Digempur Rudal Iran, Ribuan Warga Israel Kabur ke Mesir Picu Kemarahan Publik
Senin, 23 Juni 2025 - 15:45 WIB
loading...
A
A
A
Israel menghentikan masuknya semua bantuan kemanusiaan ke Gaza pada Maret tahun lalu, yang menyebabkan ratusan ribu orang mengalami kekurangan gizi.
Bantuan sekarang hanya didistribusikan di titik-titik yang dikelola oleh Yayasan Kemanusiaan Gaza yang didukung AS dan Israel. Ratusan warga Palestina telah dibunuh oleh militer Israel saat berusaha keras untuk mendapatkan bantuan di sana.
Mohamed Saif Al-Dawla, pendiri Egyptians Against Zionism, membandingkan perilaku otoritas Mesir dengan situasi yang terjadi pada masa kolonial.
"Pemfasilitasan masuknya [warga] Israel ke Sinai saat ini mengingatkan kita pada sistem hak istimewa asing yang diberlakukan di Mesir di bawah pendudukan Inggris," katanya kepada Al-Araby Al-Jadeed.
"Apakah warga Mesir menyadari bahwa warga Israel menikmati hak istimewa wisata khusus di wilayah Mesir?" tanya Al-Dawla, merujuk pada perjanjian bilateral tahun 1989 yang mengizinkan wisatawan Israel memasuki Sinai Selatan tanpa visa melalui Taba, tinggal hingga 14 hari tanpa membayar biaya masuk, dan pemeriksaan bea cukai terbatas pada pemeriksaan acak.
"Tidak ada negara lain yang menikmati pengecualian seperti itu," katanya.
"Bahkan setelah Mesir memenangkan sengketa perbatasan Taba pada tahun 1988, kami tidak melihat adanya tinjauan nyata atas pengaturan ini. Ambisi Zionis di Sinai tidak pernah berhenti. [Mantan Perdana Menteri Israel] Menachem Begin mengatakan Israel akan kembali ke Sinai ketika tiga juta orang Yahudi siap untuk menetap di sana," paparnya.
"Dan pada tahun 2008, Avi Dichter mengatakan penarikan Israel bersyarat pada jaminan Amerika Serikat yang mengizinkan pengembalian jika rezim Mesir tidak lagi melayani kepentingan Israel," imbuh dia.
Seif Al-Dawla memperingatkan tentang risiko keamanan yang ditimbulkan oleh masuknya para warga Israel ke Mesir.
Bantuan sekarang hanya didistribusikan di titik-titik yang dikelola oleh Yayasan Kemanusiaan Gaza yang didukung AS dan Israel. Ratusan warga Palestina telah dibunuh oleh militer Israel saat berusaha keras untuk mendapatkan bantuan di sana.
Mohamed Saif Al-Dawla, pendiri Egyptians Against Zionism, membandingkan perilaku otoritas Mesir dengan situasi yang terjadi pada masa kolonial.
"Pemfasilitasan masuknya [warga] Israel ke Sinai saat ini mengingatkan kita pada sistem hak istimewa asing yang diberlakukan di Mesir di bawah pendudukan Inggris," katanya kepada Al-Araby Al-Jadeed.
"Apakah warga Mesir menyadari bahwa warga Israel menikmati hak istimewa wisata khusus di wilayah Mesir?" tanya Al-Dawla, merujuk pada perjanjian bilateral tahun 1989 yang mengizinkan wisatawan Israel memasuki Sinai Selatan tanpa visa melalui Taba, tinggal hingga 14 hari tanpa membayar biaya masuk, dan pemeriksaan bea cukai terbatas pada pemeriksaan acak.
"Tidak ada negara lain yang menikmati pengecualian seperti itu," katanya.
"Bahkan setelah Mesir memenangkan sengketa perbatasan Taba pada tahun 1988, kami tidak melihat adanya tinjauan nyata atas pengaturan ini. Ambisi Zionis di Sinai tidak pernah berhenti. [Mantan Perdana Menteri Israel] Menachem Begin mengatakan Israel akan kembali ke Sinai ketika tiga juta orang Yahudi siap untuk menetap di sana," paparnya.
"Dan pada tahun 2008, Avi Dichter mengatakan penarikan Israel bersyarat pada jaminan Amerika Serikat yang mengizinkan pengembalian jika rezim Mesir tidak lagi melayani kepentingan Israel," imbuh dia.
Seif Al-Dawla memperingatkan tentang risiko keamanan yang ditimbulkan oleh masuknya para warga Israel ke Mesir.
Lihat Juga :