Ukraina Sukses Permalukan Rusia setelah Gempur 41 Pesawat Moskow, Termasuk Bomber Nuklir
Senin, 02 Juni 2025 - 10:19 WIB
loading...
A
A
A
“Ukraina telah melakukan lebih dari sekadar mempermalukan Rusia: pada kenyataannya, sulit untuk melebih-lebihkan kerusakan yang telah dilakukannya terhadap Rusia, arsitektur militernya, dan seluruh kemampuan pertahanan dan serangannya,” katanya.
“Pesawat pengebom Tu-95 dan Tu-22M3 adalah platform utama untuk meluncurkan rudal jelajah yang digunakan dalam misi konvensional dan nuklir," terangnya.
“Mereka merupakan bagian dari trad nuklir yang mendasar bagi negara adikuasa—yaitu mampu menyebarkan senjata nuklir di darat, di udara, dan di laut," imbuh dia.
Serangan tersebut, kata Frankopan, secara taktis brilian, signifikan secara militer untuk perang di Ukraina, tetapi juga memiliki konsekuensi bagi kemampuan Rusia yang lebih luas.
“Dan tentu saja, mereka juga mengirimkan pesan, yaitu peringatan kepada Moskow bahwa ilusi jarak tidak lagi menjadi jaminan keselamatan," katanya.
Untuk mempersiapkan Operasi Jaring Laba-laba, Ukraina menyelundupkan ratusan pesawat nirawak yang mematikan melintasi perbatasan Rusia. Drone-drone tersebut, yang disembunyikan di kompartemen khusus di dalam truk pengangkut barang, kemudian dibawa ke beberapa lokasi yang terpisah ribuan kilometer satu sama lain. Drone-drone tersebut menembus hingga Siberia, sekitar 5.000 km dari Ibu Kota Ukraina, Kyiv.
Sasaran lainnya berada di Murmansk di Lingkaran Arktik, Ryazan di tenggara Moskow, dan Ivanovo di timur laut ibu kota Rusia.
Truk-truk tersebut melepaskan drone pada saat yang bersamaan, meluncurkannya ke pangkalan udara Rusia, tempat drone-drone tersebut menimbulkan kekacauan.
Tak lama kemudian, Dinas Keamanan Ukraina membanggakan bahwa Angkatan Udara Putin "terbakar secara massal".
Menurut militer Ukraina, 41 pesawat rusak atau pun hancur, termasuk pesawat pengebom Tu-95, yang membawa hingga delapan rudal Kh-101 dengan hulu ledak 400 kg dan jangkauan lebih dari 4.000 km. Ukraina merilis video pesawat-pesawat yang dihancurkan di landasan pacu.
“Hasil yang benar-benar brilian. Hasil yang dicapai hanya oleh Ukraina,” kata Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky setelah briefing dengan Jenderal Vasyl Maliuk, kepala Dinas Keamanan Ukraina.
“Satu tahun, enam bulan, dan sembilan hari dari awal perencanaan hingga pelaksanaan yang efektif. Operasi jarak jauh kami," paparnya.
“Tentu saja, tidak semuanya dapat diungkapkan saat ini, tetapi ini adalah tindakan Ukraina yang tidak diragukan lagi akan tercatat dalam buku sejarah. Ukraina membela diri, dan memang seharusnya begitu. Kami melakukan segalanya untuk membuat Rusia merasa perlu mengakhiri perang ini," lanjut Zelensky.
“Rusia memulai perang ini. Rusia harus mengakhirinya," tegasnya.
Dia menekankan, “Orang-orang kami yang terlibat dalam persiapan operasi berhasil keluar dari Rusia."
Analis militer tercengang oleh skala operasi Ukraina. “Tidak ada operasi intelijen di dunia yang pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya,” kata Serhii Kuzan, seorang pakar militer dan Ketua Pusat Keamanan dan Kerja Sama Ukraina saat ini.
“Pesawat pengebom Tu-95 dan Tu-22M3 adalah platform utama untuk meluncurkan rudal jelajah yang digunakan dalam misi konvensional dan nuklir," terangnya.
“Mereka merupakan bagian dari trad nuklir yang mendasar bagi negara adikuasa—yaitu mampu menyebarkan senjata nuklir di darat, di udara, dan di laut," imbuh dia.
Serangan tersebut, kata Frankopan, secara taktis brilian, signifikan secara militer untuk perang di Ukraina, tetapi juga memiliki konsekuensi bagi kemampuan Rusia yang lebih luas.
“Dan tentu saja, mereka juga mengirimkan pesan, yaitu peringatan kepada Moskow bahwa ilusi jarak tidak lagi menjadi jaminan keselamatan," katanya.
Dijulukui sebagai Pearl Harbour Rusia
Untuk mempersiapkan Operasi Jaring Laba-laba, Ukraina menyelundupkan ratusan pesawat nirawak yang mematikan melintasi perbatasan Rusia. Drone-drone tersebut, yang disembunyikan di kompartemen khusus di dalam truk pengangkut barang, kemudian dibawa ke beberapa lokasi yang terpisah ribuan kilometer satu sama lain. Drone-drone tersebut menembus hingga Siberia, sekitar 5.000 km dari Ibu Kota Ukraina, Kyiv.
Sasaran lainnya berada di Murmansk di Lingkaran Arktik, Ryazan di tenggara Moskow, dan Ivanovo di timur laut ibu kota Rusia.
Truk-truk tersebut melepaskan drone pada saat yang bersamaan, meluncurkannya ke pangkalan udara Rusia, tempat drone-drone tersebut menimbulkan kekacauan.
Tak lama kemudian, Dinas Keamanan Ukraina membanggakan bahwa Angkatan Udara Putin "terbakar secara massal".
Menurut militer Ukraina, 41 pesawat rusak atau pun hancur, termasuk pesawat pengebom Tu-95, yang membawa hingga delapan rudal Kh-101 dengan hulu ledak 400 kg dan jangkauan lebih dari 4.000 km. Ukraina merilis video pesawat-pesawat yang dihancurkan di landasan pacu.
“Hasil yang benar-benar brilian. Hasil yang dicapai hanya oleh Ukraina,” kata Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky setelah briefing dengan Jenderal Vasyl Maliuk, kepala Dinas Keamanan Ukraina.
“Satu tahun, enam bulan, dan sembilan hari dari awal perencanaan hingga pelaksanaan yang efektif. Operasi jarak jauh kami," paparnya.
“Tentu saja, tidak semuanya dapat diungkapkan saat ini, tetapi ini adalah tindakan Ukraina yang tidak diragukan lagi akan tercatat dalam buku sejarah. Ukraina membela diri, dan memang seharusnya begitu. Kami melakukan segalanya untuk membuat Rusia merasa perlu mengakhiri perang ini," lanjut Zelensky.
“Rusia memulai perang ini. Rusia harus mengakhirinya," tegasnya.
Dia menekankan, “Orang-orang kami yang terlibat dalam persiapan operasi berhasil keluar dari Rusia."
Analis militer tercengang oleh skala operasi Ukraina. “Tidak ada operasi intelijen di dunia yang pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya,” kata Serhii Kuzan, seorang pakar militer dan Ketua Pusat Keamanan dan Kerja Sama Ukraina saat ini.
Lihat Juga :