Abbas akan Kunjungi Lebanon untuk Lucuti Senjata Faksi-faksi Perlawanan Palestina

Rabu, 07 Mei 2025 - 00:01 WIB
loading...
Abbas akan Kunjungi...
Presiden Palestina Mahmoud Abbas. Foto/press tv
A A A
RAMALLAH - Presiden Palestina Mahmoud Abbas akan mengunjungi Lebanon pada 19 Mei untuk mengumumkan pelucutan senjata faksi-faksi perlawanan Palestina, dengan kekerasan jika perlu.

Middle East Eye (MEE) mengungkapkan hal itu berdasarkan keterangan sumber-sumber Palestina dan Lebanon.

Menurut laporan MEE, Abbas akan melakukan perjalanan ke Beirut dalam kunjungan resmi untuk bertemu Presiden Lebanon Joseph Aoun dan pejabat tinggi lainnya.

Selama perjalanan tersebut, pemerintah Lebanon dan Abbas akan mengumumkan demiliterisasi cabang gerakan Fatah di Lebanon serta faksi-faksi Palestina lainnya yang bermarkas di kamp-kamp pengungsi di seluruh negeri.

Sumber-sumber mengatakan Abbas telah menyetujui rencana mengeluarkan senjata-senjata Fatah dari kamp-kamp tersebut.

Dia juga akan secara eksplisit meminta faksi-faksi Palestina lainnya yang berperang melawan Israel untuk melucuti senjata.

Jika kelompok-kelompok ini menolak, operasi militer akan menargetkan mereka yang menentang perintah pelucutan senjata negara Lebanon, menurut sumber-sumber tersebut.

Abbas diharapkan memberikan perlindungan politik untuk operasi semacam itu di bawah panji kepemimpinan Palestina.

Sumber Palestina mengatakan kepada MEE bahwa Abbas bermaksud membentuk komite keamanan yang bertugas mengawasi proses pelucutan senjata dan menetapkan jadwal yang jelas untuk penyerahan senjata.

Jika faksi-faksi tersebut gagal mematuhi arahan negara Lebanon dan keputusan Abbas, mereka akan kehilangan semua dukungan organisasi dan politik, dan akan rentan terhadap pelucutan senjata secara paksa.

Sumber-sumber tersebut juga mengungkapkan keputusan Abbas untuk melucuti senjata Fatah dan faksi-faksi lainnya mengikuti permintaan Arab Saudi, yang disampaikan melalui Menteri Luar Negeri Saudi Faisal bin Farhan Al Saud.

Kehadiran Bersejarah

Kelompok perlawanan Palestina tetap aktif di kamp-kamp pengungsi Lebanon karena pemindahan bersejarah dan marginalisasi politik yang sedang berlangsung.

Setelah pembentukan Israel pada tahun 1948 dan perang Arab-Israel berikutnya, sekitar 750.000 warga Palestina diusir dari rumah mereka, dengan banyak yang mencari perlindungan di Lebanon.

Seiring berjalannya waktu, kelompok-kelompok seperti Fatah, dan kemudian Hamas dan Front Populer untuk Pembebasan Palestina (PFLP), membangun kehadiran di kamp-kamp tersebut untuk melanjutkan perlawanan mereka terhadap Israel.

Pengungsi Palestina di Lebanon masih ditolak hak-hak sipil dasar, termasuk akses ke banyak profesi dan hak untuk memiliki properti.

Dengan kesempatan yang terbatas, beberapa dari mereka bergabung dengan faksi-faksi bersenjata untuk mendapatkan perlindungan, mata pencaharian, atau perwakilan politik.

Warga Palestina di Lebanon juga membawa kenangan akan pembantaian Sabra dan Shatila tahun 1982, ketika milisi Kristen Lebanon yang didukung Israel membunuh antara 800 dan 3.500 warga sipil, sebagian besar adalah wanita, anak-anak, dan orang tua.

Langkah melucuti senjata faksi-faksi tersebut dipandang sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk membentuk kembali lanskap politik Lebanon di tengah kemunduran militer Hizbullah menyusul serangan Israel yang memenggal sebagian besar kepemimpinannya pada tahun 2024.

Kunjungan Abbas dilakukan tak lama setelah badan keamanan tertinggi Lebanon mengeluarkan peringatan kepada Hamas pada tanggal 2 Mei, mengancamnya dengan "tindakan paling keras" jika melancarkan serangan terhadap Israel dari wilayah Lebanon.

Pernyataan tersebut, yang disampaikan Dewan Pertahanan Tinggi, menyusul serangkaian penangkapan tersangka Lebanon dan Palestina yang diduga terlibat dalam serangan roket lintas batas yang menargetkan Israel utara dalam beberapa pekan terakhir.

