Ini Respons Gedung Putih soal Rekaman Audio Trump Ancam Mengebom Habis Moskow dan Beijing
Kamis, 10 Juli 2025 - 11:16 WIB
loading...
Presiden AS Donald Trump, dalam rekaman audio yang bocor, pernah mengancam akan mengebom habis-habisan Ibu Kota Rusia, Moskow, dan Ibu Kota China, Beijing. Foto/Screenshot video USA Today
A
A
A
WASHINGTON - Sebuah rekaman audio yang bocor mengungkap Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pernah mengancam akan mengebom habis-habisan Ibu Kota Rusia, Moskow, dan juga Ibu Kota China, Beijing. Gedung Putih telah merespons bocoran rekaman suara Trump tersebut.
"Seperti yang telah berulang kali dikatakan Presiden Trump, Rusia tidak pernah berani menyerang Ukraina ketika dia menjabat. Itu hanya terjadi ketika [Presiden Joe] Biden menjabat," kata juru bicara Gedung Putih Anna Kelly dalam sebuah pernyataan, tanpa membenarkan atau menyangkal keaslian rekaman audio tersebut, sebagaimana dikutip dari Newsweek, Kamis (10/7/2025).
Sedangkan juru bicara Kremlin Dmitry Peskov meragukan keaslian rekaman audio Donald Trump. "Saya tidak dapat mengonfirmasi atau menyangkal ini, meskipun saya ingin...Apakah itu palsu atau tidak, kami juga tidak tahu. Ada banyak berita palsu akhir-akhir ini," kata Peskov.
Baca Juga: Trump Ancam Mengebom Habis-habisan Moskow, Ini Respons Kremlin
Dalam rekaman audio yang dikutip CNN, Trump terdengar mengatakan kepada para donatur kampanye untuk pemilihannya kembali sebagai presiden AS tahun lalu bahwa dia telah berbicara kepada Presiden Rusia Vladimir Putin perihal ancamannya jika Moskow nekat menginvasi Ukraina.
Ancaman itu, menurut rekaman audio Trump, dilontarkan ketika Trump berkuasa pada masa jabatan pertamanya sebagai presiden Amerika atau sebelum Rusia menginvasi Ukraina pada Februari 2022.
"Dengan Putin saya berkata: 'Jika Anda pergi ke Ukraina, saya akan mengebom habis-habisan Moskow. Saya katakan kepada Anda bahwa saya tidak punya pilihan'," kata Trump kepada sekelompok donatur sebelum pemilihan presiden tahun lalu.
"Lalu [Putin] berkata, seperti, 'Saya tidak percaya Anda'. Tapi dia 100 persen percaya pada saya," lanjut Trump, menurut rekaman audio tersebut.
Presiden AS itu kemudian mengeklaim bahwa dia mengeluarkan ancaman serupa kepada Presiden China Xi Jinping terkait potensi invasi China terhadap Taiwan, dengan mengatakan bahwa dia akan mengebom Beijing sebagai balasannya.
"Dia pikir saya gila," kata Trump tentang Xi Jinping, sebelum menambahkan, "kami tidak pernah punya masalah."
Komentar tersebut menggemakan klaim yang telah berulang kali dilontarkan Trump di depan umum, termasuk bahwa dia mencegah perang dimulai selama masa jabatan pertamanya dan akan melakukannya seandainya dia memenangkan pemilu 2020.
"Jika saya presiden, perang ini tidak akan pernah terjadi," klaimnya beberapa kali, termasuk pada KTT G7 di Kanada bulan lalu.
Pada bulan Oktober tahun lalu, dia mengatakan telah memperingatkan Putin untuk tidak menginvasi Ukraina.
Berbicara kepada Wall Street Journal, dia mengklaim telah berkata: "'Saya akan menyerang Anda tepat di tengah-tengah Moskow sialan ini'. Saya berkata, 'Kita berteman. Saya tidak ingin melakukannya, tetapi saya tidak punya pilihan'. Dia menjawab, 'Tidak mungkin'. Saya berkata, 'Tentu'."
Namun, Trump semakin frustrasi karena upayanya untuk mengakhiri perang di Ukraina dan Gaza tampaknya terhenti.
Presiden AS juga melontarkan omelan pedas lainnya terhadap Putin pada hari Selasa, menuduh pemimpin Rusia itu "melempar omong kosong" kepadanya dalam diskusi mereka tentang perang di Ukraina.
Dia mengatakan kata-kata Putin "tidak berarti" saat dia meningkatkan retorikanya terhadap pemimpin Rusia tersebut menyusul serangkaian serangan besar-besaran di kota-kota Ukraina.
"Saya tidak senang dengan Putin, saya bisa memberi tahu Anda sebanyak itu sekarang, karena dia membunuh banyak orang," kata Trump dalam rapat kabinet pada hari Selasa.
"Kami menerima banyak omong kosong yang dilontarkan Putin kepada kami. Kami ingin tahu yang sebenarnya. Dia selalu sangat baik, tetapi ternyata tidak berarti," paparnya.
Trump juga menyatakan bahwa dia terbuka untuk menjatuhkan sanksi baru terhadap Moskow setelah Senat mengajukan rancangan undang-undang yang mengusulkan sanksi tambahan. Ketika ditanya tentang rancangan undang-undang tersebut, dia berkata: "Saya sedang mempertimbangkannya dengan sangat serius."
"Seperti yang telah berulang kali dikatakan Presiden Trump, Rusia tidak pernah berani menyerang Ukraina ketika dia menjabat. Itu hanya terjadi ketika [Presiden Joe] Biden menjabat," kata juru bicara Gedung Putih Anna Kelly dalam sebuah pernyataan, tanpa membenarkan atau menyangkal keaslian rekaman audio tersebut, sebagaimana dikutip dari Newsweek, Kamis (10/7/2025).
Sedangkan juru bicara Kremlin Dmitry Peskov meragukan keaslian rekaman audio Donald Trump. "Saya tidak dapat mengonfirmasi atau menyangkal ini, meskipun saya ingin...Apakah itu palsu atau tidak, kami juga tidak tahu. Ada banyak berita palsu akhir-akhir ini," kata Peskov.
Baca Juga: Trump Ancam Mengebom Habis-habisan Moskow, Ini Respons Kremlin
Dalam rekaman audio yang dikutip CNN, Trump terdengar mengatakan kepada para donatur kampanye untuk pemilihannya kembali sebagai presiden AS tahun lalu bahwa dia telah berbicara kepada Presiden Rusia Vladimir Putin perihal ancamannya jika Moskow nekat menginvasi Ukraina.
Ancaman itu, menurut rekaman audio Trump, dilontarkan ketika Trump berkuasa pada masa jabatan pertamanya sebagai presiden Amerika atau sebelum Rusia menginvasi Ukraina pada Februari 2022.
"Dengan Putin saya berkata: 'Jika Anda pergi ke Ukraina, saya akan mengebom habis-habisan Moskow. Saya katakan kepada Anda bahwa saya tidak punya pilihan'," kata Trump kepada sekelompok donatur sebelum pemilihan presiden tahun lalu.
"Lalu [Putin] berkata, seperti, 'Saya tidak percaya Anda'. Tapi dia 100 persen percaya pada saya," lanjut Trump, menurut rekaman audio tersebut.
Presiden AS itu kemudian mengeklaim bahwa dia mengeluarkan ancaman serupa kepada Presiden China Xi Jinping terkait potensi invasi China terhadap Taiwan, dengan mengatakan bahwa dia akan mengebom Beijing sebagai balasannya.
"Dia pikir saya gila," kata Trump tentang Xi Jinping, sebelum menambahkan, "kami tidak pernah punya masalah."
Komentar tersebut menggemakan klaim yang telah berulang kali dilontarkan Trump di depan umum, termasuk bahwa dia mencegah perang dimulai selama masa jabatan pertamanya dan akan melakukannya seandainya dia memenangkan pemilu 2020.
"Jika saya presiden, perang ini tidak akan pernah terjadi," klaimnya beberapa kali, termasuk pada KTT G7 di Kanada bulan lalu.
Pada bulan Oktober tahun lalu, dia mengatakan telah memperingatkan Putin untuk tidak menginvasi Ukraina.
Berbicara kepada Wall Street Journal, dia mengklaim telah berkata: "'Saya akan menyerang Anda tepat di tengah-tengah Moskow sialan ini'. Saya berkata, 'Kita berteman. Saya tidak ingin melakukannya, tetapi saya tidak punya pilihan'. Dia menjawab, 'Tidak mungkin'. Saya berkata, 'Tentu'."
Namun, Trump semakin frustrasi karena upayanya untuk mengakhiri perang di Ukraina dan Gaza tampaknya terhenti.
Presiden AS juga melontarkan omelan pedas lainnya terhadap Putin pada hari Selasa, menuduh pemimpin Rusia itu "melempar omong kosong" kepadanya dalam diskusi mereka tentang perang di Ukraina.
Dia mengatakan kata-kata Putin "tidak berarti" saat dia meningkatkan retorikanya terhadap pemimpin Rusia tersebut menyusul serangkaian serangan besar-besaran di kota-kota Ukraina.
"Saya tidak senang dengan Putin, saya bisa memberi tahu Anda sebanyak itu sekarang, karena dia membunuh banyak orang," kata Trump dalam rapat kabinet pada hari Selasa.
"Kami menerima banyak omong kosong yang dilontarkan Putin kepada kami. Kami ingin tahu yang sebenarnya. Dia selalu sangat baik, tetapi ternyata tidak berarti," paparnya.
Trump juga menyatakan bahwa dia terbuka untuk menjatuhkan sanksi baru terhadap Moskow setelah Senat mengajukan rancangan undang-undang yang mengusulkan sanksi tambahan. Ketika ditanya tentang rancangan undang-undang tersebut, dia berkata: "Saya sedang mempertimbangkannya dengan sangat serius."
(mas)
Lihat Juga :