Kurban Dilarang, Bagaimana Umat Islam Maroko Merayakan Iduladha?
Jum'at, 06 Juni 2025 - 09:38 WIB
loading...
A
A
A
Dengan penjualan domba yang kini ilegal pada minggu-minggu menjelang Iduladha, pemerintah setempat telah menutup pasar ternak mingguan dan kios-kios dadakan di seluruh negeri.
Di Rabat, Kementerian Dalam Negeri telah menangguhkan semua perdagangan ternak musiman dan melarang penjualan perlengkapan terkait, yang berdampak buruk bagi para perajin dan pekerja informal yang bergantung pada ekonomi Iduladha.
"Kami sudah berjuang dengan tingginya biaya pakan ternak, yang telah kami investasikan secara besar-besaran," imbuh Mourad.
"Hal ini telah membebani modal kami. Saya perkirakan kerugian kami sekitar 50 persen. Belum lagi kerja keras selama delapan hingga dua belas bulan untuk memelihara dan menyiapkan ternak untuk Iduladha. Kami mendesak Kementerian Pertanian untuk memberikan dukungan finansial dan moral," paparnya.
Bulan lalu, pemerintah meluncurkan rencana bantuan senilai 6,2 miliar dirham, termasuk subsidi untuk pakan ternak dan keringanan utang sebagian untuk para penggembala.
Mourad, seorang penggembala kecil, berharap bantuan tersebut didistribusikan secara adil, dengan mengatakan bahwa pemilik ternak besar biasanya menjadi penerima manfaat utama.
Ini menandai pertama kalinya dalam tiga puluh tahun umat Islam Maroko tidak merayakan Iduladha secara tradisional, dalam artian tidak melakukan kurban.
Namun bagi banyak orang, perayaan harus terus berlanjut. Rumah tangga beralih ke daging, unggas, dan makanan laut supermarket untuk menyiapkan daging panggang Iduladha mereka.
Lonjakan permintaan unggas—alternatif yang lebih terjangkau—telah menaikkan harga hingga lima dirham per kilo pada hari-hari menjelang perayaan.
Untuk menstabilkan pasokan dan harga, Maroko telah meningkatkan impor daging. Namun, daging impor tetap mahal, dan panggangan Iduladha tradisional kini harganya lebih dari USD700.
Sebuah survei oleh surat kabar lokal L'Économiste menemukan bahwa sebagian besar warga Maroko menghindari daging impor karena rasanya yang tidak biasa dan kekhawatiran agama atas sertifikasi halal.
Di Rabat, Kementerian Dalam Negeri telah menangguhkan semua perdagangan ternak musiman dan melarang penjualan perlengkapan terkait, yang berdampak buruk bagi para perajin dan pekerja informal yang bergantung pada ekonomi Iduladha.
"Kami sudah berjuang dengan tingginya biaya pakan ternak, yang telah kami investasikan secara besar-besaran," imbuh Mourad.
"Hal ini telah membebani modal kami. Saya perkirakan kerugian kami sekitar 50 persen. Belum lagi kerja keras selama delapan hingga dua belas bulan untuk memelihara dan menyiapkan ternak untuk Iduladha. Kami mendesak Kementerian Pertanian untuk memberikan dukungan finansial dan moral," paparnya.
Bulan lalu, pemerintah meluncurkan rencana bantuan senilai 6,2 miliar dirham, termasuk subsidi untuk pakan ternak dan keringanan utang sebagian untuk para penggembala.
Mourad, seorang penggembala kecil, berharap bantuan tersebut didistribusikan secara adil, dengan mengatakan bahwa pemilik ternak besar biasanya menjadi penerima manfaat utama.
Bagaimana Umat Islam Maroko Rayakan Iduladha?
Ini menandai pertama kalinya dalam tiga puluh tahun umat Islam Maroko tidak merayakan Iduladha secara tradisional, dalam artian tidak melakukan kurban.
Namun bagi banyak orang, perayaan harus terus berlanjut. Rumah tangga beralih ke daging, unggas, dan makanan laut supermarket untuk menyiapkan daging panggang Iduladha mereka.
Lonjakan permintaan unggas—alternatif yang lebih terjangkau—telah menaikkan harga hingga lima dirham per kilo pada hari-hari menjelang perayaan.
Untuk menstabilkan pasokan dan harga, Maroko telah meningkatkan impor daging. Namun, daging impor tetap mahal, dan panggangan Iduladha tradisional kini harganya lebih dari USD700.
Sebuah survei oleh surat kabar lokal L'Économiste menemukan bahwa sebagian besar warga Maroko menghindari daging impor karena rasanya yang tidak biasa dan kekhawatiran agama atas sertifikasi halal.
Lihat Juga :