Profil Cyril Ramaphosa, Presiden Afrika Selatan yang Temui Prabowo di Jakarta

Rabu, 22 Oktober 2025 - 14:08 WIB
loading...
Profil Cyril Ramaphosa,...
Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa disambut Presiden RI Prabowo Subianto di Jakarta. Foto/BPMI Setpres
A A A
JAKARTA - Cyril Ramaphosa adalah sosok kunci dalam sejarah modern Afrika Selatan, dari aktivis serikat pekerja, negosiator transisi apartheid, pengusaha sukses, hingga akhirnya menjadi Presiden Republik Afrika Selatan sejak 2018. Di tengah tantangan besar seperti kesenjangan sosial, ekonomi yang tertekan, dan politik yang berubah cepat, Ramaphosa mencoba menegaskan visinya untuk “Afrika Selatan bagi semua”.

Kunjungan resminya ke Jakarta dan pertemuan dengan Presiden RI Prabowo Subianto menunjukkan ia juga aktif pada ranah diplomasi global dan memperkuat hubungan Afrika Selatan dengan Asia-Pasifik.

Kita akan menguraikan profil Ramaphosa secara mendalam: latar belakang pribadinya, perjalanan politik dan bisnisnya, pencapaian dan tantangan, hingga prospek masa depan kepemimpinannya.

1. Latar Belakang Pribadi dan Pendidikan


Cyril Ramaphosa lahir pada 17 November 1952 di Johannesburg, dalam lingkungan suburb yang masih berada di bawah rezim apartheid.

Keluarganya mengalami realitas keras diskriminasi rasial—membesarkan Ramaphosa di kawasan Soweto, yang menjadi pusat banyak perjuangan anti-apartheid.

Ia menyelesaikan sekolah menengah di Mphaphuli High School (Sibasa) pada tahun 1971.

Setelah itu, Ramaphosa melanjutkan pendidikan tinggi ke University of the North (sekarang University of Limpopo) mulai 1972, di mana ia aktif dalam organisasi mahasiswa dan gerakan aktivisme politik.

Dalam perjalanan studinya, ia ditahan beberapa kali karena aktivitas politik—misalnya pada tahun 1974 karena mengorganisir rally mendukung kemerdekaan Mozambique.

Tahun 1981, ia memperoleh gelar B.Proc dari University of South Africa (UNISA).

Dari latar tersebut, jelas bahwa Ramaphosa memiliki akar dalam perjuangan politik, pengorganisasian massa, dan pendidikan hukum — yang kemudian menjadi landasan bagi kariernya.

Nilai-nilai seperti keadilan sosial, kesetaraan, dan kemampuan negosiasi sudah tumbuh sejak masa muda.

2. Karier Aktivisme dan Serikat Pekerja


Setelah lulus, Ramaphosa bergabung dengan dunia gerakan pekerja. Ia menjadi penasihat hukum untuk Council of Unions of South Africa (CUSA) dan kemudian menjadi Sekretaris Jenderal untuk National Union of Mineworkers (NUM) saat pembentukannya pada tahun 1982.

Di NUM, Ramaphosa memimpin aksi mogok besar pada tahun 1987 — yang menjadi salah satu mogok terbesar dalam sejarah industri pertambangan Afrika Selatan pada masa itu.

Melalui peran ini, ia mengasah keahlian negosiasi, memahami isu-struktural ketenagakerjaan, dan membangun jaringan politik yang luas di antara kelas pekerja dan elit politik anti-apartheid.

Karier dalam serikat pekerja juga menempatkan Ramaphosa sebagai figur penting dalam gerakan demokrasi massa yang kemudian membuka jalan untuk pembongkaran apartheid.

Ia membantu mendirikan Congress of South African Trade Unions (COSATU) pada 1985, yang menjadi aliansi utama gerakan pekerja dan politik.

Dengan demikian, sebelum terjun penuh ke politik partai, Ramaphosa sudah membuktikan kemampuannya dalam organisasi besar, mobilisasi sosial, dan advokasi struktural — elemen yang penting dalam karier politiknya selanjutnya.

