Eks Tawanan Israel Sebut Netanyahu Perintahkan Pembunuhan Sandera di Gaza
Jum'at, 19 September 2025 - 17:18 WIB
loading...
Ilana Gritzovsky dibebaskan berdasarkan gencatan senjata pada November 2023. Foto/jfeed
A
A
A
TEL AVIV - Seorang mantan tawanan Israel menuduh Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu pada hari Kamis (18/9/2025) memberikan perintah untuk membunuh para sandera yang ditawan di Gaza dengan melanjutkan rencana untuk menduduki Kota Gaza. Pernyataan itu muncul seiring serangan brutal yang dilakukan Israel untuk mencaplok Kota Gaza.
Ilana Gritzovsky, yang dibebaskan berdasarkan gencatan senjata pada November 2023, mengatakan kepada Radio Angkatan Darat bahwa, “Keputusan Netanyahu berarti memberikan perintah untuk membunuh para sandera."
Rekannya, tentara Matan Zangauker, masih ditahan di Gaza. "Berapa banyak keluarga yang harus berduka sebelum dia mendengarkan kecaman publik?" tanyanya.
Dia ingin kembali ke kehidupan normal dan menikahi Zangauker setelah dia kembali.
Gritzovsky mengatakan dia tidak bisa bekerja di tengah meluasnya operasi militer. "Saya tahu apa yang dialami para tawanan. Dengan setiap pesawat terbang di atas mereka, mereka harus berlindung. Saya sendiri pernah bersembunyi dari reruntuhan yang jatuh," kenangnya.
Ia termasuk di antara 109 tawanan yang dibebaskan berdasarkan kesepakatan yang dimediasi Mesir, Qatar, dan AS, yang juga membebaskan 240 warga Palestina dan mengizinkan sejumlah bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza.
Namun, jeda tersebut berakhir, dengan Israel melanjutkan kampanye militernya pada bulan Desember.
Awal bulan ini, pemerintah Netanyahu menyetujui pendudukan penuh atas Gaza, dimulai dengan Kota Gaza.
Militer mengklaim telah melancarkan serangan darat pekan ini, meskipun sumber-sumber lokal mengatakan kenyataannya adalah peningkatan serangan udara, penembakan artileri, dan penggunaan bahan peledak yang dibawa robot untuk menghancurkan rumah-rumah dan memaksa pengungsian.
Israel memperkirakan 48 sandera masih berada di Gaza, sekitar 20 di antaranya diyakini masih hidup.
Kelompok-kelompok hak asasi manusia mengatakan lebih dari 11.000 warga Palestina ditahan di penjara-penjara Israel dalam kondisi yang mengerikan, termasuk laporan penyiksaan, kelaparan, pengabaian medis, dan kematian.
Para pemimpin oposisi dan keluarga sandera di Israel menuduh Netanyahu memperpanjang perang demi kelangsungan politik.
Mereka memperingatkan penarikan pasukan dari Gaza dapat menggulingkan koalisinya.
Militer Israel terus melancarkan serangan brutal di Jalur Gaza, menewaskan lebih dari 65.100 warga Palestina sejak Oktober 2023.
Kampanye militer tersebut telah menghancurkan wilayah kantong tersebut dan memaksa penduduknya kelaparan.
Pada hari Selasa, Komisi Penyelidikan Internasional Independen PBB untuk Wilayah Palestina yang Diduduki mengonfirmasi Israel telah melakukan genosida di Gaza.
Baca juga: Komunikasi Lumpuh di Kota Gaza, 800.000 Warga Palestina Terisolir seiring Gempuran Israel
Ilana Gritzovsky, yang dibebaskan berdasarkan gencatan senjata pada November 2023, mengatakan kepada Radio Angkatan Darat bahwa, “Keputusan Netanyahu berarti memberikan perintah untuk membunuh para sandera."
Rekannya, tentara Matan Zangauker, masih ditahan di Gaza. "Berapa banyak keluarga yang harus berduka sebelum dia mendengarkan kecaman publik?" tanyanya.
Dia ingin kembali ke kehidupan normal dan menikahi Zangauker setelah dia kembali.
Gritzovsky mengatakan dia tidak bisa bekerja di tengah meluasnya operasi militer. "Saya tahu apa yang dialami para tawanan. Dengan setiap pesawat terbang di atas mereka, mereka harus berlindung. Saya sendiri pernah bersembunyi dari reruntuhan yang jatuh," kenangnya.
Ia termasuk di antara 109 tawanan yang dibebaskan berdasarkan kesepakatan yang dimediasi Mesir, Qatar, dan AS, yang juga membebaskan 240 warga Palestina dan mengizinkan sejumlah bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza.
Namun, jeda tersebut berakhir, dengan Israel melanjutkan kampanye militernya pada bulan Desember.
Awal bulan ini, pemerintah Netanyahu menyetujui pendudukan penuh atas Gaza, dimulai dengan Kota Gaza.
Militer mengklaim telah melancarkan serangan darat pekan ini, meskipun sumber-sumber lokal mengatakan kenyataannya adalah peningkatan serangan udara, penembakan artileri, dan penggunaan bahan peledak yang dibawa robot untuk menghancurkan rumah-rumah dan memaksa pengungsian.
Israel memperkirakan 48 sandera masih berada di Gaza, sekitar 20 di antaranya diyakini masih hidup.
Kelompok-kelompok hak asasi manusia mengatakan lebih dari 11.000 warga Palestina ditahan di penjara-penjara Israel dalam kondisi yang mengerikan, termasuk laporan penyiksaan, kelaparan, pengabaian medis, dan kematian.
Para pemimpin oposisi dan keluarga sandera di Israel menuduh Netanyahu memperpanjang perang demi kelangsungan politik.
Mereka memperingatkan penarikan pasukan dari Gaza dapat menggulingkan koalisinya.
Militer Israel terus melancarkan serangan brutal di Jalur Gaza, menewaskan lebih dari 65.100 warga Palestina sejak Oktober 2023.
Kampanye militer tersebut telah menghancurkan wilayah kantong tersebut dan memaksa penduduknya kelaparan.
Pada hari Selasa, Komisi Penyelidikan Internasional Independen PBB untuk Wilayah Palestina yang Diduduki mengonfirmasi Israel telah melakukan genosida di Gaza.
Baca juga: Komunikasi Lumpuh di Kota Gaza, 800.000 Warga Palestina Terisolir seiring Gempuran Israel
(sya)
Lihat Juga :