Rusia Kembali Bombardir Ukraina Besar-besaran, Perusahaan AS Ikut Hancur
Jum'at, 22 Agustus 2025 - 09:09 WIB
loading...
Rusia kembali membombardir Ukraina secara besar-besaran. Sebuah perusahaan elektronik AS di Ukraina ikut hancur dihantam rudal jelajah Rusia. Foto/via Money Control
A
A
A
KYIV - Rusia kembali meluncurkan serangan besar-besaran ke Ukraina yang melibatkan 614 drone, rudal balistik, dan rudal jelajah pada Kamis dini hari. Rudal-rudal jelajah yang ditembakkan telah menghancurkan sebuah perusahaan elektronik milik Amerika Serikat (AS).
Para pejabat Kyiv mengatakan serangan tersebut menewaskan satu orang dan melukai puluhan orang lainnya. Perusahaan AS yang hancur berada di lokasi yang bejarak 48 kilometer dari dua negara NATO; Hongaria dan Slovakia.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan serangan terhadap perusahaan swasta AS tersebut, yang melibatkan beberapa rudal jelajah, sangat jelas meskipun ada upaya Presiden AS Donald Trump untuk memaksa Moskow mengakhiri invasinya.
Baca Juga: Eropa Desak Trump Kerahkan Jet Tempur Siluman F-35 AS untuk Lindungi Ukraina dari Invasi Rusia
"Tadi malam [Kamis dini hari], tentara Rusia mencetak salah satu rekor terburuknya yang gila," kata Zelensky, seperti dikutip Fox News, Jumat (22/8/2025). "Mereka menargetkan fasilitas infrastruktur sipil, bangunan tempat tinggal, dan rakyat kami," ujarnya.
"Beberapa rudal jelajah ditembakkan ke sebuah perusahaan milik Amerika di Zakarpattia," lanjut dia, menggambarkan perusahaan tersebut sebagai bisnis sipil biasa, yang didukung oleh investasi Amerika, yang memproduksi barang-barang sehari-hari seperti mesin kopi.
"Namun, perusahaan itu juga menjadi target Rusia. Ini sangat jelas," imbuh Zelensky.
Perusahaan Amerika tersebut dikenal sebagai Flex Ltd, yang berkantor pusat di Austin, Texas, tetapi memiliki lokasi bisnis di seluruh dunia. Mereka mengonfirmasi kepada Fox News Digital bahwa fasilitas tersebut hanya memproduksi barang-barang konsumsi sipil.
"Fasilitas ini tidak memproduksi, memasok, atau mendukung peralatan militer atau komponen terkait pertahanan apa pun," kata juru bicara perusahaan.
Setelah serangan tersebut, juru bicara itu mengatakan bahwa "protokol darurat telah dijalankan" dan lokasi tersebut dievakuasi sepenuhnya.
"Beberapa karyawan dan kontraktor terluka, dan enam orang masih dirawat di rumah sakit dan menerima perawatan medis," imbuhnya. "Kami memberikan mereka dan keluarga mereka semua dukungan yang diperlukan selama masa sulit ini."
Serangan semalam tersebut melibatkan 574 pesawat nirawak dan 40 rudal, dan menghantam berbagai lokasi di Ukraina.
Gedung Putih juga tidak segera menanggapi pertanyaan mengenai reaksi Presiden Trump atas serangan Rusia yang menargetkan sebuah perusahaan AS, meskipun pada hari Selasa dia mengatakan, "Ada kemungkinan [Putin] tidak ingin membuat kesepakatan."
"Kita akan mengetahui kabar terbaru tentang Presiden Putin dalam beberapa minggu ke depan," imbuh Trump.
Para pemimpin NATO telah berulang kali mempertanyakan kesediaan Putin untuk terlibat dalam negosiasi dengan itikad baik serta keinginannya untuk mengakhiri ambisi perangnya, bahkan setelah pertemuan langsung Trump dengan kepala Kremlin di Alaska pada hari Jumat pekan lalu.
Prancis—yang telah menjadi pemain utama yang mendukung Ukraina—pada hari Kamis menegaskan kembali hal itu, dan dalam sebuah pernyataan kepada Fox News Digital, mengatakan meskipun Rusia mengeklaim bahwa mereka siap untuk bernegosiasi, serangan terbaru ke Ukraina menunjukkan sebaliknya.
"Serangan-serangan ini, yang paling masif dalam satu bulan, menggambarkan kurangnya niat tulus Rusia untuk terlibat secara serius dalam perundingan damai," ujar seorang juru bicara Kementerian Eropa dan Luar Negeri Prancis kepada Fox News Digital.