3. Peran dalam Transisi Demokrasi dan Politik Awal


Saat rezim apartheid mulai melemah, Ramaphosa mengambil peran kunci dalam fase transisi. Pada Juli 1991, ia terpilih sebagai Sekretaris Jenderal African National Congress (ANC) dan menjadi kepala delegasi ANC dalam pembicaraan multipihak dengan pemerintah nasionalis untuk mengakhiri apartheid.

Setelah pemilihan demokratis pertama pada tahun 1994, ia menjadi Anggota Majelis Nasional dan kemudian Ketua Majelis Konstitusi yang menyusun Konstitusi Afrika Selatan modern.

Untuk sumbangsihnya, Ramaphosa dianugerahi penghargaan National Order of the Baobab in Silver pada tahun 2009.

Peran ini menunjukkan Ramaphosa tidak hanya tokoh politik tetapi juga mediator dan jembatan dalam momen penting sejarah negaranya.

Kemampuan negosiasi dan visinya untuk rekonsiliasi nasional menjadi ciri khasnya. Dari sini pula ia mulai dikenal secara internasional sebagai figur yang mampu membawa perubahan struktural melalui dialog daripada konfrontasi.

4. Karier Bisnis dan Kekayaan Pribadi


Setelah periode transisi politik, Ramaphosa beralih ke dunia bisnis. Ia memimpin Shanduka Group, sebuah perusahaan investasi yang bergerak di sektor-pertambangan, properti, keuangan, dan food‐franchise, yang berdiri pada awal 2000-an.

Berbagai jabatan di korporasi besar dan investasi yang menguntungkan menjadikan Ramaphosa sosok yang sangat kaya secara pribadi, dengan estimasi kekayaan ratusan juta dolar.

Kombinasi antara karier politik dan bisnis ini menimbulkan pro dan kontra. Di satu sisi, ia memiliki pengalaman manajemen dan jaringan bisnis yang luas. Di sisi lain, ia juga dikritik oleh sebagian pengamat yang melihat potensi konflik kepentingan antara bisnis pribadinya dan tanggung jawab publiknya.

5. Jabatan Presiden dan Kepemimpinan Nasional


Ramaphosa diangkat sebagai Presiden Republik Afrika Selatan pada 15 Februari 2018, menyusul pengunduran diri Jacob Zuma.

Sejak itu, ia memimpin dalam periode yang sarat tantangan: ekonomi yang melambat, pengangguran tinggi, infrastruktur yang menua, dan keharusan rekonsiliasi nasional yang belum selesai.

Pada pemilihan umum berikutnya, meskipun partai ANC tetap memperoleh suara terbanyak, Ramaphosa dituntut untuk membentuk koalisi karena partai tidak lagi mendapatkan mayoritas mutlak.

Kepemimpinannya juga ditandai dengan pertama kali kabinet Afrika Selatan beranggotakan proporsi perempuan yang signifikan, dan fokus pada reformasi struktural termasuk inisiatif pengembangan nasional jangka panjang melalui National Planning Commission yang pernah ia pimpin.

Dengan demikian, Ramaphosa menampilkan dirinya bukan hanya sebagai penerus era apartheid tetapi juga sebagai pemimpin transisi menuju ekonomi dan masyarakat yang lebih modern.

6. Visi Kebijakan dan Prioritas Pemerintahan


Dalam hal kebijakan, Ramaphosa menetapkan beberapa prioritas utama. Ia menekankan pengentasan kemiskinan, penciptaan lapangan kerja, dan pemberdayaan ekonomi bagi warga kulit hitam sebagai warisan dari apartheid.

Ia juga meluncurkan “National Development Plan” yang menargetkan pertumbuhan inklusif dan memperkuat fondasi ekonomi jangka panjang.

Di bidang diplomasi dan internasional, Ramaphosa dikenal sebagai advokat multilateralisme, perdamaian, dan integrasi Afrika — misalnya dengan menjabat sebagai Ketua Uni Afrika pada 2020 dan aktif dalam isu-global seperti perubahan iklim dan perdamaian.

