Taliban Setop Pembicaraan Pertukaran Tahanan dengan Pemerintah Afghanistan

Selasa, 07 April 2020 - 18:46 WIB
Taliban Setop Pembicaraan...
Taliban Setop Pembicaraan Pertukaran Tahanan dengan Pemerintah Afghanistan
A A A
KABUL - Kelompok Taliban memutuskan untuk menghentikan pembicaraan mengenai pertukaran tahanan dengan pemerintah Taliban. Pertukaran tahanan adalah langkah utama dalam pembicaraan damai yang ditengahi oleh Amerika Serikat (AS) setelah negara itu menyetujui pakta penarikan pasukan dengan Taliban.

Juru bicara kantor politik Taliban di Qatar, Suhail Shaheen mengatakan di Twitter, tim teknis kelompok militan itu tidak akan berpartisipasi dalam pertemuan yang disebutnya sia-sia dan pembebasan tahanan mereka di tunda karena satu atau alasan lain seperti dikutip dari Reuters, Selasa (7/4/2020).

Pakta perdamaian yang ditandatangani oleh AS dan Taliban pada akhir Februari lalu adalah peluang terbaik untuk mengakhiri perang di Afghanistan yang telah berlangsung selama 18 tahun. Berdasarkan pakta itu, pasukan internasional pimpinan AS akan mundur dengan imbalan jaminan keamanan dari Taliban.

Namun pakta perdamaian itu bergantung pada pembicaraan antara pemerintah Afghanistan yang didukung AS dengan para militan. Pertukaran tahanan dimaksudkan untuk membangun kepercayaan di kedua sisi untuk pembicaraan tersebut.

Seorang juru bicara pemerintah mengatakan pihaknya akan terus bekerja dalam rencana pembebasan tahanan.

"Kami meminta Taliban untuk tidak menyabotase proses dengan membuat alasan sekarang," kata Javid Faisal, juru bicara Dewan Keamanan Nasional di Kabul.

Penangguhan pembicaraan oleh Taliban dapat menyebabkan eskalasi kekerasan, yang pada gilirannya dapat mengancam rencana untuk menarik pasukan AS, tujuan utama dari Presiden Donald Trump.

Tiga anggota tim Taliban tiba di Kabul bulan lalu dari Qatar untuk memulai proses pertukaran tahanan. Pekan lalu, para pejabat Afghanistan mengatakan mereka akan membebaskan 100 tahanan Taliban yang sakit atau berusia di atas 50 tahun.

Sebagai gantinya, Taliban diharapkan membebaskan 20 anggota pasukan keamanan Afghanistan. Pada akhirnya kedua belah pihak bertujuan untuk membebaskan 6.000 tahanan yang mereka tawan.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menyambut kedatangan tim Taliban di Kabul sebagai kabar baik.

Terlepas dari pandemi virus Corona, Pompeo bulan lalu melakukan perjalanan ke Kabul dan Ibu Kota Qatar, Doha, dalam upaya untuk mendorong proses tahanan ke depan.

Para pejabat pemerintah Afghanistan mengatakan Taliban menuntut pembebasan komandan senior yang terlibat dalam beberapa serangan paling ganas dalam beberapa tahun terakhir.
(ian)
Berita Terkait
Gubernur Perempuan Afghanistan...
Gubernur Perempuan Afghanistan Dilaporkan Ditangkap Taliban
Potret Anak-anak Anggota...
Potret Anak-anak Anggota Taliban Tenteng Senjata di Tengah Salju
Tokoh Senior Taliban...
Tokoh Senior Taliban Tiba di Afghanistan dari Tempat Pengasingan
Drama Evakuasi Timnas...
Drama Evakuasi Timnas Bola Wanita Afghanistan Menghindar dari Taliban
Hidup Afghanistan, Kibarkan...
'Hidup Afghanistan', Kibarkan Bendera Nasional Warga Afghanistan Menentang Taliban
Taliban Kuasai Kabul,...
Taliban Kuasai Kabul, Ribuan Warga Afghanistan Serbu Bandara untuk Melarikan Diri
Berita Terkini
Gelombang Panas Sengat...
Gelombang Panas Sengat Eropa, 18 Orang Tewas di Prancis
18 menit yang lalu
Siapa Bagher Ghalibaf?...
Siapa Bagher Ghalibaf? Negosiator Iran dan Tangan Kanan Mojtaba yang Mampu Menundukkan AS
19 menit yang lalu
Wanita Ini Dihujat karena...
Wanita Ini Dihujat karena Sebut Islam Organisasi Teroris, Sekarang Malah Dapat Donasi Rp2,5 Miliar
50 menit yang lalu
Viral, Robot China Ini...
Viral, Robot China Ini Mengemis di Jalan untuk Bayar Listrik
1 jam yang lalu
Trump Ancam Tak Tolong...
Trump Ancam Tak Tolong Negara-negara NATO karena Tolak Bantu AS Melawan Iran
1 jam yang lalu
Keir Starmer, PM yang...
Keir Starmer, PM yang Baik, tapi Kenapa Dibenci?
2 jam yang lalu
Infografis
10 Atlet Dengan Bayaran...
10 Atlet Dengan Bayaran Tertinggi 2026: Messi Dikalahkan Petinju Canelo Alvarez
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved