Tetangga Indonesia Ini Dukung AS Serang Iran

Senin, 23 Juni 2025 - 09:17 WIB
loading...
Tetangga Indonesia Ini...
Australia, yang merupakan negara tetangga Indonesia, mendukung serangan Amerika Serikat terhadap tiga situs nuklir Iran. Foto/The War Zone
A A A
SYDNEY - Australia, negara tetangga Indonesia, mendukung serangan Amerika Serikat (AS) terhadap fasilitas nuklir Iran. Canberra menegaskan negara Islam tersebut tidak boleh diizinkan memiliki senjata nuklir.

Dukungan Australia itu disampaikan Menteri Luar Negeri (Menlu) Penny Wong, Senin (23/6/2025). Dia menyerukan Teheran untuk kembali berunding.

Wong menolak menjawab apakah fasilitas komunikasi di Pine Gap digunakan dalam pengeboman tiga lokasi Iran oleh Amerika Serikat. Menurutnya, itu adalah "serangan sepihak" dari pemerintahan Presiden AS Donald Trump, dan Amerika tidak meminta Australia untuk terlibat dalam keterlibatan militer di masa mendatang.

Baca Juga: Ajudan Putin: Beberapa Negara Siap Pasok Senjata Nuklir ke Iran setelah Diserang AS

"Dunia telah lama memahami bahwa kita tidak dapat membiarkan Iran memiliki senjata nuklir. Tindakan ini diambil untuk mencegahnya. Jadi, kami mendukung tindakan untuk mencegah Iran mendapatkan senjata nuklir," kata Wong kepada Channel Nine.

Hampir 24 jam setelah presiden AS Donald Trump mengatakan serangan Amerika telah "benar-benar menghancurkan" fasilitas pengayaan nuklir utama Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan, pemerintah Perdana Menteri (PM) Australia Anthony Albanese pada hari Senin memberikan dukungan pertamanya atas tindakan tersebut.

Menteri Layanan Sosial Tanya Plibersek mengatakan kepada Channel Seven: "Kami mendukung serangan tersebut."

"Kami tentu tidak ingin melihat perang skala penuh di Timur Tengah. Ini adalah masa yang sangat sulit dan peka, dan kami akan mendorong Iran untuk kembali ke meja perundingan," katanya.

Koalisi federal mendukung serangan tersebut dan menuduh Partai Buruh "terlalu ambigu" dalam menanggapi eskalasi besar dalam konflik Timur Tengah. Namun para pakar hukum internasional menggambarkan tanggapan pemerintah federal "cukup lemah", dengan mengatakan serangan Amerika itu ilegal dan bahwa Australia harus membela "garis merah hukum internasional".

PM Albanese mengatakan kepada radio 2GB bahwa dia akan berbicara tentang masalah Iran pada hari Senin, setelah pertemuan komite keamanan nasional kabinet.

Ketika ditanya di acara ABC apakah Australia yakin serangan itu sesuai dengan hukum internasional, Menlu Wong tidak langsung menanggapi, tetapi mengatakan pengeboman AS itu menargetkan program nuklir Iran.

"Dunia telah lama sepakat bahwa Iran tidak mematuhi kewajiban internasionalnya dalam hal material nuklir. Dan dunia telah lama sepakat bahwa Iran tidak akan mendapatkan akses ke senjata nuklir apa pun demi kepentingan perdamaian dan keamanan kolektif," katanya.

Wong menepis anggapan bahwa pemerintah lamban dalam menanggapi. Dia kembali menyerukan "de-eskalasi dan diplomasi" daripada meningkatkan retorika lebih lanjut.

"Dan ini bukan sekadar kata-kata, ini adalah pandangan tentang risiko bagi masyarakat di kawasan itu dan dunia, terhadap ketidakstabilan global jika kita melihat eskalasi dan perang skala penuh. Kami tidak ingin melihat itu," katanya kepada Channel Nine.

Sekadar diketahui, AS telah menyerang tiga situs nuklir Iran pada Minggu dini hari WIB. Pesawat-pesawat pengebom siluman B-2 menjatuhkan sejumlah bom Bunker Buster GBU-57 di area situs nuklir Fordow.

Tak lama setelah serangan AS, Iran menembakkan puluhan rudal ke Israel yang menyebabkan kehancuran beberapa gedung di Tel Aviv dan banyak warga terluka.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Iran Ungkap Proyektil...
Iran Ungkap Proyektil AS Hantam Tongkang Kargo Iran di Lepas Pantai Oman
Iran Serang Pangkalan...
Iran Serang Pangkalan Yordania Markas Jet Tempur Siluman F-35, F-15, dan F-16 AS
India Protes setelah...
India Protes setelah Kapal Minyak Pembawa 24 Warganya Dihantam Rudal AS di Dekat Oman
AS Tolak Masuk Wasit...
AS Tolak Masuk Wasit Piala Dunia Omar Artan, Alasannya Terlibat Organisasi Teroris
Pertama Kalinya, Taiwan...
Pertama Kalinya, Taiwan Tembakkan Puluhan Rudal HIMARS Amerika ke Arah China
Ini Bukti Biadabnya...
Ini Bukti Biadabnya Tentara Israel Tembak Mati Bayi Palestina di Tepi Barat
Seperempat Laga Piala...
Seperempat Laga Piala Dunia 2026 Berisiko Tinggi
Tanggapi Surat Terbuka,...
Tanggapi Surat Terbuka, Putin Tolak Bertemu Empat Mata dengan Zelensky
Menlu Iran kepada AS:...
Menlu Iran kepada AS: Pergi dari Wilayah Kami jika Anda Ingin Selamat!
Rekomendasi
Universitas Brawijaya...
Universitas Brawijaya Buka 5 Prodi Baru, Siapkan Lulusan Siap Kerja
OTT BPK, KPK: Ada Permintaan...
OTT BPK, KPK: Ada Permintaan Fee Rp1,6 Miliar untuk Ubah Hasil Audit di Muara Enim
Cegah Korupsi, Mendagri...
Cegah Korupsi, Mendagri Usul Kepala Daerah Dapat Persenan dari PAD
Berita Terkini
Hamas Kutuk Otoritas...
Hamas Kutuk Otoritas Palestina karena Koordinasi Keamanan dengan Israel
Didanai Maroko, Nikah...
Didanai Maroko, Nikah Massal Digelar untuk 40 Warga Gaza Penyandang Disabilitas dan Cedera
Iran Ungkap Proyektil...
Iran Ungkap Proyektil AS Hantam Tongkang Kargo Iran di Lepas Pantai Oman
Iran Serang Pangkalan...
Iran Serang Pangkalan Yordania Markas Jet Tempur Siluman F-35, F-15, dan F-16 AS
India Protes setelah...
India Protes setelah Kapal Minyak Pembawa 24 Warganya Dihantam Rudal AS di Dekat Oman
AS Tolak Masuk Wasit...
AS Tolak Masuk Wasit Piala Dunia Omar Artan, Alasannya Terlibat Organisasi Teroris
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved