Alasan 3 Negara Ini Tolak Gabung dengan BRICS
Rabu, 21 Mei 2025 - 19:05 WIB
loading...
Ada tiga negara yang menolak bergabung dengan BRICS. Foto/X/@spectatorindex
A
A
A
LONDON - Meskipun BRICS yang didirikan Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan telah menjadi sebuah aliansi ekonomi yang kuat dan berpengaruh di dunia, tidak semua negara segera menerima ajakan untuk bergabung.
Beberapa negara justru menunjukkan sikap skeptis atau bahkan menolak untuk menjadi bagian dari kelompok ini. Alasan di balik penolakan ini bervariasi, mulai dari pertimbangan politik hingga kebijakan ekonomi nasional yang berbeda.
Namun, keputusan Presiden Javier Milei mengubah segalanya. Ia secara resmi membatalkan rencana keikutsertaan Argentina, menyatakan bahwa negaranya belum "pantas" menjadi anggota penuh BRICS. Meski begitu, Milei menegaskan komitmennya untuk memperkuat kerja sama bilateral, terutama dalam perdagangan dan investasi.
Keputusan Argentina ini mencerminkan ketidakstabilan ekonomi dan politik yang sedang dialaminya. Inflasi melonjak hingga 150% dalam setahun, cadangan devisa menipis, dan utang pemerintah membengkak.
Lebih dari 40% penduduk hidup dalam kemiskinan, memperburuk situasi sosial-ekonomi negara tersebut. Pemerintahan Milei bahkan melakukan devaluasi peso lebih dari 50% sebagai bagian dari terapi kejut ekonomi.
Selain itu, kebijakan Milei menunjukkan pergeseran arah politik Argentina. Dengan wacana mengganti peso dengan dolar AS dan pendekatan yang lebih pro-Barat, ia tampak lebih memilih aliansi dengan Washington daripada Beijing.
Hal ini semakin memperjelas alasan penolakan Argentina terhadap BRICS, yang dianggap tidak sejalan dengan strategi ekonominya saat ini.
Baca Juga: Pakistan dan India Berperang, Kenapa China yang Menang?
Pernyataan ini sekaligus menegaskan bahwa Meksiko tidak akan menjadi bagian dari aliansi BRICS. Presiden Andrés Manuel López Obrador (AMLO) sebelumnya juga telah menegaskan hal serupa pada Agustus 2023.
Ia menekankan bahwa Meksiko lebih memprioritaskan persatuan di kawasan Amerika Utara dan benua Amerika secara keseluruhan. Alasannya mencakup faktor lingkungan, ekonomi, dan geopolitik yang membuat BRICS bukan pilihan strategis bagi negaranya.
BRICS sendiri awalnya dibentuk sebagai wadah kerja sama bagi negara-negara berkembang besar, seperti Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan. Pada 2023, kelompok ini memperluas keanggotaan dengan mengundang Mesir, Ethiopia, Iran, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi. Namun, Meksiko memilih untuk tetap independen dan tidak terlibat dalam blok ekonomi tersebut.
Kerajaan ini membutuhkan dukungan AS dan sekutu Barat lainnya untuk mewujudkan Visi 2030, agenda pembangunan ekonominya. Bergabung dengan BRICS justru dianggap dapat mengganggu hubungan strategis ini.
Selain itu, meninggalkan ketergantungan pada AS dinilai berisiko terhadap stabilitas ekonomi Arab Saudi. Negara ini bahkan berencana menginvestasikan USD600 miliar (sekitar Rp9.800 triliun) di AS dalam empat tahun ke depan.
Meski rincian investasi tersebut tidak diungkap secara detail, langkah ini menunjukkan komitmen Riyadh untuk mempertahankan kemitraan dengan Washington.
Penolakan Arab Saudi juga dipengaruhi oleh pengawasan ketat BRICS terhadap investasi di AS. Kelompok ini ingin menarik Saudi sebagai anggota, tetapi kepentingan ekonomi dan politik kerajaan lebih condong ke Barat.
Dengan demikian, meski sempat menjadi kandidat kuat, Arab Saudi memilih untuk tidak bergabung dengan BRICS demi menjaga kepentingan nasionalnya.
Beberapa negara justru menunjukkan sikap skeptis atau bahkan menolak untuk menjadi bagian dari kelompok ini. Alasan di balik penolakan ini bervariasi, mulai dari pertimbangan politik hingga kebijakan ekonomi nasional yang berbeda.
