Iran Ancam Israel Jika Serang Situs Nuklir Teheran: 'Akan Ada Balasan Menghancurkan!'
Jum'at, 23 Mei 2025 - 06:07 WIB
loading...
A
A
A
Perundingan nuklir antara Iran dan AS yang dimediasi oleh Oman merupakan dialog tingkat tinggi pertama sejak Amerika Serikat secara sepihak menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015 (JCPOA) di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump pada tahun 2018.
Dalam perundingan kali ini, delegasi AS dilaporkan akan dipimpin oleh Steve Witkoff, tokoh dekat Trump yang dikenal sebagai negosiator ulung, serta Michael Anton dari Departemen Luar Negeri yang berperan dalam aspek teknis kesepakatan.
Isu pengayaan uranium menjadi titik krusial dalam negosiasi. Di bawah kesepakatan JCPOA, Iran hanya diizinkan memperkaya uranium hingga 3,67 persen untuk keperluan sipil. Namun, sejak keluarnya AS dari JPOA 2015, Iran meningkatkan pengayaan hingga 60 persen—sebuah angka yang mendekati level senjata nuklir (90 persen).
Presiden Trump menyatakan dalam lawatannya ke Qatar pekan lalu bahwa diplomasi adalah pilihan utamanya dan dia meyakini Iran telah menunjukkan kesediaan untuk memenuhi beberapa syarat utama. Namun, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memberikan sinyal bahwa posisi AS tetap keras.
“Iran tidak boleh memiliki kemampuan pengayaan, karena itu akan menjadikannya negara ambang nuklir,” ujar Rubio saat berbicara di hadapan Kongres.
Rubio juga menegaskan bahwa sanksi terkait terorisme dan program rudal balistik Iran—yang tidak dibahas secara eksplisit dalam JPOA 2015—akan tetap diberlakukan.
Peringatan dari Iran tidak berhenti di meja diplomasi. Pada hari yang sama, juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, Ali Mohammad Naini, menyampaikan ancaman militer langsung kepada Israel.
Dalam perundingan kali ini, delegasi AS dilaporkan akan dipimpin oleh Steve Witkoff, tokoh dekat Trump yang dikenal sebagai negosiator ulung, serta Michael Anton dari Departemen Luar Negeri yang berperan dalam aspek teknis kesepakatan.
Isu pengayaan uranium menjadi titik krusial dalam negosiasi. Di bawah kesepakatan JCPOA, Iran hanya diizinkan memperkaya uranium hingga 3,67 persen untuk keperluan sipil. Namun, sejak keluarnya AS dari JPOA 2015, Iran meningkatkan pengayaan hingga 60 persen—sebuah angka yang mendekati level senjata nuklir (90 persen).
Presiden Trump menyatakan dalam lawatannya ke Qatar pekan lalu bahwa diplomasi adalah pilihan utamanya dan dia meyakini Iran telah menunjukkan kesediaan untuk memenuhi beberapa syarat utama. Namun, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memberikan sinyal bahwa posisi AS tetap keras.
“Iran tidak boleh memiliki kemampuan pengayaan, karena itu akan menjadikannya negara ambang nuklir,” ujar Rubio saat berbicara di hadapan Kongres.
Rubio juga menegaskan bahwa sanksi terkait terorisme dan program rudal balistik Iran—yang tidak dibahas secara eksplisit dalam JPOA 2015—akan tetap diberlakukan.
Iran Isyaratkan Siap Perang
Peringatan dari Iran tidak berhenti di meja diplomasi. Pada hari yang sama, juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, Ali Mohammad Naini, menyampaikan ancaman militer langsung kepada Israel.
Lihat Juga :