Namun demikian, kebijakan-kebijakan ini menghadapi realitas keras: tingkat pengangguran tetap sangat tinggi, sistem listrik nasional terganggu oleh pemadaman bergilir, dan utang publik terus meningkat. Ramaphosa dalam beberapa kesempatan mendeklarasikan “state of disaster” untuk mengatasi krisis listrik dan infrastruktur.

7. Tantangan, Kontroversi dan Kritik


Meskipun reputasinya sebagai reformis, Ramaphosa tidak lepas dari kontroversi. Kasus yang paling menonjol adalah skandal yang dikenal sebagai “Phala Phala” — terkait pencurian uang asing di peternakan pribadinya pada 2020, yang kemudian memicu investigasi serius terhadap dirinya.

Meskipun jaksa memutuskan untuk tidak menuntutnya, reputasi anti-korupsinya menjadi goyah.

Selain itu, kerjasama koalisi pemerintah pasca-2024 menunjukkan bagaimana partai ANC yang dipimpinnya kehilangan mayoritas, memaksa Ramaphosa untuk berkompromi dengan partai oposisi seperti Democratic Alliance (DA).

Kritik juga datang dari kalangan yang menilai kebijakan transformasi ekonomi berjalan lambat, dan lapangan kerja tidak cukup terbuka bagi generasi muda.

Semua ini menggambarkan meskipun Ramaphosa memiliki visi besar, implementasi di lapangan menghadapi hambatan struktural yang kuat — dari warisan apartheid, korupsi institusional, hingga tantangan global.

8. Jejak Diplomasi dan Hubungan Bilateral (termasuk Indonesia)


Sebagai Presiden Afrika Selatan, Ramaphosa aktif memperluas jangkauan diplomasi negara tersebut ke kawasan Asia-Pasifik.

Lawatannya ke Jakarta dan pertemuannya dengan Prabowo Subianto menandakan pentingnya hubungan bilateral antara Indonesia dan Afrika Selatan dalam perdagangan, investasi, serta kerjasama dalam forum multilateral.

Hubungan ini juga sejalan dengan agenda Afrika Selatan untuk memperkuat koneksi dengan negara berkembang di luar Barat tradisional.

Selain itu, Ramaphosa juga sering muncul dalam forum global seperti G20, PBB dan BRICS, menjadikan Afrika Selatan sebagai “tonggak” representasi Afrika dalam diplomasi internasional.

Fokus kerjasama dengan Indonesia bisa mencakup komoditas alam, teknologi, dan pembangunan infrastruktur — area yang juga menjadi prioritas kebijakan Ramaphosa di dalam negeri. Dengan demikian, profilnya sebagai pemimpin yang berpandangan global semakin jelas.

9. Signifikansi Kepemimpinan dan Prospek Masa Depan


Kepemimpinan Ramaphosa sangat signifikan di berbagai tingkatan: ia merupakan generasi pemimpin pasca-apartheid yang mencoba menerjemahkan semangat rekonsiliasi ke dalam pembangunan ekonomi; ia juga menyimbolkan bahwa Afrika Selatan mencoba bergerak dari negara konflik struktural menuju negara pembangunan yang lebih matang.

Prospeknya ke depan sangat bergantung pada kemampuannya mengimplementasikan reformasi — mempercepat pertumbuhan ekonomi, memperbaiki layanan publik, menyelesaikan krisis listrik dan infrastruktur, serta mempertahankan legitimasi politik di tengah koalisi yang rapuh.

Jika ia berhasil menavigasi tantangan tersebut, maka Ramaphosa bisa menjadi salah satu presiden paling berpengaruh dalam sejarah Afrika Selatan modern.

Namun jika gagal, maka kritik akan makin kuat dan tempatnya sebagai pemimpin transisi bisa berubah menjadi simbol ketidakmampuan terhadap realitas reformasi.

Cyril Ramaphosa adalah figur yang kompleks: seorang aktivis pekerja, negosiator perubahan besar, pengusaha dan kini presiden dengan visi yang ambisius.

Ia berdiri di persimpangan antara sejarah apartheid dan masa depan Afrika Selatan yang lebih inklusif dan modern.

Kunjungannya ke Indonesia dan dialog dengan pemimpin seperti Prabowo Subianto menunjukkan perannya kini tidak hanya domestik, tetapi juga global. Namun, tantangan yang ia hadapi — dari tuntutan sosial, ekonomi, hingga politik — sangat besar.

Sejarah akan menilai apakah Ramaphosa benar-benar membawa transformasi nyata atau tetap terjebak dalam warisan dan hambatan yang diwarisi.

Untuk Indonesia dan dunia, kepemimpinannya memberikan pelajaran bahwa perubahan besar membutuhkan kombinasi visi, keahlian manajerial, legitimasi politik, dan keberanian untuk menghadapi arus perubahan — sesuatu yang Ramaphosa tampaknya miliki, namun harus terus dibuktikan.

Baca juga: Wapres AS Vance Akui Tidak Tahu Siapa yang akan Kelola Gaza di Masa Depan
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pilot Australia Terbangkan...
Pilot Australia Terbangkan 2 Buronan Paling Dicari ke Indonesia via Penerbangan Gelap
10 Pesawat Militer Termahal...
10 Pesawat Militer Termahal di Dunia, Harga 7 Bomber B-2 Hampir Setara Anggaran MBG Indonesia
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Ada yang Hanya Rp427 Per Liter
Viral! 3 PRT Indonesia...
Viral! 3 PRT Indonesia Dianiaya di Malaysia, 4 Majikan Ditangkap
Ini 15 Negara yang Mampu...
Ini 15 Negara yang Mampu Memproduksi Jet Tempur Sendiri, Indonesia Kapan?
Gempa Magnitudo 8,1...
Gempa Magnitudo 8,1 Guncang Filipina, Peringatan Tsunami Dikeluarkan, Warga Kocar-kacir Selamatkan Diri
UU Polri Baru Dinilai...
UU Polri Baru Dinilai Perkuat Transformasi Polri dan Dukung Asta Cita
Suami Divonis 4 Tahun...
Suami Divonis 4 Tahun Penjara karena Paksa Istri Berhubungan Seks dengan 120 Pria
Mengejutkan! 92% Warga...
Mengejutkan! 92% Warga Israel Yakin Negaranya Kalah Perang Lawan Iran
Rekomendasi
Ingat Besok Jadwal Puasa...
Ingat Besok Jadwal Puasa Tasua, Ini Bacaan Niatnya!
BMKG Ingatkan Dampak...
BMKG Ingatkan Dampak El Nino, Ancaman Karhutla dan Kekeringan Mengintai
Bangun SDM Unggul, Pertamina...
Bangun SDM Unggul, Pertamina Gandeng Kemnaker Perkuat Kompetensi dan Budaya K3
Berita Terkini
Tegang dengan NATO,...
Tegang dengan NATO, Pesawat Pengebom Nuklir Rusia Berkeliaran di Arktik
Iran Klaim 3 Poin Kemenangan...
Iran Klaim 3 Poin Kemenangan dalam Negosiasi dengan AS, Termasuk Aset Senilai Rp214 Triliun
Dosen Ini Donorkan Organnya...
Dosen Ini Donorkan Organnya untuk Selamatkan 5 Orang, Staf RS Berbaris Beri Penghormatan Terakhir
Siapa Andy Burnham?...
Siapa Andy Burnham? Kandidat Kuat PM Inggris yang Suka Bermain Bola
China Tuduh Militer...
China Tuduh Militer Jepang Mengganggu Latihan Tempur Kapal Induk Liaoning
Gelombang Panas Sengat...
Gelombang Panas Sengat Eropa, 18 Orang Tewas di Prancis
Infografis
10 Bendera Negara Paling...
10 Bendera Negara Paling Unik di Dunia, Ada yang Bergambar Naga
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved