasal dari industri minyak dan gas, tetapi dengan sumber daya yang cepat menipis, Timor Leste berupaya melakukan diversifikasi.
Baca Juga: Perampokan Perhiasan Rp1,69 Triliun di Museum Louvre Ternyata Dibantu Orang Dalam
2. Membantu Pembangunan Timor Leste
Awalnya, gagasan untuk memasukkan Timor Leste ke ASEAN disambut skeptis oleh beberapa anggota lain, dan meskipun hal itu berhasil diatasi, Joanne Lin, koordinator Pusat Studi ASEAN di ISEAS–Yusof Ishak Institute di Singapura, mengatakan bahwa negara tersebut "bukan tanpa tantangan.""Kapasitas administratif dan kelembagaan Timor Leste masih tertinggal dibandingkan sebagian besar anggota ASEAN, dan partisipasi penuh akan membutuhkan dukungan teknis dan finansial yang berkelanjutan dari sekretariat dan negara-negara anggota," ujarnya. "Namun, keterlibatannya juga membawa energi dan perspektif baru — terutama pada isu-isu seperti pemberdayaan pemuda, tata kelola pemerintahan yang demokratis, dan diplomasi negara-negara kecil."
Lihat Juga :