"Prancis menegaskan kembali dukungannya terhadap inisiatif Presiden Trump demi perdamaian yang adil dan abadi dan akan terus bekerja dengan penuh tekad bersama Ukraina dan mitra-mitranya," imbuh dia.
Para pejabat Kyiv mengatakan serangan tersebut menewaskan satu orang dan melukai puluhan orang lainnya. Perusahaan AS yang hancur berada di lokasi yang bejarak 48 kilometer dari dua negara NATO; Hongaria dan Slovakia.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan serangan terhadap perusahaan swasta AS tersebut, yang melibatkan beberapa rudal jelajah, sangat jelas meskipun ada upaya Presiden AS Donald Trump untuk memaksa Moskow mengakhiri invasinya.
Baca Juga: Eropa Desak Trump Kerahkan Jet Tempur Siluman F-35 AS untuk Lindungi Ukraina dari Invasi Rusia
"Tadi malam [Kamis dini hari], tentara Rusia mencetak salah satu rekor terburuknya yang gila," kata Zelensky, seperti dikutip Fox News, Jumat (22/8/2025). "Mereka menargetkan fasilitas infrastruktur sipil, bangunan tempat tinggal, dan rakyat kami," ujarnya.
"Beberapa rudal jelajah ditembakkan ke sebuah perusahaan milik Amerika di Zakarpattia," lanjut dia, menggambarkan perusahaan tersebut sebagai bisnis sipil biasa, yang didukung oleh investasi Amerika, yang memproduksi barang-barang sehari-hari seperti mesin kopi.
"Namun, perusahaan itu juga menjadi target Rusia. Ini sangat jelas," imbuh Zelensky.
Perusahaan Amerika tersebut dikenal sebagai Flex Ltd, yang berkantor pusat di Austin, Texas, tetapi memiliki lokasi bisnis di seluruh dunia. Mereka mengonfirmasi kepada Fox News Digital bahwa fasilitas tersebut hanya memproduksi barang-barang konsumsi sipil.
"Fasilitas ini tidak memproduksi, memasok, atau mendukung peralatan militer atau komponen terkait pertahanan apa pun," kata juru bicara perusahaan.
Setelah serangan tersebut, juru bicara itu mengatakan bahwa "protokol darurat telah dijalankan" dan lokasi tersebut dievakuasi sepenuhnya.
"Beberapa karyawan dan kontraktor terluka, dan enam orang masih dirawat di rumah sakit dan menerima perawatan medis," imbuhnya. "Kami memberikan mereka dan keluarga mereka semua dukungan yang diperlukan selama masa sulit ini."
Serangan semalam tersebut melibatkan 574 pesawat nirawak dan 40 rudal, dan menghantam berbagai lokasi di Ukraina.
Gedung Putih juga tidak segera menanggapi pertanyaan mengenai reaksi Presiden Trump atas serangan Rusia yang menargetkan sebuah perusahaan AS, meskipun pada hari Selasa dia mengatakan, "Ada kemungkinan [Putin] tidak ingin membuat kesepakatan."
"Kita akan mengetahui kabar terbaru tentang Presiden Putin dalam beberapa minggu ke depan," imbuh Trump.
Para pemimpin NATO telah berulang kali mempertanyakan kesediaan Putin untuk terlibat dalam negosiasi dengan itikad baik serta keinginannya untuk mengakhiri ambisi perangnya, bahkan setelah pertemuan langsung Trump dengan kepala Kremlin di Alaska pada hari Jumat pekan lalu.
Prancis—yang telah menjadi pemain utama yang mendukung Ukraina—pada hari Kamis menegaskan kembali hal itu, dan dalam sebuah pernyataan kepada Fox News Digital, mengatakan meskipun Rusia mengeklaim bahwa mereka siap untuk bernegosiasi, serangan terbaru ke Ukraina menunjukkan sebaliknya.
"Serangan-serangan ini, yang paling masif dalam satu bulan, menggambarkan kurangnya niat tulus Rusia untuk terlibat secara serius dalam perundingan damai," ujar seorang juru bicara Kementerian Eropa dan Luar Negeri Prancis kepada Fox News Digital.
"Prancis menegaskan kembali dukungannya terhadap inisiatif Presiden Trump demi perdamaian yang adil dan abadi dan akan terus bekerja dengan penuh tekad bersama Ukraina dan mitra-mitranya," imbuh dia.
(mas)
Lihat Juga :