Anggota NATO Ini Berani Putus Perdagangan dengan Israel, Apa Pemicunya?
Sabtu, 30 Agustus 2025 - 20:13 WIB
loading...
Anggota NATO ini berani putus perdagangan dengan Israel. Foto/X/@MARIALUISAMAR5
A
A
A
ANKARA - Turki memutuskan semua hubungan komersial dan ekonomi dengan Israel, serta menutup wilayah udaranya untuk beberapa penerbangan Israel. Itu diungkapkan Menteri Luar Negeri Hakan Fidan.
Kedua negara telah berselisih selama berbulan-bulan mengenai kampanye militer Israel di Gaza, dengan Turki menuduh negara tersebut melakukan genosida.
Dalam pidatonya di hadapan parlemen nasional pada hari Jumat, Fidan mengatakan Turki telah "sepenuhnya memutus perdagangan kami dengan Israel" dan "menutup pelabuhan kami untuk kapal-kapal Israel."
"Kami tidak mengizinkan kapal kontainer yang membawa senjata dan amunisi ke Israel untuk memasuki pelabuhan kami, dan pesawat terbang untuk memasuki wilayah udara kami," tambahnya, dilansir RT.
BacaJuga: 10 Demonstrasi Terbesar dalam Sejarah, Salah Satunya Pawai Perempuan
Fidan juga mengatakan kapal-kapal berbendera Turki dilarang singgah di pelabuhan Israel, dan kapal-kapal Israel dilarang memasuki pelabuhan-pelabuhan Turki.
Sumber diplomatik Turki mengatakan kepada Reuters bahwa pembatasan penerbangan hanya menargetkan penerbangan resmi Israel dan pesawat-pesawat yang membawa senjata atau amunisi, bukan transit rutin oleh maskapai komersial.
Badan tersebut juga melaporkan bahwa otoritas pelabuhan Turki sekarang secara informal mewajibkan agen pengiriman untuk membuktikan bahwa kapal-kapal tersebut tidak terkait dengan Israel dan tidak membawa kargo militer atau berbahaya yang ditujukan ke negara tersebut.
Namun, seorang pejabat Israel mengatakan kepada Jerusalem Post bahwa Turki telah "mengumumkan pemutusan hubungan ekonomi dengan Israel di masa lalu, dan hubungan tersebut berlanjut," yang tampaknya merujuk pada penangguhan impor dan ekspor Ankara pada bulan Mei.
Komentar menteri tersebut merupakan indikasi terbaru dari memburuknya hubungan antara Turki dan Israel, yang telah tegang akibat perang di Gaza.
Konflik ini bermula dari serangan mendadak Hamas terhadap Israel pada Oktober 2023, yang memicu operasi balasan terhadap wilayah Palestina tersebut.
Turki menuduh Israel melakukan genosida di Gaza, tuduhan yang dibantah Israel. Presiden Recep Tayyip Erdogan sebelumnya menyebut Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sebagai "penjagal Gaza", dan bahkan sempat menyatakan bahwa kejahatan perang yang dilakukannya melampaui kejahatan yang dilakukan oleh pemimpin Nazi, Adolf Hitler.
Pada tahun 2023, Turki menarik duta besarnya dari Israel, dan pada tahun 2024, memutuskan semua hubungan diplomatik.
Kedua negara telah berselisih selama berbulan-bulan mengenai kampanye militer Israel di Gaza, dengan Turki menuduh negara tersebut melakukan genosida.
Dalam pidatonya di hadapan parlemen nasional pada hari Jumat, Fidan mengatakan Turki telah "sepenuhnya memutus perdagangan kami dengan Israel" dan "menutup pelabuhan kami untuk kapal-kapal Israel."
"Kami tidak mengizinkan kapal kontainer yang membawa senjata dan amunisi ke Israel untuk memasuki pelabuhan kami, dan pesawat terbang untuk memasuki wilayah udara kami," tambahnya, dilansir RT.
BacaJuga: 10 Demonstrasi Terbesar dalam Sejarah, Salah Satunya Pawai Perempuan
Fidan juga mengatakan kapal-kapal berbendera Turki dilarang singgah di pelabuhan Israel, dan kapal-kapal Israel dilarang memasuki pelabuhan-pelabuhan Turki.
Sumber diplomatik Turki mengatakan kepada Reuters bahwa pembatasan penerbangan hanya menargetkan penerbangan resmi Israel dan pesawat-pesawat yang membawa senjata atau amunisi, bukan transit rutin oleh maskapai komersial.
Badan tersebut juga melaporkan bahwa otoritas pelabuhan Turki sekarang secara informal mewajibkan agen pengiriman untuk membuktikan bahwa kapal-kapal tersebut tidak terkait dengan Israel dan tidak membawa kargo militer atau berbahaya yang ditujukan ke negara tersebut.
Namun, seorang pejabat Israel mengatakan kepada Jerusalem Post bahwa Turki telah "mengumumkan pemutusan hubungan ekonomi dengan Israel di masa lalu, dan hubungan tersebut berlanjut," yang tampaknya merujuk pada penangguhan impor dan ekspor Ankara pada bulan Mei.
Komentar menteri tersebut merupakan indikasi terbaru dari memburuknya hubungan antara Turki dan Israel, yang telah tegang akibat perang di Gaza.
Konflik ini bermula dari serangan mendadak Hamas terhadap Israel pada Oktober 2023, yang memicu operasi balasan terhadap wilayah Palestina tersebut.
Turki menuduh Israel melakukan genosida di Gaza, tuduhan yang dibantah Israel. Presiden Recep Tayyip Erdogan sebelumnya menyebut Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sebagai "penjagal Gaza", dan bahkan sempat menyatakan bahwa kejahatan perang yang dilakukannya melampaui kejahatan yang dilakukan oleh pemimpin Nazi, Adolf Hitler.
Pada tahun 2023, Turki menarik duta besarnya dari Israel, dan pada tahun 2024, memutuskan semua hubungan diplomatik.
(ahm)
Lihat Juga :