Kata-kata Wasiat Paus Fransiskus tentang Gaza dan Genosida oleh Israel
Selasa, 22 April 2025 - 19:15 WIB
loading...
A
A
A
Dibuat oleh seniman Palestina dari Betlehem, adegan tersebut menyertakan Bintang Betlehem yang ditulis dalam bahasa Latin dan Arab dengan kata-kata, "Kemuliaan bagi Tuhan di tempat yang mahatinggi, dan damai di bumi, niat baik bagi semua orang."
Figur Keluarga Kudus diukir dari kayu zaitun, yang selanjutnya menghubungkan pajangan tersebut dengan tempat asalnya.
Pada tanggal 21 Desember 2024, Paus Fransiskus mengkritik pemboman anak-anak di Gaza, menggambarkannya sebagai tindakan "kekejaman."
Pernyataan tersebut menyusul laporan dari badan penyelamat Pertahanan Sipil Gaza bahwa serangan udara Israel di wilayah utara pada hari Jumat menewaskan 10 anggota keluarga, termasuk tujuh anak-anak.
“Kemarin mereka tidak mengizinkan Patriark (Yerusalem) masuk ke Gaza seperti yang dijanjikan. Kemarin, anak-anak dibom. Ini kekejaman, ini bukan perang,” tegas dia kepada anggota pemerintahan Takhta Suci, seraya menambahkan, “Saya ingin mengatakannya karena ini menyentuh hati saya.”
Pada tanggal 23 Maret, dari jendela rumah sakit Gemelli di Roma, Paus Fransiskus tampil pertama kali di depan publik dalam lima pekan, menyapa lebih dari 3.000 simpatisan yang berkumpul dengan membawa bunga dan spanduk bertuliskan “selamat datang di rumah”.
Meskipun masih dalam tahap pemulihan, Paus menggunakan momen tersebut untuk menyerukan perdamaian, karena pesannya pada hari Minggu difokuskan pada perang genosida yang sedang berlangsung di Gaza.
Merenungkan hari itu, Paus menarik perhatian pada penderitaan di Palestina dan di zona konflik di seluruh dunia.
“Saya sedih dengan dimulainya kembali pemboman besar-besaran Israel di Jalur Gaza, yang menyebabkan banyak kematian dan cedera,” tulis dia.
Paus Fransiskus memperingatkan tentang krisis kemanusiaan yang “sangat serius” di Gaza dan mendesak masyarakat internasional bertindak cepat guna meringankan penderitaan.
Hanya beberapa jam sebelum meninggal, pada hari Minggu Paskah, Paus Fransiskus menyampaikan pesan Urbi et Orbi—“kepada kota dan dunia”—yang berfokus pada Tanah Suci, yang ia gambarkan sebagai “terluka oleh konflik” dan dicengkeram oleh “ledakan kekerasan yang tak berkesudahan.”
Paus menyatakan solidaritas khusus dengan masyarakat Gaza dan komunitas Kristen di sana, di mana “konflik yang mengerikan terus menyebabkan kematian dan kehancuran serta menciptakan situasi kemanusiaan yang dramatis dan menyedihkan.”
“Saya mohon sekali lagi, untuk segera melakukan gencatan senjata di Jalur Gaza,” ungkap Paus.
Paus mendesak masyarakat internasional untuk mengambil tindakan dan “memberikan bantuan kepada masyarakat yang kelaparan yang mendambakan masa depan yang damai.”
Baca juga: Paus Fransiskus Wafat usai Sampaikan Pidato Terakhir Serukan Diakhirinya Perang di Gaza
Figur Keluarga Kudus diukir dari kayu zaitun, yang selanjutnya menghubungkan pajangan tersebut dengan tempat asalnya.
Ini Kekejaman, Bukan Perang
Pada tanggal 21 Desember 2024, Paus Fransiskus mengkritik pemboman anak-anak di Gaza, menggambarkannya sebagai tindakan "kekejaman."
Pernyataan tersebut menyusul laporan dari badan penyelamat Pertahanan Sipil Gaza bahwa serangan udara Israel di wilayah utara pada hari Jumat menewaskan 10 anggota keluarga, termasuk tujuh anak-anak.
“Kemarin mereka tidak mengizinkan Patriark (Yerusalem) masuk ke Gaza seperti yang dijanjikan. Kemarin, anak-anak dibom. Ini kekejaman, ini bukan perang,” tegas dia kepada anggota pemerintahan Takhta Suci, seraya menambahkan, “Saya ingin mengatakannya karena ini menyentuh hati saya.”
Akhiri Pengeboman Besar-besaran
Pada tanggal 23 Maret, dari jendela rumah sakit Gemelli di Roma, Paus Fransiskus tampil pertama kali di depan publik dalam lima pekan, menyapa lebih dari 3.000 simpatisan yang berkumpul dengan membawa bunga dan spanduk bertuliskan “selamat datang di rumah”.
Meskipun masih dalam tahap pemulihan, Paus menggunakan momen tersebut untuk menyerukan perdamaian, karena pesannya pada hari Minggu difokuskan pada perang genosida yang sedang berlangsung di Gaza.
Merenungkan hari itu, Paus menarik perhatian pada penderitaan di Palestina dan di zona konflik di seluruh dunia.
“Saya sedih dengan dimulainya kembali pemboman besar-besaran Israel di Jalur Gaza, yang menyebabkan banyak kematian dan cedera,” tulis dia.
Paus Fransiskus memperingatkan tentang krisis kemanusiaan yang “sangat serius” di Gaza dan mendesak masyarakat internasional bertindak cepat guna meringankan penderitaan.
Pesan Paskah
Hanya beberapa jam sebelum meninggal, pada hari Minggu Paskah, Paus Fransiskus menyampaikan pesan Urbi et Orbi—“kepada kota dan dunia”—yang berfokus pada Tanah Suci, yang ia gambarkan sebagai “terluka oleh konflik” dan dicengkeram oleh “ledakan kekerasan yang tak berkesudahan.”
Paus menyatakan solidaritas khusus dengan masyarakat Gaza dan komunitas Kristen di sana, di mana “konflik yang mengerikan terus menyebabkan kematian dan kehancuran serta menciptakan situasi kemanusiaan yang dramatis dan menyedihkan.”
“Saya mohon sekali lagi, untuk segera melakukan gencatan senjata di Jalur Gaza,” ungkap Paus.
Paus mendesak masyarakat internasional untuk mengambil tindakan dan “memberikan bantuan kepada masyarakat yang kelaparan yang mendambakan masa depan yang damai.”
Baca juga: Paus Fransiskus Wafat usai Sampaikan Pidato Terakhir Serukan Diakhirinya Perang di Gaza
(sya)
Lihat Juga :