"Hamas dan faksi-faksi lain tidak akan dibiarkan membahayakan stabilitas nasional," ujar Brigadir Jenderal Mohammed al-Mustafa, saat membacakan komunike resmi dewan.

"Keamanan wilayah Lebanon adalah yang terpenting," papar dia.

Seruan untuk pelucutan senjata Palestina di Lebanon bukanlah hal baru. Perjanjian ini bermula pada tahun 1980-an, ketika parlemen Lebanon membatalkan Perjanjian Kairo 1969, yang telah meresmikan kehadiran militer PLO di negara tersebut.

Ditandatangani Yasser Arafat dan pemerintah Lebanon di bawah mediasi Mesir, perjanjian tersebut memberikan PLO hak melawan pendudukan Israel dari wilayah Lebanon selama hampir dua dekade.

Abbas semakin vokal dalam mengkritik kelompok perlawanan Palestina, bahkan saat perang Israel di Gaza, yang digambarkan Amnesty International sebagai "genosida yang disiarkan langsung", terus berlanjut.

Presiden berusia 89 tahun tersebut, yang baru-baru ini menunjuk Hussein al-Sheikh sebagai wakil presiden dan calon penggantinya, baru-baru ini mengecam Hamas sebagai "anak-anak anjing" dan menuntut kelompok tersebut menyerah dan membebaskan semua tawanan yang ditahan di Gaza.

Abbas juga menuduh Hamas memberi Israel dalih untuk melanjutkan serangannya di Gaza.

Sebanyak 52.535 warga Palestina telah tewas dalam genosida Israel di Gaza sejak Oktober 2023, menurut Kementerian Kesehatan Palestina.

Dalam 24 jam terakhir saja, serangan Israel menewaskan 40 orang dan melukai 125 orang, sehingga jumlah total yang terluka menjadi 118.491 orang.

Baca juga: Eks Sandera: Saya Merasa Lebih Aman di Tahanan Hamas daripada di Israel
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
PBB Perkirakan Pembersihan...
PBB Perkirakan Pembersihan Puing-puing Gaza Perlu Waktu Lebih dari 140 Tahun
Pemerintah Suriah Terbuka...
Pemerintah Suriah Terbuka untuk Bertemu Hizbullah
Israel Ngotot Tempatkan...
Israel Ngotot Tempatkan Pasukannya di Lebanon, Suriah, dan Gaza Tanpa Batas Waktu
Kiper Palestina Saleem...
Kiper Palestina Saleem Al-Ashqar Tewas Dibunuh Tentara Israel di Gaza
Dunia Fokus ke Iran,...
Dunia Fokus ke Iran, Israel Justru Percepat Perebutan Lahan di Gaza dan Tepi Barat
Jelang Pemilu, Netanyahu...
Jelang Pemilu, Netanyahu Ngotot Usir Warga Palestina dari Gaza
Dubes Iran Tegas Tolak...
Dubes Iran Tegas Tolak Gencatan Senjata di Gaza: Palestina Harus Dibebaskan!
Laporan Media: Iran...
Laporan Media: Iran - AS Sepakat Hentikan Serangan, Gelar Pertemuan Darurat di Qatar
Menakjubkan! Detik-Detik...
Menakjubkan! Detik-Detik Danau Kawah Gunung Filipina Meletus Dahsyat, Picu Tsunami
Rekomendasi
Jelang Pernikahan Taylor...
Jelang Pernikahan Taylor Swift, Sejumlah Selebriti Mulai Berdatangan ke New York
Gempa M6,2 Guncang Pulau...
Gempa M6,2 Guncang Pulau Doi Maluku, BMKG: Waspada Gempa Susulan
Gempa M6,2 Guncang Pulau...
Gempa M6,2 Guncang Pulau Doi Maluku Utara, Begini Analisa BMKG
Berita Terkini
5 Pemimpin Muslim yang...
5 Pemimpin Muslim yang Jenazahnya Diawetkan sebelum Dimakamkan, Ali Khamenei Paling Lama
Ketika Uang Negara Rp35.914...
Ketika Uang Negara Rp35.914 Triliun Lenyap Dikorupsi sejak 2003
Mojtaba Disebut Tak...
Mojtaba Disebut Tak Akan Hadiri Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei, Ini Alasannya
Komika Turki Ditangkap...
Komika Turki Ditangkap atas Tuduhan Menghina Islam dan Erdogan
Jerman Berani Menolak...
Jerman Berani Menolak Loyal pada AS: 'Sesama Anggota NATO Jangan Mendikte!'
Ledakan Bom Guncang...
Ledakan Bom Guncang Kafe di Ibu Kota Suriah, 9 Orang Tewas, Mayat-mayat Tergeletak
Infografis
Sensus Ekonomi 2026:...
Sensus Ekonomi 2026: Data untuk Memperkuat UMKM dan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved