Profil Soamsawali Kitiyakara, Istri Pertama yang Dicerai Raja Thailand tapi Jadi Permaisuri Bayangan
Senin, 06 Oktober 2025 - 08:40 WIB
loading...
A
A
A
Pernikahan ini sangat meriah, disaksikan para bangsawan, diplomat, dan rakyat Thailand. Dari pernikahan tersebut, lahirlah Putri Bajrakitiyabha pada 7 Desember 1978, satu-satunya anak perempuan Vajiralongkorn, yang kelak menjadi tokoh penting kerajaan dan sempat digadang-gadang sebagai pewaris takhta.
Namun, di balik gemerlap pernikahan kerajaan, kehidupan rumah tangga mereka jauh dari bahagia. Vajiralongkorn dikenal playboy dan memiliki hubungan dengan banyak perempuan, bahkan ketika masih berstatus pangeran mahkota.
Pukulan besar datang ketika Vajiralongkorn menjalin hubungan dengan seorang perempuan biasa bernama Yuvadhida Polpraserth, yang kemudian menjadi istri keduanya secara tidak resmi.
Dalam waktu singkat, Vajiralongkorn memiliki beberapa anak dengan Yuvadhida, sementara Soamsawali terpinggirkan.
Pangeran mahkota kemudian secara resmi mengajukan gugatan cerai terhadap Soamsawali pada tahun 1991. Menariknya, Soamsawali tidak pernah menggugat balik, sehingga proses cerai hanya diinisiasi sepihak oleh Vajiralongkorn.
Dalam dokumen hukum kerajaan, Vajiralongkorn menuduh istri pertamanya itu “gagal memenuhi kewajiban sebagai istri.”
Meski bercerai secara hukum, keluarga kerajaan tetap memperlakukan Soamsawali dengan hormat. Dia tidak diasingkan seperti beberapa istri Vajiralongkorn lainnya. Sebaliknya, dia tetap diberi gelar kehormatan dan tetap tinggal di lingkungan istana.
Pada tahun 1991, setelah perceraiannya disahkan, Raja Bhumibol Adulyadej memberi Soamsawali gelar “Somdet Phra Ratchathewi”, yang berarti “Istri Kerajaan”—status kehormatan tinggi yang setara dengan permaisuri.
Dia juga diberi sebutan informal sebagai “Ibu Kerajaan” (Royal Consort Mother) karena menjadi ibu dari satu-satunya anak perempuan raja dengannya.
Namun, di balik gemerlap pernikahan kerajaan, kehidupan rumah tangga mereka jauh dari bahagia. Vajiralongkorn dikenal playboy dan memiliki hubungan dengan banyak perempuan, bahkan ketika masih berstatus pangeran mahkota.
Perselingkuhan dan Perceraian Kontroversial
Pukulan besar datang ketika Vajiralongkorn menjalin hubungan dengan seorang perempuan biasa bernama Yuvadhida Polpraserth, yang kemudian menjadi istri keduanya secara tidak resmi.
Dalam waktu singkat, Vajiralongkorn memiliki beberapa anak dengan Yuvadhida, sementara Soamsawali terpinggirkan.
Pangeran mahkota kemudian secara resmi mengajukan gugatan cerai terhadap Soamsawali pada tahun 1991. Menariknya, Soamsawali tidak pernah menggugat balik, sehingga proses cerai hanya diinisiasi sepihak oleh Vajiralongkorn.
Dalam dokumen hukum kerajaan, Vajiralongkorn menuduh istri pertamanya itu “gagal memenuhi kewajiban sebagai istri.”
Meski bercerai secara hukum, keluarga kerajaan tetap memperlakukan Soamsawali dengan hormat. Dia tidak diasingkan seperti beberapa istri Vajiralongkorn lainnya. Sebaliknya, dia tetap diberi gelar kehormatan dan tetap tinggal di lingkungan istana.
Dianugerahi Gelar “Ibu Kerajaan”
Pada tahun 1991, setelah perceraiannya disahkan, Raja Bhumibol Adulyadej memberi Soamsawali gelar “Somdet Phra Ratchathewi”, yang berarti “Istri Kerajaan”—status kehormatan tinggi yang setara dengan permaisuri.
Dia juga diberi sebutan informal sebagai “Ibu Kerajaan” (Royal Consort Mother) karena menjadi ibu dari satu-satunya anak perempuan raja dengannya.
Lihat Juga :