Pentagon: Dibom AS, Program Nuklir Iran Mundur 1 hingga 2 Tahun
Kamis, 03 Juli 2025 - 08:31 WIB
loading...
Pentagon umumkan program nuklir Iran mengalami kemunduran satu hingga dua tahun akibat pengeboman AS. Foto/Maxar Technologies
A
A
A
WASHINGTON - Pentagon mengatakan pengeboman Amerika Serikat terhadap tiga situs nuklir Iran telah menyebabkan program nuklir Teheran mengalami kemunduran sekitar satu hingga dua tahun. Pengumuman tersebut berdasarkan penilaian intelijen terbaru Amerika.
"Kami yakin, dan tentu saja semua intelijen yang telah kami lihat telah membuat kami yakin, bahwa fasilitas Iran...telah hancur total," kata kepala juru bicara Pentagon Sean Parnell, sebagaimana dikutip dari The Guardian, Kamis (3/7/2025).
Ketika ditanya tentang penilaian kerusakan akibat serangan tersebut, Parnell menjawab: "Saya kira kami berpikir mungkin mendekati dua tahun, menurunkan program mereka dua tahun."
Baca Juga: Iran Akui Kerusakan Serius Terjadi di Situs Nuklirnya akibat Serangan AS dan Israel
Serangan udara Amerika berlangsung pada 21 Juni malam atau 22 Juni dini hari, ketika tujuh pesawat pengebom siluman B-2 Spirit Angkatan Udara AS diisi ulang bahan bakarnya beberapa kali di udara saat mereka terbang dari pangkalan mereka di Missouri menuju target di Iran.
Misi tersebut menargetkan tiga fasilitas nuklir Iran: Fordow, Natanz, dan Isfahan.
Sebanyak 14 GBU-57 Massive Ordnance Penetrators (MOP)—bom penghancur bunker seberat 30.000 pon—dijatuhkan di situs nuklir Fordow dan Natanz. Selain itu, kapal selam berpeluru kendali AS meluncurkan lebih dari dua lusin rudal jelajah serang darat Tomahawk ke situs nuklir Isfahan.
Menyusul pengeboman AS yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap infrastruktur nuklir Iran, laporan yang saling bertentangan muncul mengenai tingkat kerusakan.
Penilaian awal yang bocor ke media dari Badan Intelijen Pertahanan (DIA) Pentagon menunjukkan bahwa Iran mungkin masih mempertahankan sebagian besar kemampuan nuklirnya.
DIA mengonfirmasi kepada Al Arabiya English bahwa mereka telah meluncurkan penyelidikan atas kebocoran penilaian rahasia tersebut, yang menggambarkannya sebagai "penilaian awal" dan "tidak meyakinkan".
Pejabat dari pemerintahan Presiden Donald Trump telah menolak temuan intelijen yang bocor tersebut, dengan bersikeras bahwa lokasi tersebut "hancur lebur."
Iran juga telah mengakui bahwa fasilitas nuklirnya mengalami "kerusakan parah" akibat serangan AS.
Pengeboman AS yang dijuluki "Operasi Midnight Hammer" itu melibatkan lebih dari 125 pesawat, kapal selam berpeluru kendali, puluhan tanker pengisian bahan bakar udara, dan aset lainnya, menjadikannya serangan operasional B-2 terbesar dalam sejarah AS, kata Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine.
Itu juga merupakan misi B-2 terpanjang kedua yang pernah diterbangkan.
Serangan itu terjadi setelah Iran dan Israel terlibat pertempuran udara sejak 13 Juni. Teheran telah membalas serangan AS dengan meluncurkan serangan rudal ke Pangkalan Udara Al Udeid Qatar yang dioperasikan militer Amerika.
"Kami yakin, dan tentu saja semua intelijen yang telah kami lihat telah membuat kami yakin, bahwa fasilitas Iran...telah hancur total," kata kepala juru bicara Pentagon Sean Parnell, sebagaimana dikutip dari The Guardian, Kamis (3/7/2025).
Ketika ditanya tentang penilaian kerusakan akibat serangan tersebut, Parnell menjawab: "Saya kira kami berpikir mungkin mendekati dua tahun, menurunkan program mereka dua tahun."
Baca Juga: Iran Akui Kerusakan Serius Terjadi di Situs Nuklirnya akibat Serangan AS dan Israel
Serangan udara Amerika berlangsung pada 21 Juni malam atau 22 Juni dini hari, ketika tujuh pesawat pengebom siluman B-2 Spirit Angkatan Udara AS diisi ulang bahan bakarnya beberapa kali di udara saat mereka terbang dari pangkalan mereka di Missouri menuju target di Iran.
Misi tersebut menargetkan tiga fasilitas nuklir Iran: Fordow, Natanz, dan Isfahan.
Sebanyak 14 GBU-57 Massive Ordnance Penetrators (MOP)—bom penghancur bunker seberat 30.000 pon—dijatuhkan di situs nuklir Fordow dan Natanz. Selain itu, kapal selam berpeluru kendali AS meluncurkan lebih dari dua lusin rudal jelajah serang darat Tomahawk ke situs nuklir Isfahan.
Menyusul pengeboman AS yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap infrastruktur nuklir Iran, laporan yang saling bertentangan muncul mengenai tingkat kerusakan.
Penilaian awal yang bocor ke media dari Badan Intelijen Pertahanan (DIA) Pentagon menunjukkan bahwa Iran mungkin masih mempertahankan sebagian besar kemampuan nuklirnya.
DIA mengonfirmasi kepada Al Arabiya English bahwa mereka telah meluncurkan penyelidikan atas kebocoran penilaian rahasia tersebut, yang menggambarkannya sebagai "penilaian awal" dan "tidak meyakinkan".
Pejabat dari pemerintahan Presiden Donald Trump telah menolak temuan intelijen yang bocor tersebut, dengan bersikeras bahwa lokasi tersebut "hancur lebur."
Iran juga telah mengakui bahwa fasilitas nuklirnya mengalami "kerusakan parah" akibat serangan AS.
Pengeboman AS yang dijuluki "Operasi Midnight Hammer" itu melibatkan lebih dari 125 pesawat, kapal selam berpeluru kendali, puluhan tanker pengisian bahan bakar udara, dan aset lainnya, menjadikannya serangan operasional B-2 terbesar dalam sejarah AS, kata Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine.
Itu juga merupakan misi B-2 terpanjang kedua yang pernah diterbangkan.
Serangan itu terjadi setelah Iran dan Israel terlibat pertempuran udara sejak 13 Juni. Teheran telah membalas serangan AS dengan meluncurkan serangan rudal ke Pangkalan Udara Al Udeid Qatar yang dioperasikan militer Amerika.
(mas)
Lihat Juga :