Ulama Iran Tawarkan Hadiah Rp184,9 Miliar bagi Siapa Pun yang Membawa Kepala Trump
Jum'at, 11 Juli 2025 - 10:24 WIB
loading...
A
A
A
Terjemahan dari situs web thaar.ri menyatakan bahwa para ulama tersebut berkampanye melawan "terorisme negara AS" dan bahwa dana yang terkumpul akan diterima oleh mereka yang melaksanakannya.
Pakar Iran, Hamidreza Azizi, mengatakan kepada Newsweek pada hari Kamis (10/7/2025) bahwa fatwa tersebut harus dilihat melalui kacamata politik dalam negeri Iran dan persaingan antarfaksi.
Hal ini karena para ulama yang telah mengeluarkan atau mendukung ancaman tersebut berasal dari kubu garis keras yang secara inheren menentang segala bentuk hubungan diplomatik dengan AS atau Barat.
"Meskipun mereka tidak mengungkapkannya secara terbuka, bagi mereka bahkan Khamenei dianggap sebagai orang yang lemah," kata Azizi, seorang peneliti di lembaga kajian Jerman SWP Berlin.
"Mereka tidak seloyal banyak pendukung rezim lainnya terhadap keputusan dan arahan Khamenei," paparnya.
"Mereka memiliki agenda politik dalam menentang perundingan [nuklir Iran]. Selama bertahun-tahun mereka menjadi begitu kuat, dan Khamenei—untuk mengekang kaum moderat dan reformis—memberi mereka kebebasan sedemikian rupa sehingga sekarang mereka sangat sulit dikendalikan," lanjut Azizi.
Menurutnya, dengan transisi pasca-Khamenei yang semakin dekat, kubu garis keras di dalam Republik Islam tersebut mencoba menyebarkan narasinya, memperkuat barisannya, dan membedakan antara agendanya dan agenda lainnya.
Pakar Iran, Hamidreza Azizi, mengatakan kepada Newsweek pada hari Kamis (10/7/2025) bahwa fatwa tersebut harus dilihat melalui kacamata politik dalam negeri Iran dan persaingan antarfaksi.
Hal ini karena para ulama yang telah mengeluarkan atau mendukung ancaman tersebut berasal dari kubu garis keras yang secara inheren menentang segala bentuk hubungan diplomatik dengan AS atau Barat.
"Meskipun mereka tidak mengungkapkannya secara terbuka, bagi mereka bahkan Khamenei dianggap sebagai orang yang lemah," kata Azizi, seorang peneliti di lembaga kajian Jerman SWP Berlin.
"Mereka tidak seloyal banyak pendukung rezim lainnya terhadap keputusan dan arahan Khamenei," paparnya.
"Mereka memiliki agenda politik dalam menentang perundingan [nuklir Iran]. Selama bertahun-tahun mereka menjadi begitu kuat, dan Khamenei—untuk mengekang kaum moderat dan reformis—memberi mereka kebebasan sedemikian rupa sehingga sekarang mereka sangat sulit dikendalikan," lanjut Azizi.
Menurutnya, dengan transisi pasca-Khamenei yang semakin dekat, kubu garis keras di dalam Republik Islam tersebut mencoba menyebarkan narasinya, memperkuat barisannya, dan membedakan antara agendanya dan agenda lainnya.
Lihat Juga :