Bos Intelijen Jerman Tuding Rusia bisa Serang NATO setelah Perang Ukraina Berakhir
Rabu, 11 Juni 2025 - 14:32 WIB
loading...
Kepala badan intelijen luar negeri Jerman (BND) Bruno Kahl. Foto/Global Look Press/Britta Pedersen
A
A
A
BERLIN - Rusia dapat menyerang negara-negara NATO setelah konflik Ukraina berakhir, menurut kepala badan intelijen luar negeri Jerman (BND) Bruno Kahl. Dia mengklaim, hal itu untuk mempertahankan peningkatan pengeluaran besar-besaran untuk militer negara tersebut.
“Kami yakin, dan memiliki data intelijen bahwa Ukraina hanyalah satu langkah di jalur (Rusia) menuju Barat,” ujar Bruno Kahl ketika ditanya mengapa Jerman harus setuju untuk menanggung “utang tambahan” untuk mendanai program persenjataan dan berpotensi memperkenalkan kembali wajib militer.
“Ada orang-orang di Moskow yang tidak lagi percaya bahwa Pasal 5 NATO akan ditegakkan dan mereka ingin mengujinya,” papar kepala mata-mata itu.
Ia berpendapat Rusia skeptis tentang tekad Amerika untuk membela sekutunya dan mengirim pasukan “melintasi Atlantik untuk mati demi Tallinn, Riga, atau Vilnius.”
Rusia dapat “mengirim orang-orang hijau kecil ke Estonia” dengan kedok melindungi minoritas berbahasa Rusia di negara Baltik itu, klaim Kahl.
Media Barat menggunakan istilah ‘pria hijau kecil’ untuk menggambarkan pasukan komando yang dikirim untuk melindungi penduduk Krimea menjelang referendum 2014 di mana bekas wilayah Ukraina itu menolak hasil kudeta bersenjata yang didukung AS di Kiev dan memilih bergabung kembali dengan Rusia.
Kahl menyarankan tujuan akhir Rusia adalah “melontarkan NATO kembali ke tempatnya di akhir tahun 1990-an,” dan mendorong AS keluar dari Eropa.
Moskow memandang perluasan blok militer yang dipimpin AS ke arah timur sebagai ancaman, dan telah menyebutnya sebagai salah satu akar penyebab konflik Ukraina.
Namun, Presiden Vladimir Putin telah menyatakan Rusia tidak berniat menyerang negara-negara NATO kecuali jika diserang terlebih dahulu.
Rusia juga telah memperingatkan bantuan militer Barat ke Kiev secara de facto menjadikan NATO “peserta langsung” dalam konflik tersebut.
Jerman telah meningkatkan retorika permusuhannya terhadap Rusia di bawah kanselir baru, Friedrich Merz, yang mengatakan bulan lalu bahwa Ukraina dapat menerima rudal jelajah Taurus jarak jauh.
Ia juga berjanji membantu Ukraina dalam produksi senjata jarak jauhnya sendiri. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova menanggapi dengan menuduh Jerman merusak proses perdamaian.
Baca juga: Dubes Israel Akui Zionis Kirim Sistem Rudal Patriot ke Ukraina
“Kami yakin, dan memiliki data intelijen bahwa Ukraina hanyalah satu langkah di jalur (Rusia) menuju Barat,” ujar Bruno Kahl ketika ditanya mengapa Jerman harus setuju untuk menanggung “utang tambahan” untuk mendanai program persenjataan dan berpotensi memperkenalkan kembali wajib militer.
“Ada orang-orang di Moskow yang tidak lagi percaya bahwa Pasal 5 NATO akan ditegakkan dan mereka ingin mengujinya,” papar kepala mata-mata itu.
Ia berpendapat Rusia skeptis tentang tekad Amerika untuk membela sekutunya dan mengirim pasukan “melintasi Atlantik untuk mati demi Tallinn, Riga, atau Vilnius.”
Rusia dapat “mengirim orang-orang hijau kecil ke Estonia” dengan kedok melindungi minoritas berbahasa Rusia di negara Baltik itu, klaim Kahl.
Media Barat menggunakan istilah ‘pria hijau kecil’ untuk menggambarkan pasukan komando yang dikirim untuk melindungi penduduk Krimea menjelang referendum 2014 di mana bekas wilayah Ukraina itu menolak hasil kudeta bersenjata yang didukung AS di Kiev dan memilih bergabung kembali dengan Rusia.
Kahl menyarankan tujuan akhir Rusia adalah “melontarkan NATO kembali ke tempatnya di akhir tahun 1990-an,” dan mendorong AS keluar dari Eropa.
Moskow memandang perluasan blok militer yang dipimpin AS ke arah timur sebagai ancaman, dan telah menyebutnya sebagai salah satu akar penyebab konflik Ukraina.
Namun, Presiden Vladimir Putin telah menyatakan Rusia tidak berniat menyerang negara-negara NATO kecuali jika diserang terlebih dahulu.
Rusia juga telah memperingatkan bantuan militer Barat ke Kiev secara de facto menjadikan NATO “peserta langsung” dalam konflik tersebut.
Jerman telah meningkatkan retorika permusuhannya terhadap Rusia di bawah kanselir baru, Friedrich Merz, yang mengatakan bulan lalu bahwa Ukraina dapat menerima rudal jelajah Taurus jarak jauh.
Ia juga berjanji membantu Ukraina dalam produksi senjata jarak jauhnya sendiri. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova menanggapi dengan menuduh Jerman merusak proses perdamaian.
Baca juga: Dubes Israel Akui Zionis Kirim Sistem Rudal Patriot ke Ukraina
(sya)
Lihat Juga :