3 Negara yang Menolak Bergabung dengan BRICS
1. Argentina
Argentina awalnya termasuk dalam enam negara yang diundang bergabung dengan BRICS mulai 1 Januari 2024. Bersama Mesir, Iran, Ethiopia, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, negara ini seharusnya memperluas keanggotaan kelompok ekonomi tersebut.Namun, keputusan Presiden Javier Milei mengubah segalanya. Ia secara resmi membatalkan rencana keikutsertaan Argentina, menyatakan bahwa negaranya belum "pantas" menjadi anggota penuh BRICS. Meski begitu, Milei menegaskan komitmennya untuk memperkuat kerja sama bilateral, terutama dalam perdagangan dan investasi.
Keputusan Argentina ini mencerminkan ketidakstabilan ekonomi dan politik yang sedang dialaminya. Inflasi melonjak hingga 150% dalam setahun, cadangan devisa menipis, dan utang pemerintah membengkak.
Lebih dari 40% penduduk hidup dalam kemiskinan, memperburuk situasi sosial-ekonomi negara tersebut. Pemerintahan Milei bahkan melakukan devaluasi peso lebih dari 50% sebagai bagian dari terapi kejut ekonomi.
Selain itu, kebijakan Milei menunjukkan pergeseran arah politik Argentina. Dengan wacana mengganti peso dengan dolar AS dan pendekatan yang lebih pro-Barat, ia tampak lebih memilih aliansi dengan Washington daripada Beijing.
Hal ini semakin memperjelas alasan penolakan Argentina terhadap BRICS, yang dianggap tidak sejalan dengan strategi ekonominya saat ini.
Baca Juga: Pakistan dan India Berperang, Kenapa China yang Menang?
2. Meksiko
Meksiko secara tegas menyatakan tidak pernah berminat bergabung dengan BRICS. Melalui akun resmi Kementerian Luar Negeri di platform X, pemerintah Meksiko menjelaskan bahwa mereka tetap memantau perkembangan blok tersebut, tetapi fokus pada kerja sama ekonomi bilateral dengan negara-negara anggotanya.Pernyataan ini sekaligus menegaskan bahwa Meksiko tidak akan menjadi bagian dari aliansi BRICS. Presiden Andrés Manuel López Obrador (AMLO) sebelumnya juga telah menegaskan hal serupa pada Agustus 2023.
Ia menekankan bahwa Meksiko lebih memprioritaskan persatuan di kawasan Amerika Utara dan benua Amerika secara keseluruhan. Alasannya mencakup faktor lingkungan, ekonomi, dan geopolitik yang membuat BRICS bukan pilihan strategis bagi negaranya.
BRICS sendiri awalnya dibentuk sebagai wadah kerja sama bagi negara-negara berkembang besar, seperti Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan. Pada 2023, kelompok ini memperluas keanggotaan dengan mengundang Mesir, Ethiopia, Iran, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi. Namun, Meksiko memilih untuk tetap independen dan tidak terlibat dalam blok ekonomi tersebut.
3. Arab Saudi
Arab Saudi sempat menjadi salah satu negara yang diundang bergabung dengan BRICS, tetapi akhirnya menolak tawaran tersebut. Salah satu alasan utamanya adalah hubungan bisnis yang kuat dengan Amerika Serikat (AS).Kerajaan ini membutuhkan dukungan AS dan sekutu Barat lainnya untuk mewujudkan Visi 2030, agenda pembangunan ekonominya. Bergabung dengan BRICS justru dianggap dapat mengganggu hubungan strategis ini.
Selain itu, meninggalkan ketergantungan pada AS dinilai berisiko terhadap stabilitas ekonomi Arab Saudi. Negara ini bahkan berencana menginvestasikan USD600 miliar (sekitar Rp9.800 triliun) di AS dalam empat tahun ke depan.
Meski rincian investasi tersebut tidak diungkap secara detail, langkah ini menunjukkan komitmen Riyadh untuk mempertahankan kemitraan dengan Washington.
Penolakan Arab Saudi juga dipengaruhi oleh pengawasan ketat BRICS terhadap investasi di AS. Kelompok ini ingin menarik Saudi sebagai anggota, tetapi kepentingan ekonomi dan politik kerajaan lebih condong ke Barat.
Dengan demikian, meski sempat menjadi kandidat kuat, Arab Saudi memilih untuk tidak bergabung dengan BRICS demi menjaga kepentingan nasionalnya.
(ahm)
Lihat Juga :